Pancasila Mengalir Pada Tubuh yang Sepi
Gigil tubuh kelesah di atas dahan. Kabar perceraian berlang-lang
hidup dipikiran. Sudah
bertahun-tahun tubuhnya dipijak negara. Sayap adalah saksi generasi
silih berganti. Dari
banyak kesengsaraan, perisai berselimut debu sebab tidak diusap
anak cucu. Serupa dengannya, pancasila sumber kebijaksanaan negara adalah anak
burung mencari induknya. Ideologi agung melekat pada hati yang sepi. Bertanya.
Adakah sisa nilai-nilai luhur ketika teknologi menjelma makanan sehari-hari?
i
Dalam kotak
radiasimu
Orang-orang
mengutuk umat siapa yang paling mujur
Bangunan
tinggi, rata dengan getar di pesta perayaan
Tempat suci,
beraroma kayu yang habis dilahap abu
Tuhan yang
mendengar bumi timur bergetar, selalu
menurunkan
wahyu berupa rezeki untuk sesama
serupa air mata
yang turun dari ibu, rezeki
turun untuk
siapa saja. Tidak akan melihat
tanah milikmu
yang subur makmur, atau kering
serupa elang
yang kehausan.
ii
Pada layar yang
menyala
pertikaian
berwarna hitam di kalender
nyawa manusia
adalah hewan sirkus
dipermainkan.
Diberi umpan. Berjalan. Berlari
di atas pisau
bermata dua.
Kabut isu menawarkan
diri di perjamuan
ia meraba pohon
beringin yang termakan usia
pohon yang sepi
dari pandangan manusia
ia melucuti
pokok kayu, menanggal ranting
menyisakan akar
yang dicabut waktu. Tapi
akarnya turun
ke bawah, menyelinap, menyusup
meraba zamin,
mengaliri kekuatan
sederas sungai
yang menghidupi padi, lalu
lahir
Pancasila
merebah di dahan yang sepi. Sepi yang sadar penuh. Sepi yang dalam sasmita,
nama Tuhan dan manusia mengalir pada nadi dan darahnya. Sepi yang beryukur
untuk bumi timur. Nilai-nilai kemanusiaan akan pedoman hidup tetap tumbuh
subur.

Komentar
Posting Komentar