Ada Nyawa di Sisa-sisa

 

sumber: pixabay

Gigil tubuh kelesah di atas kasur. Kabar kematian berlang-lang hidup di pikiran. Sudah

tujuh hari tubuhnya dikurung waktu, menyendiri dari bangku sekolah. Tambah berpisah

dengan bahasa Ibu Ayah. Menunggu sakit lesap dari paru. Dari banyak kesengsaraan, hingga

terjebak dalam lubang kesepian, hati anak nyenyat tidak berjumpa kata juga paragraf

pembelajaran. Terakhir, anak dikirim surat mengandung perintah karantina setengah bulan

lamanya. Si anak sesak di dalam. Panas menguar dipangkuan. Juga aroma hampa

sebab buah kehilangan rasanya.

i

Ini hari kesembilan

Gelora kehidupan tenggelam

Kerongkongan menampung batuk-batuk

Jarak ajal sebatas dinding harapan tipis

 

“Kepada bahasa Ibu Ayah, kematian tidak tahu perhitungan.

Pun dengan sisa tubuh sepiku.”

 

ii

Si anak menghidupkan kotak radiasi yang menjamur. Semacam panggilan barangkali

tubuhnya akan kaku dengan ngengat diujung kuku. Dengan tubuh teklok. Dibumbu cahaya

rawi berselingkung sebab jendela berdamai dengan debu. Dari gawai yang kian menjamur, anak menerima pesan kawan sebaya. Berisi narasi panjang. Mengandung pembelajaran

yang disuka. Si anak teringat pesan bahasa Ibu Ayah. Bangku sekolah harus tinggi meski

sedalam Mariana sepi mendera.

iii

Esoknya,

jamur  di gawainya mengering.

Suara pengajaran keluar dari aplikasi

Mengisi tubuh kering yang lama

haus aroma hawa bijaksana.

 

Tubuh lemau

Didorong rawi ke arah barat

Pertanda malam akan diangkat

 

Pada saat itu,

tengkuk kian menunduk.

Ibu-ibu jari kembung minum kata-kata

Yang disusun dari mendengar dan membaca

Diletakkan pada halaman berkelir

Dihubungkan dengan rambu jagat maya

iv

Dua hari tersisa. Tenggorokan lepas dari paku. Harum aroma menusuk hidung. Menjelma manis di rongga mulut.  Debu-debu lesap ditelan hujan semalam. Pohon kering, mencipta tunas di tampuk. Tubuh si anak segar di ruangan. Meski badai tidak turun penuh dari      tubuh yang telanjur beku, si anak merasa anyar dan berkah. Bungah hati bertemu kata        dan paragraf pembelajaran. Pada ruang wujud baru. Serta menahan nyawa dari kemalangan, yang pernah merenggut bahasa Ibu Ayah.

v

Daun segar ditiup angin sampai ke kaki

Membawa ribang yang bertalian di kebun. Juga

obrolan Khalik soal anak Adam yang

masih diberi nikmat roh surgawih.

 

Sebab itu anak pulang ke halaman

Meski bukan halaman Ibu Ayah

Anak masih punya bahasa Nenek

Membawa asa yang terbentuk dan siap dikunyah,

oleh gawai yang berselimut bijaksana.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan