Padahal
Padahal,
ia tidak menahu persoalan perasaan
tapi ia selalu terbuka
soal diberi dan memberi
dikasih dan mengasihi
Padahal pula,
akar-akar itu telah menguat
katanya gerimisnya sudah rembes
mengalir. Sampai ke teluk-teluk
juga pelabuhan
Lagi-lagi padahal,
ia bisa menepis pengasingan
menepis batas. Juga jarak
melebur untuk mendua
mendua untuk menyepi
Tapi kebijaksanaan lagi-lagi
berpulang
Ia memilih mengaliri kasur
dengan rontan kepedihan,
yang turun dari mata
atas gejolak cemburu
yang membakar kesenangan
sehingga ia kembali sepi
—memilih
menelan sepi

Komentar
Posting Komentar