Tidak Semua Dapat dijelaskan dari Kedatangan dan Kepergian Seseorang
Untuk
kesekian kalinya, laki-laki bermata cokelat itu mengamati setiap kali pintu
bening itu bergeser ke kanan. Jari-jarinya saling bertaut dan salah satu
kakiknya tidak berhenti bergerak naik turun seakan-akan mengikuti irama. Kali
ini, pandangannya ke arah jendela sebelah kanan yang berembun. Hujan mengguyur
sejak dua jam yang lalu dan masih belum menunjukkan tanda-tanda reda.
Berulang
kali seorang waitress mengunjungi
mejanya hanya untuk memastikan apa yang lelaki itu inginkan, tetapi setelah
Sam—lelaki itu—mengangkat tangan kanan dan menunjukkan sekaleng minuman
berwarna hijau, waitress tidak lagi
mendatanginya karena ternyata yang dibutuhkan laki-laki itu hanya sebuah
tempat.
Sam
melirik jam dipergelangan tangan, helaan napasnya terdengar jelas saat melihat
jarum pendek di angka 12 dan jarum panjang di angka 6. Tiba-tiba terpikir
olehnya kalau saja ia tidak berada di cafe lebih awal, mungkin ia masih bisa
merapikan kumpulan album dan poster The Beatles yang koleksinya baru ia tambah
beberapa minggu lalu saat di Inggris. Ah,
sial.
Sam
melamun, masih menyayangkan letak kardus berisi album yang ia hanya letakkan di
depan tv ruang tamu, hingga tidak sadar bahwa seorang perempuan tengah berdiri
dengan napas terengah-engah.
“Neth...”
lirih Sam.
Perempuan
yang kedua tangannya sibuk menyisir rambut basahnya itu tersenyum tipis,
berbeda dengan Sam yang terlihat lebih gugup dari sebelumnya.
“Maaf
lama,” perempuan bernama Metha itu melepaskan jaket tebalnya. “sudah dari tadi,
Sam?”
Kalau
ada yang pernah merasakan sensasi dipanggil guru untuk mengerjakan soal
matematika di depan kelas, kira-kira seperti itulah perasaan Sam sekarang.
Campur aduk.
“Enggak,”
Sam menyandarkan punggungnya pada kursi, “belum lama, Neth.”
Mendengar
laki-laki didepannya masih menggunakan huruf ‘N’, Metha tertawa kecil. Ia ingat
betul ketika kekasih yang sekarang duduk dihadapannya ini memanggilnya Neth
hanya karena perempuan itu suka bermain bulu tangkis.
“Main bulu tangkis mulu, nanti muka
kamu kaya net.”
Sederhana.
Tapi, hal kecil apapun jika berasal dari orang yang kita suka, akan menjadi
beda maknanya.
“Kamu
ada jadwal pemotretan?” Sam mengamati makeup tipis yang tersisa dibagian
kelopak mata Meth, ia menduga bahwa perempuan itu sedikit terlambat pertemuan
hari ini karena harus menyelesaikan tugasnya menjadi seorang model.
“Ada.”
Jawab Metha, “makanya tadi aku nggak jawab panggilanmu karena aku buru-buru.”
Walaupun
Sam melihat Metha masih sama sejak tiga tahun yang lalu, tetapi ia bisa menebak
bahwa perempuan didepannya ini—saat ini—menyiratkan sesuatu hal yang ia
sembunyikan, padahal Sam juga tahu bahwa diantara keduanya kini sedang tidak
baik-baik saja selama kurun waktu enam bulan ini.
Sebenarnya,
lelaki itu ingin sekali bertanya pada Metha,
Kenapa?
Ada apa?
Kita kenapa?
Namun
ia tidak ingin menanyakan karena sejujurnya ia juga harus bertanya pada dirinya
sendiri sebenarnya apa yang terjadi diantara keduanya.
“Gimana
study kamu di Inggris?” kali ini
Metha meletakkan kedua tangannya diatas meja, menatap lekat Sam dengan
keduairis legamnya.
“Lancar,
kok.” Sam mengangguk-angguk, “walau,
ya ada hambatan kecil-kecil.” Lanjutnya disertai dengan kekehan kecil.
Metha
mengangguk, “Eum, Sam.” Kali ini nada Metha terdengar lebih rendah, “kamu mau
mendengarkan sesuatu?”
Sam
mau. Tapi belum siap. Akhirnya dia hanya mengangkat kedua alisnya bersamaan.
“Ini
menyakitkan, kamu tahu kan?” Metha tidak perlu jawaban dari Sam karena yang ia
inginkan sekarang hanyalah didengarkan.
“Tiga
tahun berjalan dengan enam bulan yang seperti ini rasanya menyakitkan.” Ujar
Metha, terdengar helaan napasnya di tengah kalimat.
Sam
hanya mendengarkan meskipun kaleng yang berada di genggaman tangannya sudah
berubah bentuk.
“Rasanya
beda. Kamu tahu kita kenapa, tapi kamu dan aku ga tau apa penyebabnya.” Metha
sedikit menggebu di kalimat penghujung, “lebih tepatnya, kita nggak tahu
sebenarnya kita harus apa?”
Alasan
mengapa Sam tidak menyukai romansa remaja adalah karena menurutnya, obrolan dan
adegannya dibuat terlalu menye-menye. Sam
tidak menyukai obrolan orang patah hati, jatuh cinta, dan hal-hal lainnya yang
terlalu didramatisir. Namun, sepertinya Sam harus menelan pil pahit ketika
adegan tersebut harus terjadi dalam kehidupannya. Pada kenyataannya Sam juga
tidak bisa melakukan apa-apa.
“Ibaratnya
seperti ini, bunga yang sudah mati, mau disiram beberapa kali pun ia akan tetap
mati.” Metha mengatakan dengan memainkan cincin di jari manisnya—pemberian Sam
beberapa tahun lalu sebelum laki-laki itu berangkat melanjutkan studynya. “Kita terlalu sering untuk
memupuk perasaan yang kita miliki, Sam. Sampai kita tidak tahu bahwa sebenarnya
apa yang pupuk sudah mati begitu lama, tetapi kita terus–“
“Kita
hanya jenuh,” potong Sam cepat. Laki-laki itu tidak mau memandang wajah Meth,
ia memilih memperhatikan sepasang kekasih yang duduk lompat dua meja dari
tempatnya berada.
“Bukan,
Sam.” Metha berdalih, kali ini satu tangannya ia gunakan untuk memegang sebelah
kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. “Kita hanya bertahan karena ini menjadi
kebiasaan...
...bukan
lagi kau dan aku yang saling tersipu selayaknya kekasih yang kasmaran. Atau kau
dan aku yang merindukan hari-hari pertemuan.” Kedua pelupuk mata Metha sudah
dipenuhi air yang sewaktu-waktu bisa kapan saja tumpah.
Sam
mengembuskan napas kasar. Dia masih belum mampu menatap Metha yang mulai
mengusap bergantian kedua pipinya yang sudah basah.
“Kita
tidak ada waktu untuk berkomunikasi Neth, hanya itu.” Ketika mengucapkannya,
Sam merasa dadanya seperti terhimpit. Ia sebenarnya mengiyakan apa yang
dikatakan Metha. Tetapi, wajar bukan apabila dalam suatu hubungan, salah satu
harus menguatkan agar tetap bertahan?
Kekehan
kecil Metha terdengar oleh Sam, membuat laki-laki itu langsung memusatkan
perhatian pada perempuan itu. “Kau ingat? Terakhir kali aku mengirimkan
kata-kata cinta kepadamu?” Metha bertanya tanpa memerlukan jawaban. “Kau tidak
membalasnya. Kau mengabaikan pesanku sebelumnya dan mengirimiku pesan dengan
topik lain yang sebenarnya kita bisa membicarakan hal lain. Kau tahu kita
membosankan Sam, dan aku yakin kau juga bosan dengan jawabanku yang hanya
itu-itu.”
Iya.
Sam bosan.
“Lalu,
apa mau mu Neth?”
“Sial. Apakah aku harus mengatakannya
sedangkan kau tahu apa maksudku?”
“Aku
tidak mau.” Sam menjawab dengan menatap iris pekat Metha. “Aku ke Indonesia
untuk menemuimu dan berharap semuanya kembali normal. Ini bukan yang aku
inginkan, Neth.”
“Tapi
ini menyiksaku, Sam. Setelah ini kau harus kembali ke Inggris, lalu bagaimana
dengan aku?”
Belum
sempat Sam menjawab pertanyaan Metha, terdengar bunyi dering ponsel yang
menunjukkan sebuah panggilan masuk. Sam memberi isyarat pada Metha agar
mengangkatnya terlebih dahulu, siapa tahu penting.
“Ada
apa?”
Metha
mengerutkan kedua alisnya, “Setengah jam lagi aku harus mengulang pemotretan,
aku harus bersiap dari sekarang.”
“Baiklah,”
ujar Sam. “Kabari aku saat kau pulang.”
Metha
menggeleng pelan, “Sam, maaf.”
Metha
pergi setelah mengecup ringan kepala Sam dengan air mata yang membendung.
Setelah perempuan cantik itu pergi, Sam hanya melamun hingga jam menunjukkan
pukul enam sore. Sam tidak mau pulang.
Sam
mau Metha.
***
5
Maret 2021
“Sam..”
“Sam..”
Panggilan
kedua kali membuat Sam sadar bahwa laki-laki itu baru saja melamun. Sam mengembuskan
napas, masih saja lamunannya berisi adegan serta obrolannya dengan seseorang.
Ia tidak sadar bahwa seorang perempuan sudah menghampirinya sejak beberapa
menit dan membiarkan Sam dengan tatapan kosong.
“Kenapa
sudah datang? Maksudku, bukannya jadwal
pemotretanmu selesai lima belas menit lagi?”
Perempuan
di depan Sam tersenyum tipis, “Aku sengaja menyelesaikan lebih awal agar tidak
membuatmu menunggu.” Katanya, “Oh iya Sam, aku sudah menghubungi MUA anjuran
mama ku, dia bersedia untuk mengurus makeup untuk pertunangan kita besok
minggu.”
Pertunangan?
Oh sial, aku hampir lupa.
“VANYA RADISTA?”
Seruan
seorang waitress membuat Sam turut
menoleh ke sumber suara, tidak lama kemudian perempuan di depan Sam mengangkat
tangan kanan dan melambaikannya.
Sam tersenyum, “Sejak
kapan kau menyukai kopi?”
“Sejak aku tahu kau
menyukai kopi.” Ujar Vannya dengan mengedipkan satu matanya.
9
Maret 2021

Komentar
Posting Komentar