Valiandayra Malam



Rumah itu kosong saat terakhir kali Max melihatnya. Lebih tepatnya, dua hari lalu saat ia harus ke bandung bersama keluarganya untuk menghadiri pernikahan pamannya. Tetapi saat ini, ketika ia duduk di teras lantai dua tempat kamarnya berada, salah satu lampu yang ada di rumah tersebut menyala. Hanya satu. Biasanya tidak.

Waktu menunjukkan pukul dua pagi ketika Max masih setia dengan segelas kopi yang ia buat sekitar satu jam lalu saat gerimis masih mengguyur ibukota. Hujan itulah yang membuat seminggu terakhir ini anak lelaki yang berumur 14 tahun itu terbangun dan turun ke lantai bawah untuk membuat secangkir kopi. Sebenarnya, kopi sudah menjadi kebiasaannya sejak usia 11 tahun karena menyicip kopi hitam milik ayahnya. Sejak saat itu Max merasa bahwa kopi sesuai dengan lidahnya.

Max berniat untuk menutup pintu bening teras kamarnya, tetapi belum sempat ia melakukan itu, teras rumah yang berada didepannya—gordennya bergerak pelan, tidak lama kemudian seorang perempuan berambut panjang membuka pintu dengan gerakan pelan. Max mengernyit. Tidak tahu bahwa ia memiliki tetangga baru yang entah—sejak kapan—berada di rumah yang sudah kosong selama dua tahun itu.

Perempuan itu sedikit terkejut melihat keberadaan Max, bahkan kakinya sempat melangkah ke belakang dua ketukan.

“Hei.”

Max memanggilnya dengan suara pelan, bahkan badannya ia agak condongkan kedepan melampaui pembatas pagar teras kamarnya.

“Hei.” Ulang Max. Perempuan itu hanya mengangkat kedua alisnya, memberi isyarat bahwa ia tidak mendengar apa yang anak lelaki itu katakan.

Max yang kehilangan akal akhirnya berdiam diri sampai ia melihat anak perempuan itu kembali menutup pintu dan gordennya. Tidak berselang lama, suara roda yang bergesekan dengan tanah membuat Max menurunkan pandangannya. Ia mendapati perempuan itu tengah bermain dengan sepatu roda berwarna biru yang sepertinya masih baru. Tidak butuh waktu lama untuk Max mengendap turun ke bawah.

“Hal gila yang pernah aku temukan selama hidup adalah melihat orang bermain sepatu roda di pagi buta.”

Max berjalan pelan menuju perempuan itu berada. Saat ini ia mengenakan hoddie hitam dan celana pendek selutut yang biasa ia kenakan sebelum tidur.

“Hal gila yang pernah aku temukan selama hidup adalah melihat orang yang mau melihat orang sedang bermain sepatu roda di pagi buta.”

Perempuan itu bergerak lincah kesana kemari sembari berbicara, kehadiran Max hanya terasa seperti angin yang tidak perlu dipertanyakan kehadirannya.

Max menduduki batas taman yang dibangun di tengah jalan perumahan. Kedua pipi Max terlihat merah karena kedinginan. Ia tidak bisa membayangkan sedingin apa perempuan ini yang hanya mengenakan dress putih yang lengannya hanya membalut pundak putihnya.

“Kamu pernah mendengar Valiandayra?”

Max mengernyit mendengar pertanyaan dari perempuan itu. Sebelum menjawabnya, ia melihat perempuan itu bergerak menjauh menuju lampu besar yang memberi pantulan hanya pada satu tapak. Bagus, kali ini semua perhatian seperti menyorot perempuan itu. Jika pohon dan benda mati disekitarnya memiliki mata, mungkin semua pandangan sudah menuju kearahnya.

“Tidak,” Max menggeleng. “memangnya dia siapa?”

Anak perempuan itu bergerak ke tempat  yang lebih gelap—menuju Max.

“Dia seorang anak kecil yang menyukai sepatu roda,” ia melepas sepatu rodanya, meletakkan di sebelah kanan Max untuk menjadi batas duduk diantara keduanya.

“Lalu?” Max sebenarnya tidak mengerti arah  pembicaraan ini.

Anak perempuan itu tersenyum kecil menatap Max yang kebingungan. “Lena,” ujarnya dengan menjulurkan tangan ke arah Max, “Magdalena.”

“Max,” balas Max.

“Aku ingin menjadi seperti Valiandayra, ya walaupun usiaku bisa dikatakan lebih tua darinya, tetapi aku ingin menjadi seperti dia.” Max dapat melihat dengan jelas dari mata bulat Lena bahwa ia memang menginginkannya. “semoga.” Lanjutnya.

Max hanya mengangguk-angguk, mengaminkan dalam hati. Hening beberapa saat membuat Max mengamati Lena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kalau dilihat-lihat, Lena terlihat seperti bukan berasal dari sini. Lena memiliki iris hitam namun jika dilihat dari dekat terlihat keabuan. Rambutnya sebenarnya hanya sedikit pirang, tetapi karena Lena memiliki kulit yang putih, jadi terlihat lebih pekat.

“Orangtua mu tidak marah kamu keluar di pagi buta seperti ini?” Max mengamati benda di pergelangan tangannya  yang saat ini menunjukkan pukul tiga pagi.

Lena menggeleng, “Asal mereka tidak tahu, mereka tidak akan marah.” Ujarnya dengan tawa kecil di ujung kalimat.

“Sejak kapan kau pindah, Len?” Max bertanya pada perempuan yang terlihat seumurannya.

Lena kembali memasang sepatu roda pada kaki cantiknya, “Dua hari yang lalu, hanya saja keluargaku harus mengurus pindahan dan barang-barang. Jadi, baru hari ini mulai menetap.”

Banyak pertanyaan yang ingin Max tanyakan, tetapi ia merasa tidak enak hati, takut-takut menyerempet ke arah yang seharusnya tidak boleh diketahui olehnya.

Semakin pagi, udara terasa semakin dingin. Max yang tidak biasa berdekatan dengan udara dingin mulai memeluk dirinya sendiri dan sedikit menggigil. Rasanya, badannya seperti ditusuk oleh duri-duri yang memiliki ujung es.

“Mau sampai jam berapa, Len?” Max heran dengan Lena yang kembali berputar-putar dengan sepatu rodanya.

“Se-bosanku,” perhatian Lena tidak sepenuhnya ke arah Max, “Kau duluan saja, besok kau sekolah.”

“Kau tidak sekolah?” Max balik bertanya.

“Aku homeschooling.

Karena udara dingin sudah tidak bisa ia elakkan, Max memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia meninggalkan Lena yang asyik bermain dengan sepatu rodanya. Tapi sebelum itu, Lena sempat berkata pada Max, “Datang saja ke rumahku, aku memiliki PS3 dan kita bisa main bersama.” Max hanya mengangguk dan tersenyum.

Max yang kedinginan langsung menaiki tangga rumah dengan pelan dan berrbaring di atas kasur dengan selimut tebalnya. Tetapi ia tidak bisa berbohong kalau pikirannya dipenuhi oleh Lena. Lemah sekali dia memilih meninggalkan seorang perempuan sendirian di luar rumah. Max tiba-tiba merasa malu.

Hingga akhirnya setengah jam kemudian Max baru bisa memejamkan mata setelah melihat lampu kamar Lena padam.

***

Begitu seterusnya. Hampir seminggu ini Max sering menemani Lena bermain sepatu roda di malam hari. Ia tidak bisa bermain dengan Lena di siang hari karena lelaki itu sudah disibukkan oleh sekolah, les akademik, dan ektrakulikuler futsal yang ia ikuti. Walaupun sekali dua kali Lena tidak keluar di malam hari, Max tetap menunggu di teras kamarnya dan memperhatikan kamar Lena.

“Lena, aku tidak bisa.” Ujar Max saat berusaha berdiri dengan sepatu roda yang dibelikan ayahnya semalam.

Lena tertawa, “Pegang tanganku,” uluran tangan Lena diterima oleh Max.

“Oh ternyata mudah,”  dengan tengilnya, Max mengedipkan sebelah matanya ke arah Lena. Perempuan itu memutar bola matanya dengan malas dan melepaskan genggamannya pada Max. Seketika anak lelaki itu jatuh.

“Sudah lah Len, aku melihatmu bermain saja.” Max kesal dengan Lena yang hanya tertawa. Disamping itu, dia merasa bahwa sepatu roda memang bukan passionnya. Ia lebih suka melihat Lena kesana-kemari dengan lembut dan terlihat lincah.

“Kau tidak akan pindah lagi kan, Len?”

Pertanyaan Max membuat Lena mengerem sepatu rodanya secara mendadak.

“Kenapa pertanyaan mu terdengar seperti bahwa aku akan pindah?”

Max menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sebenarnya, pertanyaan yang diberikan Max spontan keluar dari mulut laki-laki itu. Entah mengapa ia merasakan bahwa ada kemungkinan bahwa Lena akan pindah lagi, mengingat bahwa perempuan itu pernah bercerita bahwa ia sering pindah karena urusan kerjaan ayahnya.

“Aku hanya takut tidak memiliki teman,” kata Max, “Kau tahu? Di perumahan ini yang seumuranku hanya kau.

Lena menggeleng dengan mantap, “Sepertinya tidak. Karena hanya rumah ini yang dekat dengan kantor pusat ayahku bekerja.”

Max mengembuskan napas lega.

“Kau sedih jika tidak memilik teman Max?” Lena kembali mengulurkan tangan pada Max yang langsung dibalas oleh anak laki-laki itu.

“Aku anak tunggal Len, aku selalu merasa kesepian.” Max dengan pelan menggerakkan kakinya mengikuti gerakan Lena. “jadi aku merasa senang sekarang bisa memiliki teman.”

Lena tertawa ringan. “Bukankah senang tidak memiliki teman?” ujar Lena, “kau tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk orang lain, kau bisa fokus pada hidupmu sendiri.”

Sedikit mengangguk, Max menyetujui. “Ya memang, tetapi aku sudah merasa cukup untuk hidupku sendiri. Aku jenuh.”

Lena memberhentikan gerakan kakinya dan keduanya berhenti di bawah lampu remang-remang. “Suatu saat kau akan memiliki teman yang banyak. Jadi, nikmati saja hari-harimu saat ini, suatu saat kamu akan merindukannya.”

Ujung bibir Max tertarik ke atas, kedua matanya menatap Lena, dalam hati ia bersyukur karena setidaknya saat ini ia tidak lagi kesepian.

***

Hujan turun deras saat Max pulang dari les akademik. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat Max memasuki rumah dan menemukan ibunya sudah pulang bekerja. Sebuah pemandangan yang terlihat jarang. Karena biasanya, hanya ada sosok ayahnya yang pulang tepat waktu.

“Nggak lembur, Ma?”

Seroang perempuan yang sudah memasuki kepala empat itu tersenyum sembari merapikan meja makan. “Tidak, Max. Kerjaan mama sudah selesai kemarin malam, sedari siang, mama sudah pulang.”

Max mengangguk-angguk.

“Ini Max, antar makanan ini ke rumah tetangga baru kita.” Mama Max menyerahkan semangkuk besar berisi opor ayam ke Max, “Mama baru berkenalan tadi saat membersihkan taman di depan, ibunya juga sempat bermain ke rumah dan mengobrol sebentar dengan mama.”

Max hanya tersenyum, segera mungkin laki-laki itu mengambil payung dan membawa mangkuk itu dengan tangan kanannya.

Tidak cukup waktu lama untuk Max kembali ke rumah. Namun, wajah laki-laki itu terlihat kebingungan. Mama Max yang menyadari langsung menghampiri anaknya itu yang berjalan pelan setelah menutup pintu.

“Apa yang kau bawa, Max?”

Max menunduk, mengamati kantung plastik besar yang ada di tangan kanannya. Laki-laki itu menatap mamanya dan barang tersebut secara bergantian.

“Mama sempat berkenalan dengan Lena?”

Mama Max mengernyit, “Lena?” berfikir sejenak, “Oh mama ingat, ibu itu sempat bercerita tentang anaknya yang bernama Magdalena.”

“Ia tidak ikut main ke rumah?”

Mama Max menggeleng pelan, ia mengambil barang yang dibawa Max dan membukannya, dilihatnya kardus dengan tulisan PS3 yang masih terlihat baru.

“Oh ini milik Lena,” Mama Max seolah paham dengan barang tersebut, “Suami istri itu kehilangan putrinya di kecelakan sebulan lalu, Max. Maka dari itu mereka pindah agar kenangan bersama putrinya di rumah lama tidak terus teringat.”

Seketika sekujur tubuh Max kaku. Jantung laki-laki itu berdegub dengan kencang seiring dengan suara petir yang kembali terdengar di luar. Melihat Max yang pucat pasi, Mamanya menggoyangkan bahu Max dan memegang tangan anaknya yang terasa dingin.

“Oh iya Max,” tambah mamanya “tadi juga ibu itu menitipkan sesuatu, sepatu roda berwarna biru yang masih baru, itu milik anaknya yang sebenarnya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan