Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2023

(Bukan) Keabadian

Gambar
  sumber: pinterest “ Sebab racun akan luruh bersama asmaraku yang membara liar.” Tidur Julia dua hari lalu dikira mati membeku. Kesengsaraan menggerayang dari kaki yang berpeluk tubuh dingin Roma. Rambut Julia, mengurai pada wajah beraroma kesetiaan sebab itu ia biarkan tidurnya berumur panjang.   “Roma dan Julia telah tiada; cinta mereka abadi di tangan dewa!”   Esoknya mereka ditempatkan di runi. Penuh dengan bunga-bunga dan lambang-lambang kesetiaan—kesatuan—keabadian. Ratu yang marah lalu berdiam diri di singgasana.   “Cintakulah yang paling abadi. Mengapa kau mencintai pemuda yang membuatmu mangkat? Mengapa, cinta? mengapa cinta memutus kasih ibu pada anaknya?”

Di Kamarku

Gambar
  sumber: pinterest Rembulan mengintip celah jendela Mendengar kabar tipis angin subuh Suratnya datang dengan menggigil Di sudut ruangan hatiku beku   Malam tak lagi jadi panjang Jangkrik hilang ditelan fajar. Lalu kupu-kupu bersolek di atap-atap rumah. Seperti aku Teratai yang malu-malu terganti amarilis yang percaya diri   Kamarku tuli dan meradang Sebab benang merah habis mencekik. Dari jari yang pernah menutup atap-atap rumah. Juga lubang-lubang kesepian yang akan kembali kita telan.

Ra'il

Gambar
  sumber: pixabay Kadang-kadang Aku ingin memegang pipimu Yang seperempat wajahnya Ditiup dari bulan yang penuh   Pernah suatu hari Aku menyentuh punggungmu Tapi bajumu malah robek Menyilang dari punggung atas ke bawah   Pernah pula suatu hari Kukunci kau dalam kelambu putih Beraroma mawar dengan bumbu erotis Bukan. Bukan semata sensualitas Pun ketika kau berjalan Aroma tubuhku kau bawa hingga ke pasar-pasar   “Tubuhmu itu haus bernafsu!” Mungkin begitu kata orang-orang Mendengar deru napasku, membangunkan nafsu. Mencekik leher juga tulang-tulang   Memang ada yang lebih arif? Dibanding menghantarkan kasih penuh gairah Pada kasur-kasur. Juga mimpi-mimpi Daripada merebah dan berpeluk dada Atau dengan kecupan di tengkuk manja     Yogyakarta, 09/08/2022

Ia Tetaplah Seorang Ibu

Gambar
  sumber: pinterest Dengan rasa ragu, Lena mengirimkan secarik kertas berwarna putih. Setelah semalam ia biarkan kertas itu tergeletak diatas meja kamarnya, akhirnya tidak ada alasan lain lagi untuk tidak mengirimkannya. Kini rasa takut dan khawatir menyelimutinya, bagaimana jika kata-kata yang ia coret tidak dapat mewakili rasa bersalahanya yang luar biasa? Bagaimana jika penerimanya tidak bisa memahami penyesalannya? Bagaimana jika ia semakin memperkeruh suasana? Sebenarnya bukan pertama kali Lena mengirim secarik kertas. Hanya saja, baru kali ini tulisan dalam kertas menunjukkan rasa sesal dan maafnya. Sepertinya, malam ini ia tidak akan pulang ke rumah—menghabiskan waktu di depan kantor pos untuk menanyakan ratusan surat sebelumnya. Meskipun ia sudah tahu jawabannya, tidak ada. *** Menjadi seorang Ibu bukanlah perkara yang mudah. Lebih tepatnya, mungkin aku gagal. Aku masih ingat ketika sosok itu meninggalkan bekas sepatu pada tanah basah hujan semalaman. Masih ingat betu...

Lembar Terakhir

Gambar
  Sumber: pinterest Saat itu usiaku 12 tahun. Usia di mana laci-laciku berisi komik-komik kartun kesayanganku, Sinchan dan Paman Gober. Lalu, dinding-dinding kamarku penuh dengan guntingan karakter-karakter favoritku dari majalah Bobo. Satu lagi, tumpukan buku Lima Sekawan yang dibelikan Ibu setiap aku berhasil mendapatkan nilai terbaik pada saat ulangan harian—memenuhi meja belajarku. Menjelang usia 14 tahun, Ibu membelikanku buku terjemahan. Novel terjemahan yang pertama kali kubaca pada saat itu adalah Le Petit Prince, karya Antoine de Saint Exupery. Novel itu mampu mengubah sosok kekanak-kanakan yang tersembunyi dalam bilik tubuhku—mengubah presepsiku tentang orang-orang dewasa—dan menumbuhkan gairah-gairahku pada bacaan yang serupa. Seterusnya, aku tumbuh dengan buku-buku dalam sisiku. Jika aku membawa barang di tangan kanan, maka buku akan ada di tangan kiri; jika aku membawa barang di tangan kiri, maka buku akan ada di tangan kanan; jika aku membawa barang dengan kedua ...

Bardi

Gambar
sumber: pinterest Ia tidak pernah habis pikir bahwa celana dalam yang ia bawa kemarin lagi-lagi membuat wajahnya memar. Pikirnya, kenapa orang-orang dengan baju klinyit dan necis itu selalu meludahi, mengolok, dan tidak segan memukulnya dengan sapu atau menakutinya dengan parang? Padahal, naluriahnya sebagai orang gila bukanlah hal yang dosa di mata Tuhan. Terakhir kali, ia melewati pematang sawah dengan sandal milik Yatmi—tetangga desa sebelah yang baru saja beli di toko kelontong. Karena ia tahu bahwa Yatmi dan suaminya berteriak dari belakang, “Bardi! Asu kowe !” Bardi langsung ngibrit dengan celananya yang bolong di bagian belakang dan bagian atas tubuhnya telanjang dada. Orang-orang bisa melihat punggungnya diisi dengan bekas-bekas sulutan rokok—dari orang-orang yang merasa merugi dengan segala polah nya. “Bardi-bardi, mesakke ibumu, lee .” Begitulah kira-kira kalimat yang ia dengar dari berbagai penghuni kampung. Katanya, ibunya yang bernama Marsinah itu harus bersabar me...

Ulasan Kangen - WS. Rendra

Gambar
  sumber: kompas.com Kangen WS. Rendra Kau tak akan mengerti  Bagaimana kesepianku  Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta Kau tak akan mengerti Segala lukaku Karena luka telah sembunyikan pisaunya Membayangkan wajahmu adalah siksa. Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan. Engkau telah menjadi racun dalam darahku. Apabila aku dalam kangen Dan sepi itulah berarti Aku tungku tanpa api. WS Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Penyair ini memiliki julukan “Burung Merak”. Dalam berkarya, WS. Rendra telah menghasilkan sajak-sajak indah. Uniknya, sajak-sajaknya muncul karena terinspirasi dari istri yang merupakan cinta pertamanya. Salah satu puisinya yang terkenal adalah yang berjudul Kangen. Setelah membaca puisi tersebut, saya menduga bahwa puisi Kangen merupakan curahan hati penyair yang merindukan keberadaan seseorang dalam kesendirian. Terbukti dalam setiap baitnya, penyair merasakan sepi, hampa, dan sakit yang dirasa. Pada bait pertama, saya menyi...