Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan

 

(dokumentasi pribadi)

Daerah Istimewa Yogyakarta selalu memberikan kesan terbaik dari setiap sudut kotanya. Setiap daerah di Yogyakarta memiliki kesan sendiri yang dapat dilihat dari ciri khas makanan, budaya, dan objek wisata yang ada. Pada kesempatan kali ini, saya menghadirkan salah satu wisata alam baru yang ada di daerah Sleman, Yogyakarta. Meskipun wisata ini tidak seperti wisata lain yang menyediakan fasilitas tertentu, tetapi keberadaannya memberikan kesan rilex dan fresh bagi siapapun yang ingin menghilangkan penat. Objek wisata ini adalah Embung Kladuan UII 2.

Embung Kladuan UII 2 merupakan objek wisata alam yang terletak di Jalan Moh. Hatta, Lodadi, Umbulmartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dibangun oleh BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Serayu Opak, dinamakan Embung Kladuan UII 2 karena sebelumnya, telah dibuat Embung UII 1 (Pelang) yang jaraknya sekitar 750 meter dari Embung Kladuan UII 2.

            Pada awal pembukaan Embung Kladuan UII 2 tahun 2020 lalu, ramai orang berdatangan untuk mengambil gambar dan menikmati pemandangan yang ada. Terdapat jembatan melintang di selatan embung yang menghubungkan          jalan  desa Lodadi sebelah timur dengan wilayah dalam kampus UII sebelah barat. Jembatan yang memiliki pembatas biru kuning inilah beberapa pengunjung menikmati view Gunung Merapi yang biasanya terlihat pada pagi hari. Tidak jauh dari Embung Kladuan UII 2 berada, terdapat candi yang bernama Candi Kimpulan. Candi ini ditemukan pada saat penggalian lahan yang akan dibangun untuk gedung perkuliahan. Adanya candi ini turut menambah kuantitas pengunjung embung.

            Memiliki air berwarna hijau lumut, embung ini bersih dan bebas sampah. Di bagian barat, terdapat bebatuan putih yang menjadi hiasan dinding pembatas. Tidak hanya itu, di bawah pembatas dinding tersebut, terdapat terpal hitam yang melapisi atas semen. Terpal hitam tersebut dipasang turun ke bawah hingga mencapai air. Bahkan, lapisan bawah tampungan embung menggunakan GCL (Geosynthetic Clay Liner), yang berfungsi untuk menahan peresapan air dengan kecepatan resap air tertentu agar air dapat tertampung, tetapi masih bisa meresap ke dalam tanah. Kembali ke bagian luar embung, pada  bagian timur, terdapat lahan yang ditumbuhi rerumputan berwarna hijau. Rumput ini tumbuh sepanjang batas embung bagian timur. Selain itu, bagian timur embung juga tidak didirikan pagar pembatas seperti di bagian barat karena sudah ada pondasi kecil yang membatasi jalan desa dengan Embung Kladuan.

    Berbicara mengenai habitat yang ada di embung, terdapat banyak ikan yang menjadi ekosistem utama di tempat tersebut. Hal itu sesuai dengan tujuan awal pembangunan embung yaitu untuk mengembangkan mikro hydro di wilayah tersebut dan sebagai tempat konservasi air. Bukan tanpa alasan, pembangunan embung juga sejalan dengan adanya pembangunan laboratorium mikro hydro

Komentar