Ada Nyawa di Sisa-sisa
Gigil tubuh kelesah di atas kasur. Kabar kematian berlang-lang hidup
di pikiran. Sudah
tujuh hari tubuhnya dikurung waktu, menyendiri dari bangku sekolah.
Tambah berpisah
dengan bahasa Ibu Ayah. Menunggu sakit lesap dari paru. Dari banyak
kesengsaraan, hingga
terjebak dalam lubang kesepian, hati anak nyenyat tidak berjumpa
kata juga paragraf
pembelajaran. Terakhir, anak dikirim surat mengandung perintah
karantina setengah bulan
lamanya. Si anak sesak di dalam. Panas menguar dipangkuan. Juga
aroma hampa
sebab buah kehilangan rasanya.
i
Ini hari kesembilan
Gelora kehidupan tenggelam
Kerongkongan menampung batuk-batuk
Jarak ajal sebatas dinding harapan tipis
“Kepada bahasa Ibu Ayah, kematian tidak tahu perhitungan.
Pun dengan sisa tubuh sepiku.”
ii
Si anak menghidupkan kotak radiasi yang menjamur. Semacam panggilan
barangkali
tubuhnya akan kaku dengan ngengat diujung kuku. Dengan tubuh teklok.
Dibumbu cahaya
rawi berselingkung sebab jendela berdamai dengan debu. Dari gawai yang
kian menjamur, anak menerima pesan kawan sebaya. Berisi narasi panjang. Mengandung
pembelajaran
yang disuka. Si anak teringat pesan bahasa Ibu Ayah. Bangku sekolah
harus tinggi meski
sedalam Mariana sepi mendera.
iii
Esoknya,
jamur di gawainya mengering.
Suara
pengajaran keluar dari aplikasi
Mengisi
tubuh kering yang lama
haus aroma hawa bijaksana.
Tubuh
lemau
Didorong
rawi ke arah barat
Pertanda
malam akan diangkat
Pada
saat itu,
tengkuk
kian menunduk.
Ibu-ibu
jari kembung minum kata-kata
Yang
disusun dari mendengar dan membaca
Diletakkan
pada halaman berkelir
Dihubungkan
dengan rambu jagat maya
iv
Dua hari tersisa. Tenggorokan lepas dari paku. Harum aroma menusuk
hidung. Menjelma manis di rongga mulut. Debu-debu
lesap ditelan hujan semalam. Pohon kering, mencipta tunas di tampuk. Tubuh si
anak segar di ruangan. Meski badai tidak turun penuh dari tubuh yang telanjur beku, si anak merasa anyar
dan berkah. Bungah hati bertemu kata dan paragraf pembelajaran. Pada ruang wujud
baru. Serta menahan nyawa dari kemalangan, yang pernah merenggut bahasa Ibu
Ayah.
v
Daun segar ditiup angin sampai ke
kaki
Membawa ribang yang bertalian di kebun.
Juga
obrolan Khalik soal anak Adam yang
masih diberi nikmat roh surgawih.
Sebab itu anak pulang ke halaman
Meski bukan halaman Ibu Ayah
Anak masih punya bahasa Nenek
Membawa asa yang terbentuk dan siap dikunyah,
oleh gawai yang berselimut
bijaksana.

Komentar
Posting Komentar