Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

Aku adalah Kau

Gambar
  sumber: pixabay Aku adalah air Yang kalau kau ingin Kusirami tubuh keringmu Hingga bunga tumbuh dari bahumu   Kau hampir mati Ah! Jangan dulu Penderitaanmu belum selesai Tangisanmu belum surut   Aku adalah kau Jiwa-jiwa mati Belas kasihan tidak berarti Sirami saja tubuhmu sendiri   Yogyakarta, 01/06/2022

Laut

Gambar
  sumber: pixabay Hari ini laut bersamamu Airnya ada di dahi. Sesekali menetes Kulitnya pasir putih. Sedang Matanya biru berkedip   Di belakang Matahari adalah punggungmu Menutupiku yang kecil. Sedang Kakiku menari Menyapu pasir di punggung kakimu   Esoknya, laut bersamaku Airnya ada di mata. Melayang turun Menari-nari. Di punggung kaki Menyapu pasir juga sisa-sisa   Yogyakarta, 27/07/22

Patah Arang

Gambar
  sumber: pixabay Barangkali kau tidak temukan aku dalam keseharianmu Aku menjelma menjadi garis-garis dindingmu Atau menjadi lampu kamarmu Atau menjadi senar pada gitarmu Apapun itu, itu aku   Dalam sisimu, Aku menjadi garis-garis bayang Sampai nanti, Waktu kian menipis Penyembuhan itu milikmu Duri dalam diriku sudah habis Melelahkan terus melankolis   Barangkali kau minta pertanggungjawaban Aku pernah menjelma menjadi ladang Agar kau dapat menabur bunga Tetapi kau menaburnya di talun

Pada Sudut Pandang Lain

Gambar
  sumber: pixabay Ada yang terjaga sepanjang malam Berdiri lagi memirsa Berasal dari tubuh-tubuh yang telah diadili. Yang mangkat dari murka bengis.   Mereka merajuk. Juga marah pada sesama Mengapa pula masih ada tangisan-tangisan. Juga ronta yang bertunak, tidak bermusim.   Mereka kini mencari Pada gedung-gedung tinggi Dengan dinding-dinding palsu Beraroma caruk. Dan sarat akan tipu daya Di sanalah terletak kebebasan lain — Yang bukan merdeka.   Sedang dalam keramaian lain ada yang terus menelan keharaman. Memakan nurani terus melabeli diri dengan suci ucapannya panas lagi lugas, — kita sudah merdeka.   Sedang dalam kesunyian lain ia rebahkan diri pada pangkuan ibu nyalinya redup sebab jiwanya mati. Sehingga Ia letakkan hidupnya Pada kebahagiaan kecil dan sederhana —Kapan kita merdeka?

Anak-anak Burung

Gambar
  sumber: pxabay Hujan turun rintik-rintik Membuat burung dan kawanannya menepi Takut kalau sayapnya basah Juga jerami yang digenggamnya patah   Angin yang tipis Datang sebagai pemanis Mengguncang ranting dan dedaunan Membuat tubuh-tubuh kecil—juga anyar, berpeluk Sebab dingin telah merembet Hingga rawan akan roboh   Pada suatu terang dan tenang Ia bersiap melaju Mengepakkan sayap dari atas ke bawah Membawa harapan baru Bagi tubuh-tubuh kembarnya yang kecil   Berputar-putarlah ia Sebab rumah telah lenyap. Juga Harapan pada ranting yang tertoreh   Hujan datang lagi. Deras Menggenang anak-anak kukila yang dingin Sebab Ibu berada di pengasingan lain

Ada Nyawa di Sisa-sisa

Gambar
  sumber: pixabay Gigil tubuh kelesah di atas kasur. Kabar kematian berlang-lang hidup di pikiran. Sudah tujuh hari tubuhnya dikurung waktu, menyendiri dari bangku sekolah. Tambah berpisah dengan bahasa Ibu Ayah. Menunggu sakit lesap dari paru. Dari banyak kesengsaraan, hingga terjebak dalam lubang kesepian, hati anak nyenyat tidak berjumpa kata juga paragraf pembelajaran. Terakhir, anak dikirim surat mengandung perintah karantina setengah bulan lamanya. Si anak sesak di dalam. Panas menguar dipangkuan. Juga aroma hampa sebab buah kehilangan rasanya. i Ini hari kesembilan Gelora kehidupan tenggelam Kerongkongan menampung batuk-batuk Jarak ajal sebatas dinding harapan tipis   “Kepada bahasa Ibu Ayah, kematian tidak tahu perhitungan. Pun dengan sisa tubuh sepiku.”   ii Si anak menghidupkan kotak radiasi yang menjamur. Semacam panggilan barangkali tubuhnya akan kaku dengan ngengat diujung kuku. Dengan tubuh teklok. Dibumbu cahaya rawi be...

Analisis Puisi Keranda karya Joko Pinurbo

Gambar
  sumber: pixabay Keranda   Ranjang meminta kembali tubuh yang pernah dilahirkan dan diasuhnya dengan sepenuh cinta.   “Semoga anakku yang pemberani, yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan, menemukan jalan untuk pulang; pun jika aku sudah lapuk dan karatan.”   Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara. Kalaupun sesekali datang, ia datang hanya untuk menabung luka.   Dan ketika akhirnya pulang, ia sudah mayat tinggal rangka.   Bagai si buta yang renta dan terbata-bata ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!”   Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.”   (1996)   1.       Analisis Puisi Keranda a.       Makna Puisi Jika dilihat secara keseluruhan, puisi “Keranda” sering menggunakan kata-kata kiasan atau konotasi. Dari judulnya, ‘Keranda’ yang digunakan penulis bukanlah makna keranda seperti tempat m...

Nyanyian Pohon-pohon

Gambar
  sumber: pngtree Ada sebuah kisah yang pernah diceritakan kepadaku. Tentang hutan, di mana pohon-pohonnya mengeluarkan suara aneh dan bising setiap waktu. Saat matahari terbit, suaranya terdengar sampai ke sisi timur. Saat anak-anak kukila berseru memanggil induknya, pohon-pohon tak mau kalah untuk mengeluarkan suaranya. Suara itu nyaring dan melengking, nyaris membuat dahan-dahannya runtuh dan merebah di tanah bebatuan. Kalau saja Simba—sang raja hutan tidak memberitahuku tentang hutan dan pohon-pohon itu, mungkin saja saat ini aku masih bertanya-tanya tentang suara-suara yang hampir memekakkan kedua telingaku yang panjang. Waktu itu, aku ingat betul bagaimana sulitnya melewati sungai untuk menemui pohon-pohon itu dengan tubuhku yang kecil. Semakin aku mendekat ke wilayahnya, suara-suara pohon itu semakin keras dan mendengung di kepalaku. Akan tetapi, setelah mendengarnya dengan seksama, suara itu bukanlah nyanyian-nyanyian yang sering manusia-manusia elu-elukan di televisi seb...