Pemanfaatan Fonetik Artikulatoris: Berdasarkan Penelitian Terhadap Anak Down Syndrom

 

ABSTRAKSI

Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai hasil penelitian pemanfaatan fonetik artikulatoris terhadap anak down syndrom. Fonetik artikulatoris memberikan dampak yang baik dalam meningkatkan keterampilan bahasa seseorang. fonetik artikulatoris bisa digunakan meningkatkan kemampuan pelafalan bahasa anak terutama dengan gangguan down syndrom  ringan.  Penelitian terhadap anak dengan down syndrom dilakukan melalui satu siklus pretest dan dua siklus posttes. Dalam siklusnya, peneliti menggunakan bunyi vokal, konsonan, dan beberapa kata dalam bahasa sasak sehinga dapat terlihat mana yang masih menjadi kesulitan dalam pengujarannya.

Hasil pretest menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan pelafalan bunyi siswa menunjukkan kategori yang ‘kurang’. Dengan begitu masih ditemukan banyak siswa yang mengalami masalah pelafalan pada beberapa bunyi. Setelah dilakukan posttest siklus tahap I dan II, kemampuan pelafalan siswa mengalami peningkatan yang ringan. Siswa mampu mengucapkan huruf vokal dengan baik hingga mencapai 97,50%. Hal ini masuk dalam kategori sangat baik. Meskipun demikian, masih ditemukan kekurangan pada pelafalan huruf konsonan, terdapat beberapa bunyi bahasa yang belum bisa diucapkan dengan baik.

Kata kunci: Down Syndrom, Bunyi Bahasa, Fonetik Artikulatoris

ABSTRACT

This article aims to provide information about the results of research on the use of articulatory phonetics in children with Down syndrome. Articulatory phonetics have a good impact in improving one's language skills. Articulatory phonetics can be used to improve the pronunciation of children's language skills, especially with mild Down syndrome disorders. Research on children with Down syndrome was conducted through one pretest cycle and two posttest cycles. In the cycle, the researcher uses vowels, consonants, and several words in the Sasak language so that it can be seen which ones are still difficult to pronounce.

The results of the pretest showed that the average student's sound pronunciation ability showed a 'less' category. That way, there are still many students who have problems with the pronunciation of some sounds. After the posttest cycles of stages I and II were carried out, the students' pronunciation ability experienced a slight increase. Students are able to pronounce vowels well up to 97.50%. This falls into the very good category. However, there are still deficiencies in the pronunciation of consonants, there are some language sounds that cannot be pronounced properly.

Keywords: Down Syndrome, Language Sounds, Articulated Phonetics

PENDAHULUAN

Fonologi adalah ilmu tentang bunyi-bunyi bahasa dan bagaimana penyalurannya. Fonologi masuk dalam bidang linguistik yang membedakan makna. Bunyi-bunyi bahasa tersebut dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dalam pengklasifikasiannya, fonologi memerlukan fonetik untuk  mengidentifikasi bunyi bahasa tersebut.  

Fonetik adalah cabang fonologi yang mengkaji tentang penciptaan, penyampaian, dan penerimaan bunyi bahasa. Fonetik juga bisa dikatakan sebagai subdisiplin linguistik yang menelaah bunyi bahasa tanpa menghiraukan bermakna atau tidaknya bunyi tersebut (Soeparno, 2013). Karena fonetik dikatakan sebagai penciptaan suatu bunyi bahasa, maka penerapannya menggunakan ilmu anatomi, fisika, dan psikologi. Dalam penggolongannya,  ada tiga jenis fonetik yang biasa dibahas dalam kajian fonologi, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustis, dan fonetik auditoris. Ketiga fonetik ini memilki perannya masing-masing dalam proses bunyi bahasa. Menurut Abdul dalam Supardi (2017), Fonetik artikulatoris meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Fonetik artikulatoris juga disebut dengan fonetik organis, fokus terhadap aktivotas penutur dengan alat-alat artikulasi dan proses artikulasi. Fonetik ini berkenaan dengan alat-alat artikulasi; proses artikulasi; berkenaan dengan penciptaan bunyi bahasa; berkenaan dengan alat-alat ucap dalam artikulasi. Setelah itu, bunyi yang keluar dari alat ucap menghasilkan gelombang bunyi yang bisa disebut dengan fonetik akustis. Setelahnya, terpusat pada gelombang bunyi oleh telinga pendengar yang disebut fonetik auditoris.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia telah menciptakan bunyi-bunyi bahasa ketika berbicara. Bunyi-bunyi bahasa tersebut tercipta melalui proses arus udara, fonasi, oral-nasal, dan artikulasi. Dalam fonetik artikulasi, terdapat alat ucap dalam proses pembentukan bunyi bahasa: Labium, dent, alveolum, palatum, velum, uvula, apex, laminum, medium, dorsum, velix, faring, epiglotis, laring, paru, oral, dan nasal. Alat-alat ucap tersebut memiliki tempat masing-masing dari paru-paru hingga bibir berbentuk dari sebuah bunyi yang diujarkan. Contohnya, untuk menghasilkan bunyi [b] kedua bibir harus dikatupkan bersama-sama, melalui proses  embusan dari paru-paru. Beberapa konsep yang perlu dipahami dalam fonetik artikulastoris adalah proses artikulasi, artikulator, dan titik artikulasi. Artikulasi yaitu perubahan rongga dan ruang saluran dalam menghasilkan bunyi bahasa. Artikulator ialah bagian alat ucap yang dapat bergerak (lidah, bibir bawah). Titik artikulasi ialah tempat terciptanya bunyi bahasa oleh artikulator.   

Dengan begitu, telah memami bahwa dalam keseharian, secara tidak sadar manusia menggunakan konsep fonetik artikulatoris dalam menghasilkan bunyi bahasa. Hanya saja, tidak semua orang memanfaatkan fonetik artikulatoris dalam kegiatan atau aktivitas tertentu. Oleh karena itu, tulisan ini dibuat untuk memberikan pembahasan dari penelitian yang dilakukan Assaki, Pastika, dan Suparwa dalam penelitian Pemanfaatan Fonetik Artikulatoris untuk Peningkatan Kemampuan Pelafalan Bahasa Sasak Anak Down Syndrom Ringan di Lombok Timur dari jurnal Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana. 25(2).

PEMBAHASAN

Fonetik artikulatoris memberikan dampak yang baik dalam meningkatkan keterampilan bahasa seseorang. seperti yang dilakukan oleh Assaki, Pastika, dan Suparwa, dalam jurnal penelitian Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Lingistik Universitas Udayana (2018), mereka memanfaatkan fonetik artikulatoris untuk meningkatkan kemampuan pelafalan bahasa anak terutama dengan gangguan Down Syndrom ringan. Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa sebuah Yayasan Pondok Harmoni Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur, ditemukan anak dengan down syndrom memiliki kekurangan dalam keterampilan berbicara. Oleh karena itu, peneliti melakukan riset mengenai bunyi apa yang bisa dilafalkan anak down syndrom dan membandingkan setelah mengenalkan dengan teknik fonetik artikulatoris.

            Pada pretest awal, Assaki.dkk menemukan bahwa  masih banyak ditemukan kesalahan anak dalam pelafalan bunyi bahasa, dalam segi vokal, artikulasi, dan frasa. Hal itu terjadi karena anak dengan gangguan down syndrom memiliki Karakteristik yang khas pada bagian fisik anak down syndrome khususnya pada bagian alat ucap seperti besarnya ukuran lidah, bibir tebal, rongga hidung sempit dan posisi rahang yang tidak sempurna menyebabkan gangguan artikulatoris menjadi deficit yang sangat menonjol (Santrock:2011 dalam Assaki, Pastika, dan Suparwa 2018).

Berikut adalah tabel presentasi nilai tes awal (pretest) siswa setelah dilakukan penelitian:

No

Siswa

Nilai Total

Kategori

1.

Siswa 1

39%

Sangat kurang

2.

Siswa 2

50%

Kurang

3.

Siswa 3

50%

Kurang

4.

Siswa 4

42%

Kurang

5.

Siswa 5

61%

Cukup

6.

Siswa 6

64%

Cukup

7.

Siswa 7

58%

Kurang

8

Siswa 8

69%

Cukup

Nilai rata-rata siswa: 54,4%      

Kurang

(Assaki, Pastika, Suparwa 2018 dalam Jurnal Penelitian Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana)

Tabel di atas merupakan hasil test pelafalan bunyi vokal, konsonan, dan bunyi lainnya yang keluar dari mulut siswa. Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa kemampuan siswa masih terbilang kurang, terutama anak dengan down syndrom. Bagi anak down syndrom, ketidaksempurnaan alat ucap yang mereka miliki memengaruhi bunyi konsonan yang diucapkan. Hal ini serupa dengan yang disampaikan Febriana (2016) bahwa  down  syndrome memiliki  ciri fisik  khusus,  seperti  kondisi  mulut  yang  terlalu  sempit dengan lidah  pendek  dan tebal,  serta  gigi  tidak  rata  membuat produksi  fonologisnya berbeda dengan anak normal.

Anak dengan down syndrom mengalami kesulitan ketika melafalkan bunyi konsonan bilabial seperti b dan p. Tidak hanya itu, bunyi konsonan lain yang sulit diucapkan ada k, g, r, dan c. Kesulitan mengucapkan bunyi tersebut mengakibatkan orang lain sulit untuk mengerti apa yang mereka katakan.

Tahap selanjutnya yang dilakukan Assaki, Pastika, dan Suparwa dalam penelitiannya ialah tindakan dalam kelas. Dalam pelaksanannya, peneliti menyiapkan materi, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan menyiapkan instrumen seperti buku catatan, lembar observasi dan kamera video (handycam) untuk melaksanakan rekaman. Pengajaran di mulai dari membawa siswa ke dalam ruangan khusus dan nyaman agar siswa bisa fokus dalam pembelajaran. Setelah itu, siswa akan diajari cara membuat bunyi bahasa terutama alam bahasa sasak dengan konsep fonetik artikulatoris.  Para murid melakukan satu persatu dan harus intensif agar mengalami peningkatan. Kegiatan selanjutnya yang dilaksanakan yaitu proses observasi. Pada proses ini, digunakan catatan dan lembar observasi selama proses pembelajaran.

            Kegiatan akhir yang dilaksanakan adalah refleksi. Pada jurnal penelitian tersebut, dikatakan bahwa selama proses pembelajaran, terdapat peningkatan presentase nilai dibandingan dengan presentase yang sebelumnya.

            Dari penelitian tersebut, bisa dikatakan bahwa pembelajaran pelafalan bunyi menggunakan fonetik artikulatoris memberikan manfaat untuk siswa terutama pada anak down syndrom apabila dilakukan secara intensif dan penuh pengawasan. Tabel peningkatan pemahaman bunyi bahasa bisa dilihat di bawah ini:

Siklus I

No

Siswa

Nilai Total

Kategori

1

Siswa 1

56

Kurang

2

Siswa 2

60

Cukup

3

Siswa 3

64

Cukup

4

Siswa 4

59

Kurang

5

Siswa 5

69

Cukup

6

Siswa 6

80

Baik

7

Siswa 7

77

Baik

8

Siswa 8

84

Baik

Nilai rata-rata siswa = 68,62%

Cukup

(Assaki, Pastika, Suparwa 2018 dalam Jurnal Penelitian Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana)

Dari tabel di atas, terlihat bahwa ada perbedaan persentase dari tabel pretest yang hanya menujukkan 54,4% meningkat sebesar 14,22% menjadi 68,62%. Meskipun hanya mengalami peningkatan ringan, sudah terlihat bahwa teknik ini efektif dan bermanfaat.

Assaki, Pastika, dan Suparwa (2018) mengatakan, “Terdapat masing-masing 12 % atau 1 dari 8 orang siswa masing-masing masih salah dalam melafalkan vokal e yang seharusnya dilafalkan [ə ] tetapi dilafalkan dengan bunyi [ e ] seperti dalam kata apel yang lafalnya[ apəl ] dilafalkan dengan [ apey ] dan vokal o yang seharusnya dilafalkan dengan [ o ] tetapi dilafalkan dengan bunyi [ O ] seperti dalam kata lalo yang lafalnya [ lalo ] dilafalkan dengan [ yayO ]. Kesulitan dalam membedakan bunyi agak rendah [O] dengan bunyi yang agak tinggi [ o ] karena mereka mengalami kesulitan dalam memosisikan lidah yang sering menjadi penghambat untuk melafalkan bunyi vokal dengan tepat.”

 

            Masih terdapat ketidaksinkronan pelafalan huruf tertentu yang mengakibatkan perbedaan makna dalam kata yang diucapkan. Namun, tidak berhenti sampai disitu, peneliti akan melakukan posttest II dengan harapan semakin memberikan perubahan yang baik.

 

Hasil Siklus II

Dilakukan lagi postest pelafalan siklus II yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelafalan siswa. Berikut tabelnya:

No

Siswa

Nilai Total

Kategori

1

Siswa 1

67%

Cukup

2

Siswa 2

66%

Cukup

3

Siswa 3

71%

Baik

4

Siswa 4

71%

Baik

5

Siswa 5

76%

Baik

6

Siswa 6

86%

Sangat Baik

7

Siswa 7

82%

Baik

8

Siswa 8

95%

Sangat Baik

Nilai rata-rata siswa= 76,75%

Baik

(Assaki, Pastika, Suparwa 2018 dalam Jurnal Penelitian Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana)

            Setelah adanya posttest II terlah terjadi peningkatan ringan dari posttes I sebanyak 8,13%. peningkatan tersebut membuat kategori yang sebelumnya ‘kurang’ dan ‘cukup’ menjadi kategori baik.  

            Assaki, Pastika, dan Suparwa (2018) mengatakan bahwa “Hasil tes akhir (posttest) siklus II pada bunyi vokal dalam penelitian ini menunjukkan

bahwa para siswa yang sebelumnya sebagian besar telah mampu melafalkan bunyi vokal, meskipun ada beberapa siswa yang masih belum tepat melafalkan dengan benar, menunjukkan

peningkatan dalam melafalkan bunyi vokal dalam berbicara bahasa Sasak. Nilai rata-rata yang diperoleh yaitu sebesar 97,50 % yang berarti kemampuan anak down syndrome ringan dalam melafalkan bunyi vokal tetap termasuk dalam kategori sangat baik dengan peningkatan persentase nilai sebesar 11,5 % (nilai rata-rata posttest siklus I 86 %).”

 

            Peningkatan bunyi vokal terlihat terutama pada anak down syndrom. Assaki, Pastika, dan Suparwa (2018), juga mengatakan hanya terdapat dua siswa yang mengalami kesulitan dalam pelafala huruf k, g, dan glotal. Selain itu, hanya tersisa dua siswa yang belum mampu mengataka bunyi getar. Dengan begitu, penelitian inii bisa dikatakan berhasil karena mengubah kategori dengan awal ‘kurang’ menjadi ‘baik’.

 

KESIMPULAN

Dari penelitian tersebut, terjadi peningkatan pelafalan bunyi vokal dan konsonan yang siswa gunakan untuk berbicara dalam bahasa sasak. Para siswa terutama anak down syndrom menunjukkan kemampuan yang cukup baik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa fonetik artikulatoris bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pelafalan bunyi bahasa seseorang. Tentu saja harus dengan pelatihan yang pendampingan dan pelatihan yang insentif. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Febriana, Elva. (2016). Produksi Fonologis Anak Down Syndrom Usia 10-12 Tahun Berdasarkan Tingkat Kecerdasan dan Masa Terapi. Jurnal Buana Sastra. Diunduh di http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/bastra/article/view/655 pada 20 Mei 2021

Supardi, Chris Novika. (2017). Penerapan Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Fonetik Artikulatoris Terhadap Pembelajaran Asing Tingkat Dasar. Repository UPI.  Diunduh di http://repository.upi.edu/31384/ pada 20 Mei 2021

Soeparno. (2013). Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.

Assasaki, Bayu Islam. dkk. (2018). Pemanfaatan Fonetik Artikulatoris untuk Peningkatan Kemampuan Pelafalan Bahasa Sasak Anak Down Syndrom Ringan di Lombok Timur. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana. 25(2). Diunduh di https://ojs.unud.ac.id/index.php/linguistika/article/view/47727 pada 20 Mei 2021.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan