Nyanyian Pohon-pohon
sumber: pngtree
Ada
sebuah kisah yang pernah diceritakan kepadaku. Tentang hutan, di mana
pohon-pohonnya mengeluarkan suara aneh dan bising setiap waktu. Saat matahari
terbit, suaranya terdengar sampai ke sisi timur. Saat anak-anak kukila berseru
memanggil induknya, pohon-pohon tak mau kalah untuk mengeluarkan suaranya. Suara
itu nyaring dan melengking, nyaris membuat dahan-dahannya runtuh dan merebah di
tanah bebatuan.
Kalau
saja Simba—sang raja hutan tidak memberitahuku tentang hutan dan pohon-pohon
itu, mungkin saja saat ini aku masih bertanya-tanya tentang suara-suara yang
hampir memekakkan kedua telingaku yang panjang. Waktu itu, aku ingat betul
bagaimana sulitnya melewati sungai untuk menemui pohon-pohon itu dengan tubuhku
yang kecil. Semakin aku mendekat ke wilayahnya, suara-suara pohon itu semakin
keras dan mendengung di kepalaku. Akan tetapi, setelah mendengarnya dengan
seksama, suara itu bukanlah nyanyian-nyanyian yang sering manusia-manusia elu-elukan
di televisi sebagai fenomena alam. Itu seperti ratapan bersahut-sahut yang
semakin lama terdengar seperti tangisan.
Kau tidak akan pernah menyangka akan mendengar cerita dari
pohon-pohon yang mengeluarkan suara dalam waktu yang lama. Aku juga tidak
menyangka pada awalnya. Akan tetapi, begitu kulihat keegoisan dan ketamakan
yang melekat pada makhluk yang katanya berakal itu dengan mata kepalaku
sendiri, seketika aku ingin mengubah tubuh kelinciku ini menjadi pohon. Lalu, ikut
bersama mereka untuk bersuara—atau menangis sepanjang hari.
Jadi, beginilah kisahnya.
***
Pagi hari, ketika aku sampai pada perbatasan hutan yang
menghubungkan wilayahku dengan tempat di mana pohon-pohon itu berada, aku
disambut dengan percakapan dua pohon besar yang tingginya beratus-ratus lipat
dari tinggiku.
Keduanya tampak sengit membicarakan sesuatu, tumbuhan-tumbuhan lain hanya membantu dan bersorak turut
memperhatikan apa yang tengah terjadi di antara keduanya. Aku sendiri memilih
bersembunyi di belakang tumbuhan paku, mulai tenggelam dalam kisah mereka.
“Kau seharusnya bisa lebih lagi menggerakkan ranting-rantingmu itu.”
Pohon meranti berucap seraya menggerakkan dahan-dahannya dengan cepat, memberi
tahu kepada pohon damar agar melakukan hal serupa.
Dicobanya oleh pohon damar dengan gerakan yang serupa, tetapi
karena usia dan kesuburan, pohon itu hanya bergerak seperempat dari kecepatan
pohon meranti.
“Aku sudah mencobanya, tetapi tidak bisa,” ujar pohon damar dengan
lenguhan, “selain itu, aku juga harus melindungi sarang yang berada di dahan
kiriku ini. Apa kau sudah lupa? Aku pernah menjatuhkan sarang orangutan dan
hampir saja manusia itu turut membawa bayinya.”
Pohon meranti terlihat sedih, ranting-rantingnya turun dan daun-daun
keringnya berguguran. Seketika ia ingat bagaimana usaha yang mereka lakukan
tidak bisa membantu banyak untuk kesejahteraan hidup mereka. Satu minggu lalu,
pohon meranti harus kehilangan Bona—panggilannya untuk orangutan betina yang
selalu bergelayut di batangnya yang kokoh dan membangun sarang di dahannya yang
kuat.
“Sudah-sudah. Kita tidak boleh menyalahkan diri,” pohon Keruing
ikut menengahi suasana yang tiba-tiba menyedihkan. “Apa yang sudah kita lakukan
adalah bentuk usaha. Lagian, apa yang bisa dilakukan pohon-pohon seperti kita
ini? bukankah memang seperti itu cara kita bekerja?”
Tanaman-tanaman lain, seperti kandis, jambu-jambuan, pala, dan
paku-pakuan menggerakkan tubuh-tubuhnya, menyetujui apa yang disampaikan pohon
Keruing. “Ya setuju!” ujar mereka saling menyahut.
“Kemarin, aku melihat Doni bergelayut di dahanku,” Pohon eboni
berkata dengan serius, membuat tumbuhan-tumbuhan lain cemas. “Aku tidak bisa
memastikan itu apakah Doni atau bukan, tetapi aku tidak bisa melihat wujud
telinga kirinya, membuatku yakin bahwa itu memang dia.”
Tumbuhan lain terdiam dan mulai tenggelam dalam asumsi
masing-masing. “Terakhir kali, kita melihat Doni lah orangutan yang ditembak
oleh manusia-manusia itu karena dua yang lain berhasil masuk ke perangkap,”
ujar pohon damar menimpali, “dan memang pada waktu itu telinga kiri Doni
mengeluarkan banyak darah hingga ia jatuh tak berdaya.”
“Apa ada ciri-ciri lain yang membuatmu yakin bahwa itu Doni?” Pohon
meranti tampak ragu.
Pohon eboni tampak berpikir dengan keras. “Eumm...tidak. Tetapi,
aku mengamati bagaimana ia juga bergelantung di pohon matoa, lamaaaaa sekali.
Apabila kalian ingat, bukankah itu kebiasaan yang hanya dimiliki Doni?
Menyendiri sepanjang hari di sana.”
“Aaaaa benar saja! aku juga melihatnya beberapa hari lalu, tetapi
aku tidak yakin. Pikirku, setelah mereka tertangkap oleh manusia, tidak akan
ada yang namanya kembali di sini.” Tumbuhan anggrek turut menyahuti setelah
mencoba memikirkan apa yang ia lihat di waktu lalu.
Semua yang terlibat dalam percakapan itu diam sejenak, seperti
memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi. Ada sesuatu yang mengganjal pada
pikiran mereka, sekaligus ketakutan yang memang tidak pernah luntur selama
beberapa tahun terakhir.
“Kalau memang itu Doni....” pohon damar diam sejenak, “bagaimana
mungkin manusia itu membawanya kembali? Aneh..sungguh aneh.”
“Memang aneh,” pohon keruing menggerakkan dahan tanda setuju, “apakah
karena orangutan itu tidak sesuai yang mereka harapkan? Apakah mereka tidak
bisa memberikan keuntungan?”
Pohon meranti tertawa dengan nyaring, sampai-sampai daun-daun
segarnya berguguran, “Cara bekerja mereka tidak seperti itu. Kalau orangutan
tidak memberi mereka keuntungan, tentu saja mereka yang akan mengambil dengan
cara mereka sendiri. Boleh dibilang, orangutan kan makhluk seperti kita,
sedangkan manusia adalah makhluk yang tidak pernah memiliki rasa puas. Mana
mungkin mereka tidak memanfaatkannya dengan akal mereka.”
Tanaman-tanaman
lain tampak tertawa dengan miris teringat bahwa hal-hal menyeramkan tersebut
hampir menjadi pembahasan mereka setiap saat. Paling menyedihkan adalah
bagaimana mereka selalu berusaha menjaga kesejahteraan mereka sampai lupa bahwa
mau bagaimanapun mereka berusaha, mereka adalah pohon. Selamanya akan tetap
menjadi pohon.
Masih di tempat persembunyianku yang terletak di balik tumbuhan
paku, aku mengamati betul bagaimana mereka akhirnya kembali dengan pemikirannya
masing-masing. Perasaanku campur aduk. Kesedihan dan ketakutan seketika turut menjalar
ditubuhku. Bayangan tentang bagaimana mereka harus melihat orangutan-orangutan
itu menghilang dengan persitiwa yang menyedihkan membuat tubuhku menjadi lemas.
Hanya berselah beberapa menit, setelah suasana hening berbalut
suara belalang yang makin lama makin meredup, terdengar suara tembakan yang
begitu keras hingga membuat burung-burung yang berdiam diri di dahan langsung
menerbangkan diri.
“Bagaimana ini?! Bagaimana?! Apa yang mereka lakukan lagi?” pohon damar
berseru panik.
“Di waktu-waktu seperti ini, kawanan orangutan pasti sedang berada
di pinggir sungai mencari tanaman buah-buahan,” ujar Pohon meranti, “suara
tembakan pun terdengar dari sana. Lebih baik, kita melakukan kebiasaan kita,
menjaga sarang-sarang berisi bayi ini sampai kawanannya tiba.”
Tidak berselang lama, aku menyaksikan sesuatu yang membuat hatiku
dipenuhi keharuan. Akhirnya, aku tahu dari mana suara-suara itu berasal. Aku
menyaksikan bagaimana para pohon dan tumbuhan menggerakkan dahan-dahannya.
Mula-mulanya, dahan itu bergerak pelan dengan naik turun, hingga akhirnya
berubah menjadi gerakan yang lebih cepat. Mereka juga menggoyangkan tubuh kuat
mereka perlahan-lahan agar memperkuat gerakan dahan dan ranting mereka. Lebih
lagi, pohon-pohon itu menyatukan ranting-ranting mereka hingga menimbulkan
suara yang nyaring di telinga. Mungkin, ini adalah wujud bagaimana pohon-pohon itu
bersuara—yang makin lama, terdengar seperti tangisan.
Pada saat itu, aku menyaksikan fenomena menangisnya pohon-pohon sampai
suara itu berhenti. Mereka menagkhirinya sampai suara tembakan itu tidak
terdengar lagi. Rasa puas terlihat dalam diri tanaman-tanaman itu ketika para
pemburu tidak menghampiri wilayahnya. Suara-suara yang mereka keluarkan
berhasil membuat manusia-manusia itu takut karena mengira ada badai besar yang
tengah melanda hutan. Meskipun perasaan lega menyelimuti mereka setelah
berhasil mempertahankan sarang dan bayi-bayi orangutan, tetap tidak bisa
menutupi perasaan was-was mereka dan pertanyaan yang tidak tahu jawabannya, kali
ini, siapa orangutan yang tidak akan kembali?
***
Siangnya, aku kembali ke wilayahku. Perasaanku seperti lapang.
Meskipun langkahku terasa berat karena melihat peristiwa yang terjadi di depan
mataku sendiri. Tidak ada yang dapat kulakukan lebih-lebih lagi, selain
berharap bahwa suara-suara itu tidak lagi terdengar di telingaku, syukur-syukur
tidak lagi terdengar setiap waktu.
Sudah tiga hari aku tidak mengunjunginya lagi, tetapi suara-suara
itu makin terdengar dengan sering. Sampai suatu hari, sejak satu minggu aku kembali
ke wilayahku, ada suara yang nampak berbeda dari biasanya. Suara itu lebih
nyaring, tetapi nyaman ditelinga. Jika didengar lebih seksama, terdengar
seperti nyanyian. Suara-suara itu terdengar saling menyahut, terasa ada permainan
harmoni didalamnya.
Suara-suara itu terus saja terdengar sepanjang hari, lebih sering
daripada suara sebelumnya yang memekakan telinga. Keesokan harinya, aku
memtuskan untuk kembali ke wilayah itu, barangkali ada suatu hal baru yang telah
terjadi.
Seperti sebelumnya, aku kembali ke tempat persembunyianku, yaitu di
balik tumbuhan paku. Tidak ada yang berubah di sana, suasananya masih sama
sejak terakhir kali aku melihatnya. Hanya saja, aku melihat beberapa sarang
memang sudah tidak ada di tempat semula. Akan tetapi, aku melihat pemandangan
baru. Beberapa kali, aku melihat orangutan bergelayut bebas ke sana ke mari.
Meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi pemandangan ini tidak pernah kujumpai
sebelumnya.
Tiba-tiba, aku mendengar suara asing yang semakin lama semakin
jelas di telinga. Suara-suara itu jelas sekali milik bahasa manusia. Langkah
kaki yang mereka miliki terdengar banyak dan makin mendekat. Aku yakin,
pohon-pohon dan tumbuhan pasti juga mendengarnya. Akan tetapi, apa yang kulihat
berbeda dengan pemandangan sebelumnya. Pohon-pohon di sana, termasuk meranti, damar,
dan keruing tampak biasa-biasa saja, tidak mengeluarkan suara ancaman seperti
sebelumnya.
Manusia-manusia itu berjumlah begitu banyak. Ketika mereka sampai
di wilayah itu, suatu pemandangan membuatku berhenti bergerak selama beberapa detik.
Aku melihat bagaimana orang-orang dengan seragam berwarna cerah itu membawa dua
orangutan di pelukan mereka: satu bayi orangutan dan satu lagi berukuran
sedikit lebih besar. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tetapi aku
mendengar apa yang mereka katakan,
Salah satu pria bertopi cokelat muda itu tampak melepaskan bayi
orangutan dari pelukannya. “Kami akan mengunjungimu secara berkala.”
Manusia-manusia lain tampak tersenyum bahagia. Satu lagi, perempuan
dengan rambut pendek dan berkacamata itu turut melepas orangutan yang berukuran
sedikit lebih besar dari sebelumnya.
“luka-luka ditubuhmu sudah kering dan kau tidak akan sakit lagi.” Ujarnya.
Aku dapat melihat ketulusan dari apa yang mereka katakan pada saat
itu. Beberapa diantaranya sampai mengalirkan sungai kecil di sudut mata mereka.
Hingga akhirnya, figur-figur manusia itu makin tidak terlihat dan suara
jejaknya berangsur-angsur menghilang.
“Mereka kembali!” Pohon damar berseru gembira. “Dan manusia-manusia
itu menepati janjinya!”
“Manusia-manusia itu membawanya kembali! Mereka membuat kita lebih
aman!” Pohon meranti menggerakkan dahan-dahannya dengan semangat, tampak senang
dan berbahagia.
Beberapa menit setelahnya, saat burung-burung berkumpul di
dahan-dahan mereka, mulai terdengar suara yang akhir-akhir ini membuatku
bertanya-tanya. Awalnya, burung-burung itu mulai mengeluarkan suara yang merdu,
disambut oleh daun kering yang berguguran, disusul suara ranting yang
bergesekan dengan pelan. Tidak mau kalah, embusan angin yang mengisi
rongga-rongga batang hingga membuat semua tumbuhan bergerak dan menimbulkan
suara, menjadi paduan suara yang merdu saat itu.
Setelah kembali ke wilayahku, aku menyebut suara-suara itu sebagai
nyanyian pohon-pohon, yaitu tanda gembira mereka ketika keluarga mereka kembali
ke tempat semula.
***
Begitulah kisah yang ingin kusampaikan padamu. Sampai saat ini,
nyanyian-nyanyian itu masih terdengar sepanjang hari. meski tidak selamanya
yang kudengar adalah sesuatu yang merdu dan menyenangkan, tetapi, selama
nyanyian-nyanyian itu masih berbunyi, selalu ada harapan bahwa sampai kapan
pun, akan selalu ada harapan untuk kembali.
Komentar
Posting Komentar