Analisis Puisi Keranda karya Joko Pinurbo
Keranda
yang pernah dilahirkan dan diasuhnya
dengan sepenuh cinta.
“Semoga anakku yang pemberani,
yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan,
menemukan jalan untuk pulang;
pun jika aku sudah lapuk dan karatan.”
Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara.
Kalaupun sesekali datang, ia datang
hanya untuk menabung luka.
Dan ketika akhirnya pulang,
ia sudah mayat tinggal rangka.
Bagai si buta yang renta dan terbata-bata
ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!”
Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar
memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.”
(1996)
1.
Analisis Puisi Keranda
a.
Makna Puisi
Jika dilihat
secara keseluruhan, puisi “Keranda” sering menggunakan kata-kata kiasan atau
konotasi. Dari judulnya, ‘Keranda’ yang digunakan penulis bukanlah makna
keranda seperti tempat membawa mayat. Akan tetapi, penulis memiliki makna
tersendiri kenapa menggunakan kata “Keranda”. Menurut saya, puisi “Keranda” mengandung
makna kematian. Bisa diartikan bahwa ranjang mengandung unsur konotasi
merindukan tubuh seseorang yang disebut dengan ‘anak’. ranjang tersebut menjadi
saksi tentang kelahiran dan kematian seseorang.
b.
Diksi
Diksi
merupakan pemilihan kata untuk mengungkapkan situasi atau gagasan tertentu.
yang ditemukan dalam puisi tersebut yaitu penggunaan kata ‘Anak’ sebagai pengganti kata ‘tubuh’.
c.
Majas
Majas
dapat disebut juga sebagai bahasa kias. Dalam puisi “Keranda, terdapat beberapa
majas yang ditemukan yaitu majas personifikasi, majas simile.
Majas personifikasi
yang terdapat pada puisi “Keranda” yaitu pada bait pertama. Bait pertama
seolah-olah memanusiakan ‘ranjang’ sebagai sosok yang sudah melahirkan dan
mengasuh tubuh seseorang. selanjutnya, ditemukan juga pada bait keenam yaitu
“Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar memeluknya erat: “Aku rela jadi
keranda untukmu.” Bait tersebut memanusiakan ranjang seolah-olah memiliki rasa
sabar dan bisa memeluk tubuh.
Majas simile yang terdapat
dalam puisi “Keranda” terdapat pada kata bait kelima yaitu pada larik ‘bagai si
buta yang renta dan terbata-bata’. Penggunaan kata ‘bagai’ merupakan ciri-ciri
dari majas simile. Maksud dari larik puisi tersebut adalah menggambarkan tubuh
dan kemampuan indera yang sudah tidak berdaya.
d.
Sarana Retorik
Sarana
retorik yang terdapat dalam puisi “Keranda” yaitu repetisi, ironi. Repetisi
adalah pengulangan kata-kata dalam baris sebuah puisi entah pada awal baris,
pertengahan baris, akhir baris, dan pada bait. Pada puisi “Keranda” repetisi
ditemukan pada bait 2 dan 3. Pada bait kedua terdapat perulangan pada kata
‘negeri-negeri.’ Pada bait ketiga, terdapat perulangan kata ‘datang’ pada larik
‘Kalaupun sesekali datang, ia datang”. Penggunaan perulangan kata
tersebut memiliki maksud untuk menjelaskan bahwa ‘tubuh’ tidak hanya berkelana
pada satu negeri dan kata ‘perulangan kata ‘datang’ lebih menekankan bahwa
‘tubuh’ akan benar-benar datang.
Sarana
retorik ironi yang terdapat pada puisi “Keranda” yaitu pada bait keempat
berisi “dan ketika akhirnya pulang, ia sudah mayat tinggal rangka.”
Larik tersebut memiliki makna yang ironi yaitu seseorang yang akhirnya
pulang ke rumah tetapi sudah menjadi
mayat. Pada hakikatnya merupakan ironi yang sangat tragis.
e.
Bunyi Puisi
Bunyi
puisi yang terdapat dalam puisi “Keranda” yaitu rima/persajakan, asonansi, aliterasi,
dan kakofoni. Rima yaitu perulangan bunyi yang sama dalam sebuah puisi.
Asonansi yaitu persamaan bunyi vokal dengan jarak yang dekat. Aliterasi yaitu
persamaan bunyi konsonan dengan jarak yang dekat. Terakhir, kakofoni yaitu
seelompok bunyi konsonan yang memperlambat irama baris yang mengandungnya.
Rima/persajakan
pertama yang terdapat dalam puisi “keranda” yaitu anafora (sajak awal)
pada bait ke-4 dan ke-5 baris dua pada kata ‘ia’ yang menyebabkan pola
perulangan bunyi yang sama. Sajak kedua yang terdapat dalam puisi tersebut
yaitu sajak dalam, persamaan bunyi dalam satu baris ditemukan pada bunyi
/ta/ pada buta, renta, dan terbata-bata (bait 5 baris 1)
lalu bunyi /ar/ pada tegar dan penyabar (bait 6 baris 1),
sajak ini juga dapat disebut dengan sajak sempurna dilihat dari bunyinya.
Selanjutnya
yaitu asonansi. Persamaan bunyi vokal dengnan jarak dekat dtunjukkan
pada tiap-tiap baik tersebut. Pada bait 1 baris kedua, didominasi buni /i/ dan
/a/, lalu ditemukan juga pada bait 2 baris pertama dan kedua, didominasi
oleh bunyi /i/ dan /a/. Demikian juga pada bait 5 dan 6 baris
pertama, yang menunjukkan dominasi bunyi /a/.
Aliterasi. Dalam puisi
tersebut, ditemukan persamaan bunyi konsonan yang dekat pada bait 1 barus
pertama, dijumpai variasi bunyi konsonan senganu /n/ dan /m/ ,
lalu baris ketiga konsonan /n/. Selanjutnya, bait 5 baris satu tidak hanya
menunjukkan asonansi saja, tetapi terdapat konsonan /t/ yang mendominasi
tiap kata. Demikian juga pada bait 6 baris pertama yang menunjukkan dominasi
konsonan /r/.
Kakfoni yang ditemukan pada puisi tersebut terdapat pada bait 2 baris keempat. pun jika aku sudah lapuk dan karatan merusak suasana yang ada pada baris sebelumnya. Kelancaran pengucapan pada larik sebelumnya terhalang karena adanya konsonan k/, /l/, dan /n/.
f.
Citraan
Citraan yag
terdapat dalam puisi tersebut ditemukan pada bait 5 baris kedua yang
menunjukkan citraan auditif. ia mengetuk-ngetuk pintu memberikan kesan
suara pintu bagi siapapun yang membacanya.

Komentar
Posting Komentar