Ulasan Kangen - WS. Rendra

 

sumber: kompas.com

Kangen

WS. Rendra

Kau tak akan mengerti 
Bagaimana kesepianku 
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti
Segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun dalam darahku.

Apabila aku dalam kangen
Dan sepi itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

WS Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Penyair ini memiliki julukan “Burung Merak”. Dalam berkarya, WS. Rendra telah menghasilkan sajak-sajak indah. Uniknya, sajak-sajaknya muncul karena terinspirasi dari istri yang merupakan cinta pertamanya. Salah satu puisinya yang terkenal adalah yang berjudul Kangen.

Setelah membaca puisi tersebut, saya menduga bahwa puisi Kangen merupakan curahan hati penyair yang merindukan keberadaan seseorang dalam kesendirian. Terbukti dalam setiap baitnya, penyair merasakan sepi, hampa, dan sakit yang dirasa.

Pada bait pertama, saya menyimpulkan bahwa penyair berada disituasi menghadapi kebebasan dengan kesendirian dan tanpa cinta. kata kemerdekaan dalam puisi ini dapat berarti kebebasan atau kehidupan. Di bait ini juga WS. Rendra menggunakan “kau”, yang berarti menunjuk oleh seseorang yang entah tidak diketahui keberadaannya. Pada bait kedua, penyair menyampaikan sebuah maksud bahwa ia mengalami luka. Luka disini dapat berarti luka hati yang ia rasa. Penyair mengulang kata luka dua kali, yang pertama menegaskan bahwa ia memiliki luka, dan yang kedua, luka yang ia rasa telah menyembunyikan siapa pelakunya. Pada bait ketiga,  penulis ingin menunjukkan bahwa sosok “kau” pernah sangat berarti dalam hidupnya. Kata racun pada kalimat engkau telah menjadi racun dalam darahku dapat bermakna bahwa “kau” telah mengganggu keberadaan si penyair hingga penyair tidak akan bisa mengatasi karena “kau” telah memengaruhi segala aspek dalam hidupnya.  Di bait terakhir, penyair mengartikan bahwa kerinduannya tidak bisa menghasilkan apa-apa. Kalimat yang menarik bagi saya adalah aku tungku tanpa api, yang bisa dimaksudkan bahwa si penyair tidak bisa mengusahakan apa yang ia rasakan, ia tidak lagi merasa bisa berbuat sesuatu ketika kerinduan telah melandanya.

Puisi karya WS. Rendra ini begitu istimewa dalam pemilihan katanya. Sajak-sajaknya terasa begitu romantis padahal puisi ini sebenarnya menceritakan tentang kesepian. Dapat disimpulkan bahwa puisi ini mengisahkan tentang kerinduan kepada seseorang yang telah menyakiti “aku.” Kepergian “kau” membuat “aku” harus hidup dalam kesepian dan kesendirian dengan bayang-bayang “kau” yang menyakitkan. Dari puisi ini saya turut merasakan bagaimana pilunya ditinggal oleh seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan