Bardi

sumber: pinterest


Ia tidak pernah habis pikir bahwa celana dalam yang ia bawa kemarin lagi-lagi membuat wajahnya memar. Pikirnya, kenapa orang-orang dengan baju klinyit dan necis itu selalu meludahi, mengolok, dan tidak segan memukulnya dengan sapu atau menakutinya dengan parang? Padahal, naluriahnya sebagai orang gila bukanlah hal yang dosa di mata Tuhan.

Terakhir kali, ia melewati pematang sawah dengan sandal milik Yatmi—tetangga desa sebelah yang baru saja beli di toko kelontong. Karena ia tahu bahwa Yatmi dan suaminya berteriak dari belakang, “Bardi! Asu kowe!” Bardi langsung ngibrit dengan celananya yang bolong di bagian belakang dan bagian atas tubuhnya telanjang dada. Orang-orang bisa melihat punggungnya diisi dengan bekas-bekas sulutan rokok—dari orang-orang yang merasa merugi dengan segala polahnya.

“Bardi-bardi, mesakke ibumu, lee.” Begitulah kira-kira kalimat yang ia dengar dari berbagai penghuni kampung. Katanya, ibunya yang bernama Marsinah itu harus bersabar merawat anak sematawayangnya yang berumur 26 tahun sepeninggal suaminya enam tahun lalu. Dengar-dengar, suaminya kepincut janda kembang di kota perantauan sehingga tidak pernah pulang atau mengabari.

Pada awalnya, sebagai bentuk empati manusia, para tetangga mengira Marsinah yang akan menjadi tidak waras. Perempuan yang memasuki usia setengah abad itu tidak pernah lagi berjualan di pasar, atau sekadar keluar rumah membeli sayuran. Selama setahun, lelaki bernama Bardi itulah yang memutuskan berhenti menggarap sawah dan menggantikan peran Marsinah. Namun, siapa sangka? Tiba-tiba Bardi keluar dengan setelan amburadul dan katanya menjadi tidak waras. Untung saja, tidak berselang lama, Marsinah kembali dari tempat persembunyiannya dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya.

Pernah suatu ketika Marsinah ditanya salah seorang tetangga ketika hendak pergi ke pasar,

“Mar, Bardi mau kamu obatin ndak? saya ada alamat nomor orang pinter lho. Bulan lalu, istri Pak Hadi—desa sebelah, sembuh dari gila,” telunjuknya digerakkan menyilang di depan wajah, “mumpung Bardi masih muda, man-eman.

Marsinah hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sejak saat itu tidak ada lagi yang menyarankan pengobatan dan semacamnya. Orang-orang menyimpulkan bahwa perempuan paruh baya itu mungkin saja lebih memilih mengurus anaknya sendiri. Ya sebenarnya tidak salah, namanya juga seorang ibu.

***

Kali ini, desa kembali ramai. Bukan lagi karena Bardi, tepatnya rumah Bardi. Siapa yang menyangka rumah joglo sederhana itu memunculkan api yang berkobar melalui atap dapur. Apinya sudah tinggi-tinggi, nyaris menyentuh ujung pohon mangga. Pada pukul tiga pagi, orang-orang masih berusaha memadamkan api, meranting ember dari ujung ke ujung sebelum kobaran merah itu merembet ke petak lain.

Beberapanya lagi mencoba masuk, menyadari bahwa Marsinah masih ada di dalam.

“Marsinah! Marsinah rung metu!” teriakan itu terdengar histeris dan saling menyahut.

Di tengah huru-hara dan semut-semut manusia, hanya Bardi yang duduk di bawah pohon dengan mbako disela-sela jarinya. Orang-orang mendatanginya, alih-alih memberikan pengertian dan ketenangan bahwa sang ibu masih di dalam—meskipun ia tidak akan paham, mereka justru memojokkannya dengan pertanyaan apa yang dilakukan lelaki muda itu hingga rumahnya bisa terbakar.

“Aku cuma ngidupin rokok, kok,” Bardi cengengsan, “pakai minyak tanah”.

Memang betul bahwa di dapur rumah itu terdapat banyak sekali kayu-kayu bakar yang dikumpulkan Marsinah sepulang dari pasar. Tidak heran jika api cepat menjalar dan menjadi kobaran yang besar.

***

Angin yang berembus dengan pelan membawa aroma sangit hingga ke ujung desa. Meskipun api sudah padam sejak semalam, masih terlihat kepulan-kepulan asap tipis yang berwarna keabu-abuan. Rumah itu masih menyisakan ruang depan dan satu kamar. Siapapun yang melihat pasti memiliki pemikiran jika ada angin ribut, maka bangunan itu akan ambruk ke kanan.

Setelah Marsinah dikebumikan pagi tadi, orang-orang berdatangan ke rumah Bardi, sekadar memberikan dukungan moril dan materil kepada laki-laki yang sejak semalam hanya merokok di bawah pohon mangga yang sebagian rantingnya sudah hangus terbakar. Orang-orang menganggap bahwa tingkat kegilaan Bardi sudah di level yang paling tinggi. Bagaimana bisa seseorang yang gila tetapi masih  bergantung pada ibunya—lalu ketika ibunya tidak ada, bertanya atau sekadar memanggil pun tidak?

Orang-orang mulai mengungkit kejadian semalam, menanyakan kepada Bardi kenapa laki-laki itu tidak membangunkan ibunya, mengapa ia membiarkan ibunya di dalam, dan mengapa ia menghidupkan rokok dari minyak tanah. Akan tetapi, Bardi tetaplah Bardi. Laki-laki itu hanya cengengesan dan menggaruk-garuk perut bolanya.

Setelah kejadian itu, Bardi tidak lagi kelihatan berkeliling di desa dengan kebiasaannya yang usil. Laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktu di sekitar rumahnya, sekadar merokok dan mengandalkan makan dari pemberian tetangga. Entah apa yang membuatnya menjadi lebih tenang. Entah. Tiada satu pun yang tahu.

***

Di atas sana, seorang perempuan sedang memohon ampun atas apa yang sudah dilakukannya selama di dunia. Layar lebar menampilkan bagaimana ia menyulut tubuh anaknya dengan rokok, memaki anaknya ketika tidak berhasil membawa barang-barang milik para warga, dan berakhir dengan rencana membakar hidup-hidup anaknya. Hanya saja, api itu justru menyambar tubuhnya yang telanjur beraroma bensin. Ia memohon ampun dan melabeli bahwa ia gila sehingga semua di luar kehendaknya. Akan tetapi, semua yang melihat kesaksiannya pun tahu, bahwa di hati kecil perempuan itu, menumpuk rasa amarah terhadap suaminya yang ia letakkan pada anak laki-lakinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan