Analisis Puisi Keranda karya Joko Pinurbo

 

sumber: pixabay



Keranda

 Ranjang meminta kembali tubuh

yang pernah dilahirkan dan diasuhnya

dengan sepenuh cinta.

 

“Semoga anakku yang pemberani,

yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan,

menemukan jalan untuk pulang;

pun jika aku sudah lapuk dan karatan.”

 

Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.

Kalaupun sesekali datang, ia datang

hanya untuk menabung luka.

 

Dan ketika akhirnya pulang,

ia sudah mayat tinggal rangka.

 

Bagai si buta yang renta dan terbata-bata

ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!”

 

Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar

memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.”

 

(1996)

 

1.      Analisis Puisi Keranda

a.      Makna Puisi

Jika dilihat secara keseluruhan, puisi “Keranda” sering menggunakan kata-kata kiasan atau konotasi. Dari judulnya, ‘Keranda’ yang digunakan penulis bukanlah makna keranda seperti tempat membawa mayat. Akan tetapi, penulis memiliki makna tersendiri kenapa menggunakan kata “Keranda”. Menurut saya, puisi “Keranda” mengandung makna kematian. Bisa diartikan bahwa ranjang mengandung unsur konotasi merindukan tubuh seseorang yang disebut dengan ‘anak’. ranjang tersebut menjadi saksi tentang kelahiran dan kematian seseorang.

b.      Diksi

Diksi merupakan pemilihan kata untuk mengungkapkan situasi atau gagasan tertentu. yang ditemukan dalam puisi tersebut yaitu penggunaan kata ‘Anak’ sebagai pengganti kata ‘tubuh’.

c.       Majas

Majas dapat disebut juga sebagai bahasa kias. Dalam puisi “Keranda, terdapat beberapa majas yang ditemukan yaitu majas personifikasi, majas simile.

Majas personifikasi yang terdapat pada puisi “Keranda” yaitu pada bait pertama. Bait pertama seolah-olah memanusiakan ‘ranjang’ sebagai sosok yang sudah melahirkan dan mengasuh tubuh seseorang. selanjutnya, ditemukan juga pada bait keenam yaitu “Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.” Bait tersebut memanusiakan ranjang seolah-olah memiliki rasa sabar dan bisa memeluk tubuh.

Majas simile yang terdapat dalam puisi “Keranda” terdapat pada kata bait kelima yaitu pada larik ‘bagai si buta yang renta dan terbata-bata’. Penggunaan kata ‘bagai’ merupakan ciri-ciri dari majas simile. Maksud dari larik puisi tersebut adalah menggambarkan tubuh dan kemampuan indera yang sudah tidak berdaya.

d.      Sarana Retorik

Sarana retorik yang terdapat dalam puisi “Keranda” yaitu repetisi, ironi. Repetisi adalah pengulangan kata-kata dalam baris sebuah puisi entah pada awal baris, pertengahan baris, akhir baris, dan pada bait. Pada puisi “Keranda” repetisi ditemukan pada bait 2 dan 3. Pada bait kedua terdapat perulangan pada kata ‘negeri-negeri.’ Pada bait ketiga, terdapat perulangan kata ‘datang’ pada larik ‘Kalaupun sesekali datang, ia datang”. Penggunaan perulangan kata tersebut memiliki maksud untuk menjelaskan bahwa ‘tubuh’ tidak hanya berkelana pada satu negeri dan kata ‘perulangan kata ‘datang’ lebih menekankan bahwa ‘tubuh’ akan benar-benar datang.

Sarana retorik ironi yang terdapat pada puisi “Keranda” yaitu pada bait keempat berisi “dan ketika akhirnya pulang, ia sudah mayat tinggal rangka.” Larik tersebut memiliki makna yang ironi yaitu seseorang yang akhirnya pulang  ke rumah tetapi sudah menjadi mayat. Pada hakikatnya merupakan ironi yang sangat tragis.

e.       Bunyi Puisi

Bunyi puisi yang terdapat dalam puisi “Keranda” yaitu rima/persajakan, asonansi, aliterasi, dan kakofoni. Rima yaitu perulangan bunyi yang sama dalam sebuah puisi. Asonansi yaitu persamaan bunyi vokal dengan jarak yang dekat. Aliterasi yaitu persamaan bunyi konsonan dengan jarak yang dekat. Terakhir, kakofoni yaitu seelompok bunyi konsonan yang memperlambat irama baris yang mengandungnya.

Rima/persajakan pertama yang terdapat dalam puisi “keranda” yaitu anafora (sajak awal) pada bait ke-4 dan ke-5 baris dua pada kata ‘ia’ yang menyebabkan pola perulangan bunyi yang sama. Sajak kedua yang terdapat dalam puisi tersebut yaitu sajak dalam, persamaan bunyi dalam satu baris ditemukan pada bunyi /ta/ pada buta, renta, dan terbata-bata (bait 5 baris 1) lalu bunyi /ar/ pada tegar dan penyabar (bait 6 baris 1), sajak ini juga dapat disebut dengan sajak sempurna dilihat dari bunyinya.

Selanjutnya yaitu asonansi. Persamaan bunyi vokal dengnan jarak dekat dtunjukkan pada tiap-tiap baik tersebut. Pada bait 1 baris kedua, didominasi buni /i/ dan /a/, lalu ditemukan juga pada bait 2 baris pertama dan kedua, didominasi oleh bunyi /i/ dan /a/. Demikian juga pada bait 5 dan 6 baris pertama, yang menunjukkan dominasi bunyi /a/.

Aliterasi. Dalam puisi tersebut, ditemukan persamaan bunyi konsonan yang dekat pada bait 1 barus pertama, dijumpai variasi bunyi konsonan senganu /n/ dan /m/ , lalu baris ketiga konsonan /n/.  Selanjutnya, bait 5 baris satu tidak hanya menunjukkan asonansi saja, tetapi terdapat konsonan /t/ yang mendominasi tiap kata. Demikian juga pada bait 6 baris pertama yang menunjukkan dominasi konsonan /r/.

Kakfoni yang ditemukan pada puisi tersebut terdapat pada bait 2 baris keempat. pun jika aku sudah lapuk dan karatan merusak suasana yang ada pada baris sebelumnya. Kelancaran pengucapan pada larik sebelumnya terhalang karena adanya konsonan k/, /l/, dan /n/.

f.       Citraan

Citraan yag terdapat dalam puisi tersebut ditemukan pada bait 5 baris kedua yang menunjukkan citraan auditif. ia mengetuk-ngetuk pintu memberikan kesan suara pintu bagi siapapun yang membacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan