PENDEKATAN PENGKAJIAN KARYA SASTRA MENURUT ABRAMS
A.
Pendahuluan
Sastra berasal dari bahasa sanskerta yaitu kata
“shastra” yang merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta, memiliki makna
teks yang mengandung instruksi atau pedoman. Dari kata “sas” yang memiliki
makna instruksi atau ajaran. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasanya
digunakan untuk mengacu kepada kesusastraan atau sesuatu tulisan yang memiliki
arti, makna, dan jugasesuatu yang memiliki suatu keindahan tertentu. Dalam
bukunya, Sumardjo mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha merekam isi
jiwa sastrawannya, rekamann ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk
rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain. Kehadiran karya
sastrajuga memunculkan istilah pendekatan karya sastra. Pendekatan karya sastra
berupa metode-metode untuk mengkritik suatu karya sastra.
Resume atau perincian ini bertemakan Pendekatan
Karya Sastra. Pendekatan Karya Sastra berkaitan dengan metode penelitian dalam
hal meneliti. Dapat dikatakan bahwa pendekatan karya sastra merupakan langkah
awal untuk meneliti. Secara umum, pendekatan yang familiar ada empat, yaitu
pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik (Abrams, 1971:6. Abrams
mengatakan bahwa kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan
pendefinisian, penggolongan, penguraian, dan penilaian.
Antara pengarang, pembaca, dan karya harus membangun
sebuah jejaring komunikasi yang akan melanjutkan pendekatan kajian sastra. Pencipta
> Karya yang dihasilkan > audien/pembaca.
Oleh karena itu, resume ini akan membahas lebih lanjut mengenai pendekatan karya sastra menurut Abrams.
B. Sejarah
Pendekatan Karya Sastra
Abrams (dalam Teeuw, 1988:50) “Mengemukakan empat pendekatan dalam
melihat karya sastra.”
1.
Pendekatan Mimetik (Semesta/Kenyataan)
Mimetik berasal dari kata mimesis (Yunani) yang berarti tiruan.
adalah pendekatan yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan
suatu tiruan atau penggambaran dunia dari kehidupan manusia. Pendekatan ini
diperkirakan muncul pada abad 18 dan 19. Bermula dari asumsi Plato dan
Aristoteles yang menganggap bahwa ars
imitato naturam atau seni itu meniru alam. Menurut Plato, seni adalah
peneladanan kenyataan. Namun, Aristoteles memiliki pendapat lain. Ia berasumsi
bahwa seni tidak sekadar meniru, melainkan juga menciptakan kembali alam yang
ditirunya.
2.
Pendekatan Pragmatik (Pembaca)
Soeranto dalam (Suwardi, 2013:117)
berpendapat bahwa pragmatik sastra, berwawasan bahwa karya sastra sebagai
produk yang menawarkan pandangan, saran, harapan, dan langkah-langkah untuk
mencapai kejelasan bahwa karya sastra perlu diteliti tidak saja dari aspek
retorika yang mengakibatkan pembaca tertarik, melainkan apa yang dilakukan
pembaca setelah menikmati karya sastra. Secara Historis, Abrams (1976), menyampaikan bahwa
pendekatan Pragmatik telah ada tahun 14 SM, terkandung dalam Ars. Poetica
(Horatius). Sebenarnya, keberadaan Pendekatan Pragmatik adalah karena merujuk
pada pemikiran Horatius.
Pendekatan
Pragmatik dimulai pada tahun 1960, pada saat itu ada dua tokoh ilmu sastra di
Jerman Barat. Kedua tokoh tersebut bernama Hans Robert dan Wolfgangler.
Keduanya memberikan penekanan terhadap pembaca sebagai pemberi makna karya
sastra. Pada tahun 1967, Teeuw (1984:5) mengatakan bahwa penelitian sejarah di
Eropa sejak lama telah melalui jalan buntu. Hal ni disebabkan karena pendekatan
lain yang tidak menghiraukan dinamika sastra terus-menerus, entah pada suatu
bangsa, suatu periode, suatu angkatan, dan zaman.
Tokoh
utama dalam karya sastra yang menekankan peranan pembaca ialah Hans Robert
Jousz dalam makalahnya yang berjudul literature alas provocation (sejarah
sastra sebagai tantangan). Menegaskan bahwa pembacalah yang menilai,
enafsirkan, memahami, dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan
peranan dari segi sejarah dan estetis.
Oleh
karena itu, pendekatan Pragmatik sangat berhubungan erat dengan para pembaca.
3.
Pendekatan
Objektif (Karya Sastra)
Pendekatan Objektif adalah pendekatan yang memandang dan menelaah
sastra dari segi intrinsik yang membangun sebuah karya sastra. Dengan kata
lain, pendekatan ini memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsik yang
membangun suatu karya sastra, yaitu tema, alur, latar, penokohan dan gaya
bahasa.
Kehadiran pendekatan sstruktur tidak lepas dari peranan kaum
Formalis. Pendekatan struktur itu sendiri sebenarnya sejak zaman Yunani dan
sudah dikenalkan oleh Aristoteles dengan konsep wholeness, unity, complexity, coherence. Ciri khas penelitian
sastra kaum Formalisme ialah penelitiannya terhadap apa yang merupakan sesuatu
yang khas dalam karya sastra yang terdapat dalam teks bersangkutan.
4.
Pendekatan Ekspresif (Pengarang)
Pada masa Yunani dan Romawi
penonjolan aspek ekspresif karya sastra telah dimulai seorang ahli sastra
bernama Dionysius Casius Longius dalam bukunya On The Sublime. Longius berasumsi bahwa karya sastra harus memiliki
gaya bahasa yang baik. Selain itu, peranan yang terpenting adalah falsafah,
pemikiran, dan persoalan agung.
Menurut Semi (1984), pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra. Pendekatan Ekspresif muncul pada abad 18 dan 19 pada saat pwngkritik sastra berusaha menyelami jiwa penyair melalui puisinya. Pada saat pengkajiannya, diperlukan data-data pengarang.
C.
Pembahasan
1.
Pendekatan
Mimetik
Mimesis
berasal dari bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik
sastra, mimesis diartikan sebagai pendekatan yang dalam kajiannya sealu
mengaitkan karya sastra dengan realita kenyataam (Ravertz 2007:12).
Pendekatan
Mimetik adalah yang pertama kali lahir dalam dunia kritik sastra. Pada awalnya
dilontarkan oleh Plato dan Aristoteles terhadap karya sastra. Pendekatan
Mimetik adalah pendekatan yang pengkajian sastranya memahami hubungan karya
sastra dengan realitas. Plato mengatakn bahwa, “Karya seni dan satsra hanya
tiruan dari kenyataan. Jadi nilainya lebih rendah daripada kenyataan. Sumber
lebih tinggi daripada tiruan.” Pernyataan ini juga didukung oleh Abrams (1981)
yang mengatakan, dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam
atau kehidupan. Abrams juga mengatakan bahwa dasar pertimbangan pendekatan
mimetik adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak
mewakili kenyataan sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyatan.
sebagai
seorang pembaca, pasti pernah diantara kita merasa bahwa latar, alur, tokoh,
dan peritiwa dalam suatu karya sastra terasa mirip dengan dunia nyata. Padahal
sebenarnya, fiksi dan fakta adalah dua hal yang berbeda. Menurut Abrams
(1981:61) Fiksi
adalah cerita rekaan atau cerita khayalan atau karya naratif yang tidak
menyaran pada kebenaran sejarah. Jadi, karya fiksi berupa novel, cerpen, dan
puisi dibuat tanpa ada unsur kesengajaan terhadap dunia nyata. Jika ditinjau
dari pernyataan Abrams, karya fiksi tidak jauh dari unsur mimetik dan kreasi.
Penulis karya fiksi biasanya menggunakan peristiwa dan fenomena dalam realitas
kehidupan sebagai ide dari karyanya, ditambah dengan khayalan kreativitas
pengarang.
a. Pengertian Mimetik menurut para ahli
1)
Plato mengungkapkan bahwa sastra atau
seni hanya merupakan .peniruan (mimesis) atau pencerminan dari kenyataan.
2)
Aristoteles berpendapat bahwa mimesis
bukan hanya sekadar tiruan, melainkan telah melalui kesadaran personal batin
pengarangnya.
3)
Raverzt berpendapat bahwa mimesis dapat
diartikan sebagai sebuah pendekatan yang mengkaji karya sastra yang berupaya
untuk mengaitkan karya sastra dengan realita suatu kenyataan.
b. Langkah-langkah analisis mimetik dalam
puisi
1)
Memahami kata-kata/ungkapan dalam puisi
2)
Membentuk parafrase
3)
Pengungkapan makna
4)
Menganalisis puisi atau kaitannya dengan
kenyataan
c. Beberapa karya yang menggunakan
Pendekatan Mimetik adalah:
1)
Kawin Paksa
2)
Konflik Generasi Tua dan Muda
Ada kelemahan dalam
Pendekatan Mimetik ini, yaitu: sering terjadi perbandingan antara fiksi dengan
realitas sampai melupakan kefiktifan karya tersebut.
2.
Pendekatan Ekspresif
Pendekatan Ekspresif
merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau tempramen penulis
(Abrams, 1981:189). Di samping
itu, menurut Semi (1984), pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan
perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke
dalam karya sastra. Dapat dikatakan bahwa Pendekatan ekspresif merupakan kritik
karya sastra yang berasal dari perasaan, ekspresi, emosional, dan curahan dari
penulis yang secara sadar atau tidak telah digambarkan dalam karya tersebut. Pendekatan
ini menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara karya dengan pengarangnya, seperti
biografi, psikologis, dan latar belakang pengarang dalam pembuatan karya
tersebut.
Karya sastra adalah anak
kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang, dengn
begitu karya sastra tidak akan lahir bila tidak ada yang menciptakannya. Jika
dilihat dari sudut pandang semiotik, dibalik sebuah teks selalu ada tujuan.
Dalam hal ini, pengarang menentukan apakah tulisannya dapat dimaksudkan sebagai
karya sastra atau bukan.
a. Pengertian Pendekatan Ekspresif Menurut
Para Ahli
1)
Semi (1984) mengatakan bahwa Pendekatan
Ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya
pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
2)
Pradopo (1997:193) mengatakan bahwa
Kritik Ekspresif mendefinisikan karya sastra sebagai ekspresi atau curahan,
atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang
beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan; kritik itu cenderung
menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan
vision pribadi penyair atau keadaan
pikiran; dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta
tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar
ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.
b. Langkah-langkah dalam penerapan
pendekatan ekspresif, antara lain:
1)
Pengkritik harus mengenal biografi
pengarang
2)
Melakukan penafsiran pemahaman terhada
unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra. Seperti tema, gaya bahasa, diksi,
citraan.
3)
Mengaitkan hasil penafsiran dengan
berdasarkan tinjauan psikologis kejiwaan pengarang.
c. Adapun analisis pendekatan ekspresif
Abrams terhadap karya sastra membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Pengenalan dan pemahaman terhadap obyek
yang dianalisis dengan cara membaca dengan cermt karya sastra yang akan
dianalisis untuk menemukan masalah-masalah yang penting dalam karya tersebut.
2)
Pengumpulan kepustakaan yang mungkin
bisa menunjang proses analisis karya sastra agar lebih akurat dan bisa
dipertanggungjawabkan.
3)
Pemahaman secara mendalam dan detail
mengenai pengarang berdasarkan data-data yang diperlukan, misalnya menelusuri
biografi secara lengkap dari dini hingga tumbuh dewasa dan latar belakang
kehidupan pengarang supaya bisa menemukan sikap dan ideologi pengarang.
Pendekatan Ekspresif tidak semata-mata hanya memberikan
perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan. Tetapi, bentuk-bentuk yang
terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan.
Kelamahan dari Pendekatan Ekspresif adalah kecenderungan
untuk menyamakan secara langsung realitas yang ada dalam karya sastra dengan
realitas yang dialami sastrawan.
3. Pendekatan Objektif
Pendekatan Objektif adalah
pendekatan yang mengutamakan perhatiannya pada karya itu sendiri. Dalam hal ini,
pandangan terhadap karya sastra bebas dari pengaruh pengarang atau pembaca.
Tugas dari peneliti atau penelaah karya sastra adalah meneliti unsur dan
hubungan antar unsur dalam karya sastra. Rene Wellek dan Austin Warren menyebutnya
pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra
yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.
Pendekatan objektif (Abrams,
1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, antarhubungan,
dan totalitas karya sastra. Hal ini dimaksudkan, perhatian analisis terutama
ditujukan pada unsur pembangun karya sastra. Bila diterapkan pada puisi, yang
dianalisis adalah diksi, bahasa, citraan, dan sarana retorika. Jika diterapkan
pada cerpen, maka yang dianalisis adalah penokohan, gaya bahasa, dan sudut
pandang. Pendekatan Objektif sering dikatakan sama dengan kajian
Strukturalisme. Analisis strukturalisme bertujuan untuk membongkar dan
memaparkan secara cermat, celiti, mendalam keterkaitan, dan keterjalinan semua
unsur dan aspek karya sastra secara bersama-sama serta menyeluruh.
a.
Pengertian Pendekatan
Objektif Menurut Para Ahli
1) Yudiono (1984:53) menegaskan
bahwa Pendekatan Objektif merupakan pendekatan sastra yang menekankan pada segi
intrinsic karya sastra yang bersangkutan.
2) Luxemburg (1971:593)
menyatakan bahwa kebuah karya sastra atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi
keseluruhan karena adanya relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan
antara baian dan keseluruhannya.
b.
Struktur Pendekatan Objektif
Unsur-unsur dalam pendekatan
Objektif berkaitan dengan struktur sebagai totalitas dalam karya sastra.
Berikut akan saya jabarkan syarat utama struktur dalam pendekatan Objektif yang
saya dapatkan dari kuliah Pendekatan Kajian Sastra beberapa minggu lalu oleh MBKM
UPI & UNY:
1)
Order
Order atau urutan dan aturan: ada keteraturan dalam aksi dan menunjukkan konsekuensi dan konsistensi yang make sense atau masuk akal.
2)
Amplitude atau Complexity
Luasnya ruang lingkup dan
kekompleksan suatu karya sastra harus cukup untuk memungkinkan perkembangan
peristiwa masuk akal.
3)
Unity
Semua unsur dalam plot harus
ada dan tidak mungkin bertukar tempat tanpa mengacaukan keseluruhannya.
4)
Connection
Sastrawan tidak bertugas
untuk menyebutkan hal-hal yang sungguh terjadi, melainkan hal-hal yang mungkin
terjadi atau hars terjadi dalam rangka keseluruhan plot.
c.
Jenis Pendekatan Objektif
Pendekatan Objektif dapat
dikategorikan kedalam beberapa jenis, diantaranya:
1) Filologi
Merupakan jenis pendekatan
yang memusatkan sekitar masalah editorial dan rekonstruksi teks.
2) Retorika dan Stilistika
Pendekatan ini berfokus pada
aspek bentuk (tekstur, sudut pandang) dan gata (kiasan retoris, diksi,
sintaks).
3) Formalism dan Strukturalisme
Istilah ini mencakup
beberapa bidang di paruh pertama abad keduapuluh yang tujuan utamanya terletak
pada penjelasan dari pola formal dan struktural teks sastra.
4) Semiotika dan Dekonstruksi
Jenis ini merupakan metode baru dalam teori sastra yang berorientasi pada teks. Pendekatan ini menganggap bahwa teks sebagai sistem tanda.
d.
Analisis Struktural
Selain itu, Analisis karya sastra dengan
pendekatan strukturalisme memiliki berbagai kelebihan, diantaranya:
1) Pendekatan struktural memberi peluang untuk
melakukan telaah atau kajian sastra secara lebih rinci dan lebih mendalam.
2) pendekatan ini mencoba melihat sastra sebagai
sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam dirinya.
3) Memberi umpan balik kepada penulis sehingga
dapat mendorong penulis untuk menulis secara lebih berhati-hati dan teliti (Semi,
1993: 70).
Biasanya, penerapan
pendekatan ini secara sederhana untuk menganalisis karya sastra puisi.
Penerapan ini diformulasikan dalam hal berikut:
a) Mendeskripsikan unsur-unsur
struktur karya sastra
b) Mengkaji keterkaitan makna
antara unsur-unsur struktur kary sastra
c) Mendeskripsikan fungsi serta
hubungan antara unsur (intrinsik) karya yang bersangkutan.
e.
Ciri-ciri Pendekatan
Objektif
1) Teori Objektif memandang karya sastra
sebagai suatu yang berdiri sendiri.
2) Pendekatan dilihat dari eksistensi
sastra itu sendiri berdasarkan konvensi yang berlaku.
3) Untuk mengetahui keseluruhan makna dalam
karya sastra, unsur-unsur pembentuknya harus dihubungkan.
4) Penilaian yang diberikan dilihat adri
sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra terssebut berdasarkan keharmonisan
semua unsur-unsur pembentuknya.
5) Menghubungkan konsep-konsep kebahasaan.
Beberapa ahli juga menjabarkan
langkah-langkah penerapan pendekatan karya sastra. Adapun langkah-langkah
menelaah puisi dapat melalui tahap-tahap yang dikemukakan oleh Waluyo ( 1987:
146), yaitu Menentukan
struktur karya sastra ,
menentukan
penyair dan kenyataan sejarah, menelah unsur-unsur, serta sintesis dan
interpretasi. Dengan empat tahap tersebut, diharapkan puisi dapat
dipahami sebagai struktur dan sebagai suatu kesatuan yang bulat dan utuh.
Sejalan dengan itu Djojosuroto (2006:60) mengemukakan analisis strategi
pemahaman puisi. Strategi tersebut dimulai dengan: pemahaman makna kata,
pemahaman baris dan bait, dan pemahaman totalitas makna.
Pendekatan
Objektif memiliki kelemahan yaitu menolak unsur-unsur ekstrinsik dalam karya
sastra.
4.
Pendekatan Pragmatik
Pendekatan
pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk
menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut
dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain.
Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut
keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacannya (Pradopo, 1994)
Pendekatan Pragmatik adalah
pendekatan dalam menelaah karya sastra yang menitikberatkan pada bagaimana
karya sastra bisa memberikan manfaat kepada pembacanya. Pendekatan Pragmatik
memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Di pendekatan ini, pembaca
yang akan menentukan sendiri apakah tulisan tersebut merupakan karya sastra dan
apakah dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Semakin banyak nilai, manfaat,
dan ajaran yang diberikan maka suatu karya tersebut akan dianggap bagus.
Abrams
(1981) mengatakan bahwa pendekatan Pragmatik sebagai salah satu pendekatan
dalam telaah sastra -- di samping pendekatan ekspresif, objektif, dan mimetik yang
berorientasi pada seberapa jauh suatu teks sastra memberikan manfaat kepada
atau mempengaruhi pembaca/audiensnya. Pendekatan Pragmatik memiliki asas Horatius. Asas ini menyatakan bahwa tujuan penyair ialah berguna
atau memberi nikmat, sekaligus mengatakan hal-hal yang bermanfaat. Sebenarnya,
keberadaan Pendekatan Pragmatik adalah karena merujuk pada pemikiran Horatius.
a.
Pengertian Pendekatan
Pragmatik Menurut Para Ahli
1)
Teeuw (1994) mengatakan bahwa pendekatan
Pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang menitikberatkan dimensi
pembaca sebagai penangkap dan oemberi makna terhadap karya sastra.
2)
Dawse dan User (1960) mengatakan bahwa
Pendekatan Pragmatik merupakan interpensi pembaca terhadap karya sastra
ditentukan oleh apa yang disebut horizon
penerimaan yang memengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra.
3)
Pendekatan Pragmatik merupakan
pendekatan yang tak ubahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang
menghidupkan sebagai proses konkritasi (Vedika).
b.
Metode Kajian Pendekatan
Pragmatik
Dalam
pendekatan Pragmatik, ada metode bernama pendekatan eksperimental, metode-metode yang bisa
dilakukan dalam proses pengkajiannya, yaitu:
1)
Pembaca, perorangan atau kelompok
disajikan sejumlah pertanyaan dalam teks angket yang berisi tentang permintaan,
tanggapan, kesan, penerimaan.
2)
Kepada pembaca perorangan atau kelompok
diminta untuk melihat bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya
sastra.
3)
Kepada masyarakat tertentu diberikan
angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya melihat
prestasi sekelompok kritikus terhadap kontenporer.
c.
Prinsip-prinsip Pendekatan
Pragmatik
1) Otonomi karya sastra
dianggap tidak relevan dalam kajian sastra.
2) Pembaca bukanlah pribadi yang tetap
sama, melainkan selalu berubah-ubah.
3) Pembacalah yang
menghidupkannya melalui proses konkretisasi.
4) Teks sastra selalu
menyajjikan ketidakpastian makna, sehingga memungkinkan pembaca untuk
memahaminya secara terbuka lebar (Teuuw, 198)
5) Prinsip tata krama:
komunikatif, bertutur mengasumsi norma lokal dan umum yang berlaku di masyarakat.
6) Prinsip interpretasi
pragmatik
a) Interpretasi lokal:
pendengar wajib menginterpretasi ujaran pembicara sebatas makna pembicara.
b) Prinsip analogi: tidak
mengubah makna topik atau proposisi ujaran pembicara kecuali yang bisa
mengubahnya sendiri.
7) Pragmatik wacana
Tindak tutur mengasumsi
kohesi, koherensi dan pilihan ragam.
8) Pragmatik sosialisasi
9) Prinsip kerja sama Grice:
katakan secukupnya.
d.
Karakteristik Pendekatan
Pragmatik
1) Asumsi dasar penekatan
pragmatik yaitu karya sastra yang bersifat artefak.
2) Dalam menelaah, unsur yang
menjadi objek telaah mencakup seuluruh unsur, baik fisik maupun unsur lain.
3) Proses telah dimulai dari
resepsi personal pembaca keseluruhan bagian dan mencari hubungan struktur
bagian kemudian menempatkan struktur keseluruhan menjadi struktur yang lebih
besar. Lalu dikonkretisasikan melalui proses redeskripsi.
4) Teknik telaah pragmatis dan
dialektik yaitu dengan melibatkan pengalaman pembaca, pengarang disamping unsur
intrinsik yang menjadi acuan.
5) Bentuk telaah harus
kompleks.
6) Unsur pengarang danpembaca
dipertimbangakan dalam menelaah sebagai bagian dari genetik untuk kesempurnaan
makna.
7) Esensi karya sastra adalah
makna setiap unsur.
8) Pangkal tolak telaah dari
resepsi pembaca terhadap unsur bangun karya sastra.
9) Dasar pertimbangan dalam
penentuan makna adalah perpaduan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik disertai
faktor genetik dan pengalaman yang dipunya pembaca.
Pendekatan Pragmatik memiliki kelemahan yaitu cenderung
menilai karya sastra mnurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu
kepada pembaca.
D. Kesimpulan
Abrams
mengatakan bahwa dalam karya sastra, terdapat 4 pendekatan kajian sastra.
Keempatya yaitu pendekatan Mimetik, pendekatan
Objektif, Pendekatan Ekspresif, dan pendekatan Pragmatik. Keempat pendekatan
ini memiliki metode, analisis, dan tujuan yang berbeda-beda dalam proses
analisisnya. Semuanya memiliki peran masing-masing dalam menganalisis
semesta/kenyataan, pengarang, pembaca, dan karya sastra.
Dalam semesta/kenyataan, pengkritik mengutamakan bagaimana karya sastra tersebut dipandang sebagai tiruan dari kehidupan nyata. Dalam kritik pengarang, pengkritik menganalisis bagaimana keadaan pengarang dalam penulisan suatu karya tersebut. Dalam kritik pembaca, pengkritik menganalisis apakah karya sastra tersebut mampu memberikan manfaat bagi pembaca. Yang terakhir, kritik karya sastra. Dalam kritik ini, pengkritik bersifat netral. Pengkritik hanya menganalisis unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra.
DAFTAR
PUSTAKA
Al
Anshori, ubai dillah. (2020). Analisis cerpen lelaki ragi dan perempuan santan
karya Damhuri Muhammad dengan pendekatan ekspresif. Diakses pada 27 Desember
2020, dari https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/view/19965/14180 .
Atnanagoy. (2014).
Pendekatan Dalam Kajian Sastra. http://www.rumpunsastra.com/2014/09/pendekatan-dalam-kajian-sastra.html,
diakses
pada 30 Desember 2020.
https://www.mjbrigaseli.com/2014/07/makalah-pendekatan-ekspresif_25.html
https://www.pelajaran.co.id/2019/13/pengertian-fiksi.html
Junus,
Umar. 1985. Resepsi Sastra, sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Kuswoyo. 2015.
Pendekatan pragmatik dalam pembelajaran
bahasa. Diakses pada 31 Desember 2020, dari http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1765041&val=18855&title=PENDEKATAN%20PRAGMATIK%20DALAM%20PEMBELAJARAN%20BAHASA
Luxemburg, Yan Van, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (terjemahan bahasa Indonesia oleh Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.
Rahayu, Ira. (2014). Analisis Bumi
Manusia Karya Pramoedya Ananta Noer
Dalam Pendekatan Mimetik. Diakses pada 27 Desember 2020, dari http://www.fkipunswagati.ac.id/ejournal/index.php/deiksis/article/view/50/48.
Winarti.
Gambaran Pendidikan Pesantren Pada Novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi:
Pendekatan Mimetik. Diakses pada 26 Desember 2020 , dari http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/kumpulandosen/article/viewFile/3095/pdf_735#:~:text=Menurut%20Abrams%20(dalam%20Siswanto%2C%202008,sastra%20sebagai%20imitasi%20dari%20realitas.
Komentar
Posting Komentar