Ia Tetaplah Seorang Ibu
Dengan
rasa ragu, Lena mengirimkan secarik kertas berwarna putih. Setelah semalam ia
biarkan kertas itu tergeletak diatas meja kamarnya, akhirnya tidak ada alasan
lain lagi untuk tidak mengirimkannya. Kini rasa takut dan khawatir menyelimutinya,
bagaimana jika kata-kata yang ia coret tidak dapat mewakili rasa bersalahanya
yang luar biasa? Bagaimana jika penerimanya tidak bisa memahami penyesalannya?
Bagaimana jika ia semakin memperkeruh suasana?
Sebenarnya
bukan pertama kali Lena mengirim secarik kertas. Hanya saja, baru kali ini
tulisan dalam kertas menunjukkan rasa sesal dan maafnya. Sepertinya, malam ini
ia tidak akan pulang ke rumah—menghabiskan waktu di depan kantor pos untuk
menanyakan ratusan surat sebelumnya. Meskipun ia sudah tahu jawabannya, tidak
ada.
***
Menjadi
seorang Ibu bukanlah perkara yang mudah. Lebih tepatnya, mungkin aku gagal. Aku
masih ingat ketika sosok itu meninggalkan bekas sepatu pada tanah basah hujan
semalaman. Masih ingat betul ketika tangan halus itu mengusap air mataku
sebelum melambaikannya.
Aku
mengamati sangkar burung berwarna abu-abu yang berada di depan rumah. Masih
teringat jelas dua puluh tahun lalu sepasang merpati putih itu menjadi saksi
pernikahanku dengan Salim. Waktu itu, dengan bahagianya Salim mengecup dahiku
dan berkata,
“Kita
tidak perlu menerbangkannya, biar saja kurawat di sangkar.” Burung itu tumbuh
bersama waktu yang kuhabiskan dengan Salim. Suatu hari, pernah aku bertanya
pada Salim,
“Bagaimana
jika suatu saat burung ini terbang satu?” Aku masih ingat Salim tertawa dan
menggelengkan kepala, “kalau terbang
satu, berarti ada yang membuka sangkarnya. Memang kau mau membukanya?” Aku
menggeleng lalu memeluknya.
Kini
sudah tahun ke lima sangkar itu tidak bersama dengan pemiliknya. Sangkar itu
tidak lagi terawat dengan semestinya. Seharusnya, aku menemaninya membersihkan
sangkar dan memberi burung-burung itu makan. Akan tetapi, kini kenangan itu
harus menjadi hal yang harus kulupakan.
Terakhir
kali, aku ingat Salim menatapku sebegitu bencinya. Aku tidak bisa berupaya
apa-apa karena semuanya sudah terjadi, apa yang bisa aku lakukan hanya menatap
punggung itu lenyap dihapus kabut malam hari. Esoknya, burung-burung dalam
sangkar itu sudah tidak ada.
“Kau
harus hidup lebih baik, begitu juga dengan aku dan Jeni.” Salim mengatakannya
sebelum ia memilih lenyap dari pandanganku.
Sejak
saat itu, aku hanya merapal dalam diri.
Meskipun dalam hatiku tidak ada yang bisa kuharapkan dari sebuah
perpisahan.
***
Salim
sering memarahiku hanya karena aku mengambil peran di keluarga sebagai pencari
nafkah. Bukan tanpa alasan, perusahaan tempat di mana Salim bekerja mengalami
penurunan pendapatan sehingga ada pengurangan pegawai dan Salim salah satunya.
Sejak saat itu, kami mengalami masa-masa yang sulit.
Ditambah
lagi, Jeni—anakku, yang sedang menempuh pendidikan sekolah menengah pertama
tidak bisa mengikuti ujian karena biaya sppnya belum lunas. Saat itu tidak ada
pilihan lain, aku harus bekerja.
Pernah
kubelikan Salim sebuah kemeja dari gaji pertamaku, awalnya ia merasa senang.
Akan tetapi, karena aku sering membelikannya, perspektifnya berubah. Salim
mengatakan bahwa aku merendahkannya.
“Berhentilah
bekerja, Len.”
“Kenapa?
Keperluan kita semakin banyak, aku bisa bekerja sampai kau menemukan pekerjaan
barumu.”
“Kau
tidak sadar? Sikapmu seakan merendahkanku. Aku di rumah dan melihatmu lembur
setiap hari, rasanya tidak benar.”
Aku
tidak mengerti maksud Salim waktu itu. Aku tidak pernah merasa terbebani selama
menikah dengannya. Prinsipku, menikah adalah tanggung jawab berdua. Tidak ada
batasan suami istri dalam mencari nafkah. Jadi, apa yang dikatakan Salim hanya
kuanggap rasa emosionalnya karena belum ada perusahaan yang memanggilnya.
Terkahir,
Salim menempatkanku pada dua pilihan yang membuatku tercekik.
“Kau
mau berhenti bekerja atau aku yang keluar dari rumah ini?”
Aku
tidak menjawabnya. Aku pikir Salim hanya becanda, siapa yang mau
mempertaruhkan pernikahan hanya karena pekerjaan? Pikirku.
Malamnya
kami bertengkar. Salim meninggalkanku dengan membawa buah hati kami, Jeni.
***
1
Aku
hampir gila. Untuk kesekian kalinya kaleng minuman itu kuremukkan dalam waktu
sekejap. Tadi siang, perusahaan tempatku bekerja melakukan phk masal. Sebagai
orang yang bertanggungjawab terhadap keluarga kecilnya, aku kecewa. Bagaimana
bisa perusahaan besar menelantarkan burung-burung yang memiliki tanggung jawab
pada sangkarnya?
Entah
apa yang harus kukatakan pada Lena dan anakku Jeni ketika melihat wajah masamku
ini. Bisa jadi mereka tidak akan bertanya, tetapi aku harus menjelaskannya.
Istriku–dengan
luar biasa mengerti keadaanku. Sepulang dari kantor, ia memberiku secangkir teh
manis dengan nasi goreng kesukaanku. Senyumnya yang hangat menyiratkan bahwa
aku tidak sepantasnya menyesali kedaan karena semua sudah menjadi kehendak-Nya.
Pagi
ini, Lena mengatakan bahwa ia akan bekerja di rumah kawannya—katanya, Lena ikut
menjadi asisten penjahit dan beberes rumah. Aku dengan tulus mengizinkannya,
memberi ruang pada Lena untuk bekerja sembari menunggu panggilan interview
dari lamaran yang kukirim diberbagai perusahaan.
Awalnya,
semua berjalan dengan lancar. Lena yang semula bekerja dari pagi hingga sore,
menjadi pagi hingga malam. Katanya pekerjaannya menumpuk, jadi ada alasan
untuknya lembur setiap hari. Aku lama-lama muak. Lena sangat baik kepadaku,
tetapi kelamaan aku kehilangan kodratku sebagai laki-laki. Setap hari aku
mengamati wajah lelah Lena diwaktu santaiku, melihat Lena membelikanku baju
seolah aku tidak punya yang pantas, serta membelikan Jeni mainan padahal dulu
adalah kebiasaanku.
Hari
ini, aku memtuskan untuk berpisah dengan Lena. Rasanya berat melihat matanya
mengucurkan sungai kecil sembari memohon-mohon agar aku tidak pergi. Tetapi aku
sudah memiliki tekad bulat. Aku sangat keras kepala. Aku pikir berpisah adalah
keputusan yang tepat.
***
2
Hari
ini aku melihat Ayah menggulung kembali amplop cokelat dan meletakkan di laci
seperti biasanya. Akan tetapi, lacinya sudah penuh. Aku terus mengamati
pergerakannya dari satu tempat ke tempat lain—mencari ruang di mana ia
menyimpan puluhan, atau bahkan ratusan surat yang diterima dengan rutin.
Setelah
meninggalkan Ibu lima tahun lamanya, aku ingat betul pada tahun ketiga—saat aku
akhirnya menyelesaikan pendidikan SMAku dan tinggal bersama Ayah di rumah
peninggalan orangtuanya, Ayah menangis untuk pertama kali setelah sekian lama.
“Kau
tahu Jen? Ayah mencintai Ibumu dengan sangat. Segala hal sederhana tentang
wanita itu, Ayah tuliskan pada buku cokelat yang menjadi salah satu hadiahku
pada ulang tahun pernikahan kami yang pertama.”
Sudut
bibirku tertarik ke atas, teringat betul Ibu pernah menceritakan hal serupa.
Pada saat itu, Ibuku berkata, “Kau harus mencari laki-laki seperti Ayahmu,
Jen. Ia sangat menyayangi Ibu dan kita saling menyayangi. Hal-hal sederhana
yang kita lakukan menjadi hal mewah hanya karena ia menuliskannya.”
“Tapi
Jen, kamu tahu bukan hukum mencintai dan dicintai? ketika kau mencintai
seseorang sebegitu dalamnya, kecewamu beriringan. Sama dalamnya.”
***
“Ayah
kecewa pada Ibu.”
Bukan.
Bukan karena Ayah merasa rendah diri. Ayah senang ketika Ibu membelikannya
kemeja dan kaus, senang ketika Ibu masih setia melayani Ayah yang tidak
bekerja, senang ketika Ibu selalu memberikan kehangatan pada rumah, dan senang
karena Ibu sangat mencintainya.
Suatu
hari, Ayah melihat Ibu turun dari mobil di seberang jalan. Ia hampir tidak
mengenali Ibu; gaunnya merah ketat, bibirnya merah darah, pipinya sedikit pink
tetapi bukan karena sinar matahari, dan rambutnya diikat tinggi sampai leher
jenjangnya terlihat. Ayah tidak jadi menuju perusahaan untuk wawancara, ia pulang,
sebelum Ibu pulang.
Setelah
itu, Ayah sering pergi ke tempat yang sama—kedai kopi kesukaannya, sekaligus
mengamati Ibu yang setiap sore selalu pulang dengan waktu dan tempat yang sama,
tetapi dengan mobil dan lelaki yang berbeda. Bayang-bayang tentang sepasang
burung merpati di rumah membuat Ayah sakit. Ayah menyalahkan diri—baginya, apa
yang dilakukan Ibu adalah bentuk untuk menghidupi kami atas apa yang telah Ayah
padamkan. Maka dari itu, tidak ada yang bisa Ayah lakukan selain menangis.
Ayah
tidak tahan lagi. Ia tidak mau menyalahkan Ibu. Maka dari itu ia mencari segala
alasan agar Ibu membencinya—atau memberi Ibu pilihan untuk memilih suaminya—atau
meninggalkan pekerjaannya tanpa menunjukkan bahwa Ayah sudah mengetahui
semuanya. Ayah tidak mau Ibu malu.
***
Setelah
puas duduk di bangku depan kantor pos, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di
sepanjang trotoar. Ini sudah pukul dua dini hari dan tumben sekali jalanan
belum lengang. Mungkin karena orang-orang baru saja pulang dari pesta akhir
tahun yang diselenggarakan di taman kota.
Tiba-tiba
ada yang bergetar di saku kanan jaketku. Sebelum aku membukanya, aku sudah
menduga isi pesan yang akan terpampang di sana.
Pagi
ini jam 4, bisa? di tempat seperti biasa.
Aku
memutar badanku, memutuskan untuk tidak pulang. Sepertinya, aku akan
menghabiskan waktu di kantor pos saja untuk hari ini. Aku akan menghabiskan
waktuku untuk merenung—membayangkan menjadi seorang perempuan yang sedang
menunggu kekasihnya pulang dari negeri orang, atau seorang Ibu yang menunggu
anaknya pulang dari perantauan.
Sebentar,
apa aku masih pantas dipanggil sebagai Ibu?

Komentar
Posting Komentar