Ia Tetaplah Seorang Ibu

 

sumber: pinterest


Dengan rasa ragu, Lena mengirimkan secarik kertas berwarna putih. Setelah semalam ia biarkan kertas itu tergeletak diatas meja kamarnya, akhirnya tidak ada alasan lain lagi untuk tidak mengirimkannya. Kini rasa takut dan khawatir menyelimutinya, bagaimana jika kata-kata yang ia coret tidak dapat mewakili rasa bersalahanya yang luar biasa? Bagaimana jika penerimanya tidak bisa memahami penyesalannya? Bagaimana jika ia semakin memperkeruh suasana?

Sebenarnya bukan pertama kali Lena mengirim secarik kertas. Hanya saja, baru kali ini tulisan dalam kertas menunjukkan rasa sesal dan maafnya. Sepertinya, malam ini ia tidak akan pulang ke rumah—menghabiskan waktu di depan kantor pos untuk menanyakan ratusan surat sebelumnya. Meskipun ia sudah tahu jawabannya, tidak ada.

***

Menjadi seorang Ibu bukanlah perkara yang mudah. Lebih tepatnya, mungkin aku gagal. Aku masih ingat ketika sosok itu meninggalkan bekas sepatu pada tanah basah hujan semalaman. Masih ingat betul ketika tangan halus itu mengusap air mataku sebelum melambaikannya.

Aku mengamati sangkar burung berwarna abu-abu yang berada di depan rumah. Masih teringat jelas dua puluh tahun lalu sepasang merpati putih itu menjadi saksi pernikahanku dengan Salim. Waktu itu, dengan bahagianya Salim mengecup dahiku dan berkata,

“Kita tidak perlu menerbangkannya, biar saja kurawat di sangkar.” Burung itu tumbuh bersama waktu yang kuhabiskan dengan Salim. Suatu hari, pernah aku bertanya pada Salim,

“Bagaimana jika suatu saat burung ini terbang satu?” Aku masih ingat Salim tertawa dan menggelengkan kepala,  “kalau terbang satu, berarti ada yang membuka sangkarnya. Memang kau mau membukanya?” Aku menggeleng lalu memeluknya.

Kini sudah tahun ke lima sangkar itu tidak bersama dengan pemiliknya. Sangkar itu tidak lagi terawat dengan semestinya. Seharusnya, aku menemaninya membersihkan sangkar dan memberi burung-burung itu makan. Akan tetapi, kini kenangan itu harus menjadi hal yang harus kulupakan.

Terakhir kali, aku ingat Salim menatapku sebegitu bencinya. Aku tidak bisa berupaya apa-apa karena semuanya sudah terjadi, apa yang bisa aku lakukan hanya menatap punggung itu lenyap dihapus kabut malam hari. Esoknya, burung-burung dalam sangkar itu sudah tidak ada.

“Kau harus hidup lebih baik, begitu juga dengan aku dan Jeni.” Salim mengatakannya sebelum ia memilih lenyap dari pandanganku.

Sejak saat itu, aku hanya merapal dalam diri.  Meskipun dalam hatiku tidak ada yang bisa kuharapkan dari sebuah perpisahan.

***

Salim sering memarahiku hanya karena aku mengambil peran di keluarga sebagai pencari nafkah. Bukan tanpa alasan, perusahaan tempat di mana Salim bekerja mengalami penurunan pendapatan sehingga ada pengurangan pegawai dan Salim salah satunya. Sejak saat itu, kami mengalami masa-masa yang sulit.

Ditambah lagi, Jeni—anakku, yang sedang menempuh pendidikan sekolah menengah pertama tidak bisa mengikuti ujian karena biaya sppnya belum lunas. Saat itu tidak ada pilihan lain, aku harus bekerja.

Pernah kubelikan Salim sebuah kemeja dari gaji pertamaku, awalnya ia merasa senang. Akan tetapi, karena aku sering membelikannya, perspektifnya berubah. Salim mengatakan bahwa aku merendahkannya.

“Berhentilah bekerja, Len.”

“Kenapa? Keperluan kita semakin banyak, aku bisa bekerja sampai kau menemukan pekerjaan barumu.”

“Kau tidak sadar? Sikapmu seakan merendahkanku. Aku di rumah dan melihatmu lembur setiap hari, rasanya tidak benar.”

Aku tidak mengerti maksud Salim waktu itu. Aku tidak pernah merasa terbebani selama menikah dengannya. Prinsipku, menikah adalah tanggung jawab berdua. Tidak ada batasan suami istri dalam mencari nafkah. Jadi, apa yang dikatakan Salim hanya kuanggap rasa emosionalnya karena belum ada perusahaan yang memanggilnya.

Terkahir, Salim menempatkanku pada dua pilihan yang membuatku tercekik.

“Kau mau berhenti bekerja atau aku yang keluar dari rumah ini?”

Aku tidak menjawabnya. Aku pikir Salim hanya becanda, siapa yang mau mempertaruhkan pernikahan hanya karena pekerjaan? Pikirku.

Malamnya kami bertengkar. Salim meninggalkanku dengan membawa buah hati kami, Jeni.

 

***

1

Aku hampir gila. Untuk kesekian kalinya kaleng minuman itu kuremukkan dalam waktu sekejap. Tadi siang, perusahaan tempatku bekerja melakukan phk masal. Sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap keluarga kecilnya, aku kecewa. Bagaimana bisa perusahaan besar menelantarkan burung-burung yang memiliki tanggung jawab pada sangkarnya?

Entah apa yang harus kukatakan pada Lena dan anakku Jeni ketika melihat wajah masamku ini. Bisa jadi mereka tidak akan bertanya, tetapi aku harus menjelaskannya.

Istriku–dengan luar biasa mengerti keadaanku. Sepulang dari kantor, ia memberiku secangkir teh manis dengan nasi goreng kesukaanku. Senyumnya yang hangat menyiratkan bahwa aku tidak sepantasnya menyesali kedaan karena semua sudah menjadi kehendak-Nya.

Pagi ini, Lena mengatakan bahwa ia akan bekerja di rumah kawannya—katanya, Lena ikut menjadi asisten penjahit dan beberes rumah. Aku dengan tulus mengizinkannya, memberi ruang pada Lena untuk bekerja sembari menunggu panggilan interview dari lamaran yang kukirim diberbagai perusahaan.

Awalnya, semua berjalan dengan lancar. Lena yang semula bekerja dari pagi hingga sore, menjadi pagi hingga malam. Katanya pekerjaannya menumpuk, jadi ada alasan untuknya lembur setiap hari. Aku lama-lama muak. Lena sangat baik kepadaku, tetapi kelamaan aku kehilangan kodratku sebagai laki-laki. Setap hari aku mengamati wajah lelah Lena diwaktu santaiku, melihat Lena membelikanku baju seolah aku tidak punya yang pantas, serta membelikan Jeni mainan padahal dulu adalah kebiasaanku.

Hari ini, aku memtuskan untuk berpisah dengan Lena. Rasanya berat melihat matanya mengucurkan sungai kecil sembari memohon-mohon agar aku tidak pergi. Tetapi aku sudah memiliki tekad bulat. Aku sangat keras kepala. Aku pikir berpisah adalah keputusan yang tepat.

***

2

Hari ini aku melihat Ayah menggulung kembali amplop cokelat dan meletakkan di laci seperti biasanya. Akan tetapi, lacinya sudah penuh. Aku terus mengamati pergerakannya dari satu tempat ke tempat lain—mencari ruang di mana ia menyimpan puluhan, atau bahkan ratusan surat yang diterima dengan rutin.

Setelah meninggalkan Ibu lima tahun lamanya, aku ingat betul pada tahun ketiga—saat aku akhirnya menyelesaikan pendidikan SMAku dan tinggal bersama Ayah di rumah peninggalan orangtuanya, Ayah menangis untuk pertama kali setelah sekian lama.

“Kau tahu Jen? Ayah mencintai Ibumu dengan sangat. Segala hal sederhana tentang wanita itu, Ayah tuliskan pada buku cokelat yang menjadi salah satu hadiahku pada ulang tahun pernikahan kami yang pertama.”

Sudut bibirku tertarik ke atas, teringat betul Ibu pernah menceritakan hal serupa. Pada saat itu, Ibuku berkata, “Kau harus mencari laki-laki seperti Ayahmu, Jen. Ia sangat menyayangi Ibu dan kita saling menyayangi. Hal-hal sederhana yang kita lakukan menjadi hal mewah hanya karena ia menuliskannya.”

“Tapi Jen, kamu tahu bukan hukum mencintai dan dicintai? ketika kau mencintai seseorang sebegitu dalamnya, kecewamu beriringan. Sama dalamnya.”

***

“Ayah kecewa pada Ibu.”

Bukan. Bukan karena Ayah merasa rendah diri. Ayah senang ketika Ibu membelikannya kemeja dan kaus, senang ketika Ibu masih setia melayani Ayah yang tidak bekerja, senang ketika Ibu selalu memberikan kehangatan pada rumah, dan senang karena Ibu sangat mencintainya.

Suatu hari, Ayah melihat Ibu turun dari mobil di seberang jalan. Ia hampir tidak mengenali Ibu; gaunnya merah ketat, bibirnya merah darah, pipinya sedikit pink tetapi bukan karena sinar matahari, dan rambutnya diikat tinggi sampai leher jenjangnya terlihat. Ayah tidak jadi menuju perusahaan untuk wawancara, ia pulang, sebelum Ibu pulang.

Setelah itu, Ayah sering pergi ke tempat yang sama—kedai kopi kesukaannya, sekaligus mengamati Ibu yang setiap sore selalu pulang dengan waktu dan tempat yang sama, tetapi dengan mobil dan lelaki yang berbeda. Bayang-bayang tentang sepasang burung merpati di rumah membuat Ayah sakit. Ayah menyalahkan diri—baginya, apa yang dilakukan Ibu adalah bentuk untuk menghidupi kami atas apa yang telah Ayah padamkan. Maka dari itu, tidak ada yang bisa Ayah lakukan selain menangis.

Ayah tidak tahan lagi. Ia tidak mau menyalahkan Ibu. Maka dari itu ia mencari segala alasan agar Ibu membencinya—atau memberi Ibu pilihan untuk memilih suaminya—atau meninggalkan pekerjaannya tanpa menunjukkan bahwa Ayah sudah mengetahui semuanya. Ayah tidak mau Ibu malu.

***

Setelah puas duduk di bangku depan kantor pos, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang trotoar. Ini sudah pukul dua dini hari dan tumben sekali jalanan belum lengang. Mungkin karena orang-orang baru saja pulang dari pesta akhir tahun yang diselenggarakan di taman kota.

Tiba-tiba ada yang bergetar di saku kanan jaketku. Sebelum aku membukanya, aku sudah menduga isi pesan yang akan terpampang di sana.

Pagi ini jam 4, bisa? di tempat seperti biasa.

Aku memutar badanku, memutuskan untuk tidak pulang. Sepertinya, aku akan menghabiskan waktu di kantor pos saja untuk hari ini. Aku akan menghabiskan waktuku untuk merenung—membayangkan menjadi seorang perempuan yang sedang menunggu kekasihnya pulang dari negeri orang, atau seorang Ibu yang menunggu anaknya pulang dari perantauan.

Sebentar, apa aku masih pantas dipanggil sebagai Ibu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan