Bardi
Ia tidak pernah habis pikir bahwa celana dalam yang ia bawa kemarin
lagi-lagi membuat wajahnya memar. Pikirnya, kenapa orang-orang dengan baju klinyit
dan necis itu selalu meludahi, mengolok, dan tidak segan memukulnya dengan
sapu atau menakutinya dengan parang? Padahal, naluriahnya sebagai orang gila
bukanlah hal yang dosa di mata Tuhan.
Terakhir kali, ia melewati pematang sawah dengan sandal milik
Yatmi—tetangga desa sebelah yang baru saja beli di toko kelontong. Karena ia
tahu bahwa Yatmi dan suaminya berteriak dari belakang, “Bardi! Asu kowe!”
Bardi langsung ngibrit dengan celananya yang bolong di bagian belakang
dan bagian atas tubuhnya telanjang dada. Orang-orang bisa melihat punggungnya
diisi dengan bekas-bekas sulutan rokok—dari orang-orang yang merasa merugi
dengan segala polahnya.
“Bardi-bardi, mesakke ibumu, lee.” Begitulah
kira-kira kalimat yang ia dengar dari berbagai penghuni kampung. Katanya,
ibunya yang bernama Marsinah itu harus bersabar merawat anak sematawayangnya yang
berumur 26 tahun sepeninggal suaminya enam tahun lalu. Dengar-dengar, suaminya kepincut
janda kembang di kota perantauan sehingga tidak pernah pulang atau
mengabari.
Pada awalnya, sebagai bentuk empati manusia, para tetangga mengira
Marsinah yang akan menjadi tidak waras. Perempuan yang memasuki usia setengah
abad itu tidak pernah lagi berjualan di pasar, atau sekadar keluar rumah
membeli sayuran. Selama setahun, lelaki bernama Bardi itulah yang memutuskan
berhenti menggarap sawah dan menggantikan peran Marsinah. Namun, siapa sangka? Tiba-tiba
Bardi keluar dengan setelan amburadul dan katanya menjadi tidak waras.
Untung saja, tidak berselang lama, Marsinah kembali dari tempat persembunyiannya
dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya.
Pernah suatu ketika Marsinah ditanya salah seorang tetangga ketika
hendak pergi ke pasar,
“Mar, Bardi mau kamu obatin ndak? saya ada alamat nomor
orang pinter lho. Bulan lalu, istri Pak Hadi—desa sebelah, sembuh dari
gila,” telunjuknya digerakkan menyilang di depan wajah, “mumpung Bardi
masih muda, man-eman.”
Marsinah hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sejak saat itu tidak
ada lagi yang menyarankan pengobatan dan semacamnya. Orang-orang menyimpulkan
bahwa perempuan paruh baya itu mungkin saja lebih memilih mengurus anaknya
sendiri. Ya sebenarnya tidak salah, namanya juga seorang ibu.
***
Kali ini, desa kembali ramai. Bukan lagi karena Bardi, tepatnya
rumah Bardi. Siapa yang menyangka rumah joglo sederhana itu memunculkan api
yang berkobar melalui atap dapur. Apinya sudah tinggi-tinggi, nyaris menyentuh
ujung pohon mangga. Pada pukul tiga pagi, orang-orang masih berusaha memadamkan
api, meranting ember dari ujung ke ujung sebelum kobaran merah itu merembet ke petak
lain.
Beberapanya lagi mencoba masuk, menyadari bahwa Marsinah masih ada
di dalam.
“Marsinah! Marsinah rung metu!” teriakan itu terdengar
histeris dan saling menyahut.
Di tengah huru-hara dan semut-semut manusia, hanya Bardi yang duduk
di bawah pohon dengan mbako disela-sela jarinya. Orang-orang
mendatanginya, alih-alih memberikan pengertian dan ketenangan bahwa sang ibu
masih di dalam—meskipun ia tidak akan paham, mereka justru memojokkannya dengan
pertanyaan apa yang dilakukan lelaki muda itu hingga rumahnya bisa terbakar.
“Aku cuma ngidupin rokok, kok,” Bardi cengengsan, “pakai
minyak tanah”.
Memang betul bahwa di dapur rumah itu terdapat banyak sekali
kayu-kayu bakar yang dikumpulkan Marsinah sepulang dari pasar. Tidak heran jika
api cepat menjalar dan menjadi kobaran yang besar.
***
Angin yang berembus dengan pelan membawa aroma sangit hingga
ke ujung desa. Meskipun api sudah padam sejak semalam, masih terlihat
kepulan-kepulan asap tipis yang berwarna keabu-abuan. Rumah itu masih menyisakan
ruang depan dan satu kamar. Siapapun yang melihat pasti memiliki pemikiran jika
ada angin ribut, maka bangunan itu akan ambruk ke kanan.
Setelah Marsinah dikebumikan pagi tadi, orang-orang berdatangan ke
rumah Bardi, sekadar memberikan dukungan moril dan materil kepada laki-laki
yang sejak semalam hanya merokok di bawah pohon mangga yang sebagian rantingnya
sudah hangus terbakar. Orang-orang menganggap bahwa tingkat kegilaan Bardi
sudah di level yang paling tinggi. Bagaimana bisa seseorang yang gila tetapi
masih bergantung pada ibunya—lalu ketika
ibunya tidak ada, bertanya atau sekadar memanggil pun tidak?
Orang-orang mulai mengungkit kejadian semalam, menanyakan kepada
Bardi kenapa laki-laki itu tidak membangunkan ibunya, mengapa ia membiarkan
ibunya di dalam, dan mengapa ia menghidupkan rokok dari minyak tanah. Akan
tetapi, Bardi tetaplah Bardi. Laki-laki itu hanya cengengesan dan
menggaruk-garuk perut bolanya.
Setelah kejadian itu, Bardi tidak lagi kelihatan berkeliling di
desa dengan kebiasaannya yang usil. Laki-laki itu lebih sering menghabiskan
waktu di sekitar rumahnya, sekadar merokok dan mengandalkan makan dari
pemberian tetangga. Entah apa yang membuatnya menjadi lebih tenang. Entah.
Tiada satu pun yang tahu.
***
Di atas sana, seorang perempuan sedang memohon ampun atas apa yang
sudah dilakukannya selama di dunia. Layar lebar menampilkan bagaimana ia
menyulut tubuh anaknya dengan rokok, memaki anaknya ketika tidak berhasil
membawa barang-barang milik para warga, dan berakhir dengan rencana membakar
hidup-hidup anaknya. Hanya saja, api itu justru menyambar tubuhnya yang
telanjur beraroma bensin. Ia memohon ampun dan melabeli bahwa ia gila sehingga
semua di luar kehendaknya. Akan tetapi, semua yang melihat kesaksiannya pun
tahu, bahwa di hati kecil perempuan itu, menumpuk rasa amarah terhadap suaminya
yang ia letakkan pada anak laki-lakinya.

Komentar
Posting Komentar