Lembar Terakhir

 

Sumber: pinterest

Saat itu usiaku 12 tahun. Usia di mana laci-laciku berisi komik-komik kartun kesayanganku, Sinchan dan Paman Gober. Lalu, dinding-dinding kamarku penuh dengan guntingan karakter-karakter favoritku dari majalah Bobo. Satu lagi, tumpukan buku Lima Sekawan yang dibelikan Ibu setiap aku berhasil mendapatkan nilai terbaik pada saat ulangan harian—memenuhi meja belajarku.

Menjelang usia 14 tahun, Ibu membelikanku buku terjemahan. Novel terjemahan yang pertama kali kubaca pada saat itu adalah Le Petit Prince, karya Antoine de Saint Exupery. Novel itu mampu mengubah sosok kekanak-kanakan yang tersembunyi dalam bilik tubuhku—mengubah presepsiku tentang orang-orang dewasa—dan menumbuhkan gairah-gairahku pada bacaan yang serupa.

Seterusnya, aku tumbuh dengan buku-buku dalam sisiku. Jika aku membawa barang di tangan kanan, maka buku akan ada di tangan kiri; jika aku membawa barang di tangan kiri, maka buku akan ada di tangan kanan; jika aku membawa barang dengan kedua tanganku, maka buku akan ada di tas ranselku. Tidak pernah ada kamus meninggalkan atau ditinggalkan dalam hidupku, walaupun hanya buku. Hanya buku.

Pada saat ulang tahun ke-17, Ibu memberiku tiga buah buku yang dibungkus dengan kotak sedang berwarna abu. Di atas kotak terselip note kecil yang ditimpa pita berwarna cokelat muda.

Ditanganku ada tiga dari seribu

Yang akan mengaliri nadi, juga darahmu

Biar kehidupan ada padamu

Walaupun hanya buku. Hanya buku

 

       Itu adalah kali pertama aku menerima hadiah berupa kumpulan sajak karya penyair yang sebenarnya sudah familiar ditelingaku. Jujur saja, itu juga pertama kali aku membaca sajak-sajak dalam bentuk buku. Biasanya, aku lebih tertarik pada sajak yang aku temui di koran, web, atau majalah. Setelah aku tanya mengapa Ibu memberiku tiga buku sajak, Ibu hanya ingin bacaanku tidak seputar cerita angin lalu saja. Ibu ingin aku mengerti bahwa tulisan bukan hanya sekadar untuk dibaca, tetapi mencari tahu makna dari sebuah tulisan adalah sebaik-baiknya membaca.

       Dipertengahan umur 18 tahun dan menjelang kuliah, aku gelisah. Sebab semua buku milikku bagai telur diujung tanduk: Komik di laci-laciku sudah berkurang karena kuberikan pada sepupu, modul-modul persiapan ujian masuk kampus favorit memenuhi meja belajar, dan terakhir, almari khusus penampung buku-buku sudah berumur tua hingga keropos di kaki kiri, sedang buku-buku didalamnya menguning dan berdebu. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merawatnya. Jangankan merawat, untuk memperbarui bacaanpun aku tidak dapat menyempatkan waktu.

       Semakin hari aku semakin gelisah. Kegelisahan ini bertambah hingga aku menyelesaikan semester pertama perkuliahanku. Kupikir rasa gelisahku akan hilang ketika aku membeli buku-buku baru. Akan tetapi, semua buku hanya bisa kuhabiskan di seperempat halaman awal, sisanya tidak kulanjutkan hingga dalam waktu yang tidak bisa kutentukan.

       Waktu terus berjalan. Pohon mangga di depan rumahku daunnya mengering, kelinci milik tetanggaku beranak, tanaman milik Ibu sudah berbunga, burung kesayangan Ayah sudah bertelur, dan aku, aku masih menjadi batu di tengah sungai. Apa yang kulakukan hanya memperhatikan kejadian-kejadian kecil yang ada di sekitar. Aku ingin sekali menceritakan keresahanku ini pada Ibu, tetapi aku malu. Bagaimana jika Ibu tahu kalau putrinya yang hampir berusia 19 tahun ini tidak lagi menggeluti aktivitas favoritnya?

       Akan tetapi, benar adanya bahwa feeling seorang Ibu tidak pernah salah. Suatu ketika, Ibu memergokiku yang sedang melamun di kursi meja belajar. Pada saat itu, aku baru saja selesai dengan tugas makalah yang kukerjakan semalaman. Aku yang sedang bertopang dagu memperhatikan Ibu yang memasuki kamar dengan kemoceng dan serok kecil.

“Sudah berapa lama kamu tidak membersihkan laci dan almarimu?”

Aku menghampiri Ibu, berusaha meminta kemoceng, tetapi Ibu tidak memberikannya.

“Sudah lama, Bu. Lama sekali.”

       Satu persatu buku yang ada di laci dan almari diturunkan oleh Ibu, dibersihkan debu-debunya. Aku hanya mengamati Ibu yang bolak-balik ke kamarku dan membawa alat-alat untuk menyetting kembali tampilan buku-bukuku.

“Pertama kali Ibu melihat komik ini, Ibu tahu kau akan menyukainya,” Ibu mulai melepas sampul lama yang sudah berwarna kekuningan, “dan ternyata kamu memang menyukainya.”

       Aku turut melepas sampul-sampul buku lamaku yang sudah tidak layak. Di samping itu, kudengarkan Ibu yang mulai berbicara.

“Kalau ini, dulu kamu merengek karena teman-temanmu membaca novel Lima Sekawan, sedang yang kau baca masih komik dan majalah anak-anak saja, padahal kan kau memang masih anak-anak,” aku dan Ibu tersenyum, seketika gambaran masa kecilku terpampang di depan mata begitu saja.

“Ini hadiah dari Ibu ketika aku mendapat nilai bagus di pelajaran matematika.” Novel itu berjudul A Little Princess karya Frances Hodgson Burnett. Cukup sulit aku mendapatkan buku itu karena Ibu memberiku tantangan, yaitu apabila aku berhasil mendapatkan nilai baik di pelajaran yang tidak aku sukai, maka buku itu akan ada ditanganku. Adrenalinku terpacu begitu saja. Aku menambah waktu belajarku, mulai mengulang materi dari sekolah dan mempelajari lagi dari rumus dasar. Akhirnya, apa yang aku usahakan tidak sia-sia. Bagiku, mendapat nilai 85 di pelajaran matematika dan hadiah buku yang aku inginkan adalah kebahagiaan yang tiada duanya pada waktu itu.

“Baru bosan membaca ya?” Tiba-tiba Ibu memberiku pertanyaan yang sudah kutakuti sebelumnya. Akan tetapi, karena Ibu terlihat biasa saja dan masih fokus membereskan buku-buku, aku sedikit merasa tenang.

“Iya, Bu,” aku menjawab dengan perasaan yang sulit dijelaskan, “aku ingin membaca, tapi entahlah. Rasanya, tidak tenang.”

“Apa buku yang terakhir kau baca?”

Aku mencoba mengingat-ingat karena terakhir kali aku menyelesaikan bacaanku sudah berbulan-bulan lalu.

Telegram,” jawabku, “milik Putu Wijaya.”

Ibu mulai mengembalikan buku-buku yang sudah rapi ke dalam almari dan laci, “setelah itu, apa yang kau lakukan? Memulai bacaan baru?”

“Tidak, Bu. Aku...aku juga tidak tahu perasaan ini apa, Bu.

       Setelah membaca buku itu, aku beristirahat karena harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Akan tetapi, ketika aku kembali membaca buku, perasaanku seperti tidak karuan. Aku merasa gelisah tiap malam, hilang minat untuk mengunjungi perpustakaan kota, sampai tidak bisa menyelesaikan bacaanku.” Kataku sambil melirik buku-buku yang belum terselesaikan di ujung kasur.

“Mungkin kau perlu suasana baru.”

Aku tidak mengerti apa yang Ibu maksud. Apakah aku harus membaca sambil berjalan-jalan? Atau membaca di tempat baru? Aku tidak mengerti.

“Apa kau tidak mau mencoba untuk menulis?” Kali ini Ibu menatapku lekat-lekat sampai aku melihat kesungguhan dalam matanya.

       Termenung sebentar, aku mulai memikirkan apa yang Ibu katakan. Dulu, pernah terlintas dalam benakku tentang menulis. Akan tetapi, itu hanyalah angan-angan samar karena kegilaanku pada membaca membuat aktivitas lainnya terasa tidak menarik. Di samping itu, bukankah menulis adalah keinginan dan bukan suatu keharusan?

“Kau tahu Pramoedya Ananta Toer kan?”

Aku mengangguk. Beliau adalah salah satu sastrawan favoritku.

“Ibu teringat akan kalimat yang pernah beliau katakan, kira-kira begini, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Lagi-lagi aku mengangguk. Aku pernah melihat quote itu di beberapa tempat, seperti perpustakaan dan toko buku.

“Kamu tahu maksudnya bukan?”

“Tahu, Bu. Aku memaknai kalimat tersebut untuk orang-orang yang memang memiliki keinginan dan kemauan untuk menulis. Jadi, kalau suatu saat ia tiada, ia ingin karyanya tetap abadi dan dikenang.”

       Ibu mengangguk dan mengusap pundakku pelan. Kami melanjutkan untuk membersihkan sisa-sisa yang ada sebelum beranjak ke karpet kamarku.

“Tetapi bukan itu yang Ibu ingin sampaikan,” Ibu menghela napas, “begini, kau mungkin memiliki pengetahuan atau wawasan yang kau dapatkan dari buku-buku bacaanmu itu, sayangku. Dan kau juga tidak peduli apakah orang sekitarmu mengetahui itu atau tidak. Kau berpikir bahwa buku-buku yang kau baca itu adalah bentuk dari keabadian.”

       Aku mendengarkan Ibu dengan seksama. Sesekali mengangguk sebagai bentuk persetujuan dari apa yang Ibu sampaikan.

“Namun sekarang, kau merasa gelisah. Pikiranmu berkecamuk walaupun saat membaca buku. Kau jenuh dengan aktivitasmu, tetapi kau tetap memaksanya. Pada akhirnya, kau tidak melakukan aktivitas favoritmu dan membiarkan buku-bukumu terbengkalai. Sedang Ibu sedih melihatmu yang tidak bisa lagi menutupi keresahanmu,” aku hanya diam mendengarkan apa yang Ibu katakan, “kau mungkin tidak akan peduli dengan orang-orang disekitarmu, putriku, tetapi kau membiarkan dirimu resah dan gelisah terus-terusan menguasai dirimu. Akhirnya, kau kehilangan dirimu sendiri bukan?”

       Mendengarnya, aku ingin menangis. Aku tersenyum tipis dan sekali-kali mengalihkan ke pandangan lain, berusaha mencegah kedatangan butir-butir kecil di pelupuk mata.

“Cobalah untuk menulis. Kau tidak harus menulis seperti buku-buku bacaanmu. Kau cukup menulis keresahan dan kegelisahanmu. Kau cukup menulis perasaan yang sedang kau rasakan. Setidaknya, apa yang kau rasakan memiliki tempat untuk dicurahkan, tidak hanya memenuhi pikiran dan hatimu.”

       Sebenarnya, masih banyak sekali yang kami bicarakan, tetapi kiranya seperti itulah percakapanku dengan Ibu di tengah-tengah gelisah yang aku hadapi. Waktu itu, Ibu mengecup keningku setelah memberikan buku bertema self improvement. Setelah itu, Ibu pergi meninggalkanku di kasur, sendirian, membiarkanku berkecamuk dengan pikiranku sendiri, tetapi kali ini dengan suatu hal yang baru.

       Menulis itu tidak mudah. Itu adalah pertama kali yang terlintas dipikiranku setelah berdiam diri di depan layar laptop selama kurang lebih sepuluh menit pertama. Di sepuluh menit kedua, aku mulai membiarkan jari-jariku menari di atas sana. Entah apa yang kutulis waktu itu—yang jelas, semuanya masih terlihat kabur dan abstrak. Aku memaksa menuangkan perasaanku meski tidak berlandaskan. Semua kalimat kubiarkan loncat dari satu topik ke topik lain. Tidak runtut.

       Hari-hari berjalan begitu saja, tetapi aku bukan lagi batu di tengah sungai. Batu itu bergerak sedikit demi sedikit, berusaha untuk melakukan penyesuaian dengan keadaan yang berbeda. Aku mulai menuliskan keresahanku dalam bentuk cerita yang berparagraf. Kuanggap tulisanku sebagai diary dari kegiatanku sehari-hari. Terkadang, aku menuliskannya dengan sudut pandangku sendiri, atau aku menuliskannya sendiri dengan sudut pandang dia, atau kadang menggunakan nama. Ah, kuharap kau mengerti.

       Segalanya berjalan begitu saja. Semua dimulai ketika aku mulai menulis dalam web yang kumiliki. Tujuanku menuliskannya di sana bukan karena agar orang-orang dapat melihat tulisanku. Bukan. Akan tetapi, aku ingin tulisanku tetap dapat kutemukan di mana saja meskipun aku tidak membawa laptop. Begitulah kiranya. Terus-terusan aku menulis. Berawal dari keluh kesah, lalu berubah menjadi beberapa paragraf, lalu kususun juga keresahan abstrakku menjadi bait-bait puisi, dan aku mulai bermain dengan imajinasi-imajinasi yang kubuat. Aku mulai menikmati aktivitas ini.

       Hal yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupku akhirnya terjadi. Ketika tulisan-tulisanku berhasil menembus penerbit, ada ledakan besar yang kurasakan dalam jiwaku. Rasanya seperti ada sesuatu yang bergerumul sejak lama, lalu dengan tepat ia menjadi gumpalan yang besar hingga meledak. Waktu itu, Ibu memelukku dengan erat. Dalam waktu-waktu seperti itupun, Ibu masih menjadi seseorang yang selalu memikirkan perasaan anaknya.

“Menulislah kalau kau ingin, yang terpenting adalah kau bertanggung jawab dengan tulisan-tulisanmu.”

       Aku paham betul maksud Ibu. Ia tidak ingin aku terjerembab lagi dalam perasaan gelisah, resah, jenuh, dan semacamnya. Aku hanya tersenyum dan menenggelamkan kepalaku didadanya. Kalau kau bertanya, apakah aku masih membaca? Ya, tentu saja masih. Aku menyadari bahwa dua aktivitas itu saling mengisi satu sama lain. Aku tidak pernah menyesal membaca buku hingga lelah, atau membaca ulang-ulang bukuku. Kupikir, ide dan imajinasiku yang berhasil kutulis adalah  sirkulasi dari buku-buku yang sudah kubaca.

***

       Hari ini aku duduk di bangku bawah pohon dengan kembang berwarna kuning dan merah muda. Aktivitasku begini-begini saja, menikmati pemandangan sekitar dengan kendaraan yang berlalu-lalang.

       Kulihat ada perempuan yang berusia kurang lebih 16 tahun berjalan ke arahku. Di tangan kanannya ada bucket yang diisi dengan bunga anyelir putih, lalu tangan kirinya memeluk pigura yang kuketahui berisi tulisan. Aku mendatanginya, lalu kubaca tulisan yang ditulis menggunakan peralatan lukis karena ada beberapa bercak basah mengelilinginya.

Kudengar kematian tidak tahu perhitungan

Biarku menghabiskan sisa-sisa lembar

Hingga kutemukan kepuasan

Kemari. Tiup aku dengan ajal

 

Aku tersenyum. Itu adalah potongan sajak yang kutulis pada sampul kumpulan cerpen Lembar Terakhir—yang salah satu kisahnya baru saja kuceritakan padamu. Perempuan itu meletakkannya di atas marmer hitam setelah mengusapnya pelan-pelan. Aku kembali tersenyum. Aku abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan