Menganalisis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya: A.A Navis

 


A.    Pendahuluan

Robohnya Surau Kami adalah sebuah cerpen karya A.A Navis. Cerpen ini terbit pada tahun 1956. Cerpen ini menceritakan tentang seorang kakek yang meradang akibat mendengar cerita dari seorang pembual mengenai seorang haji saleh yang masuk ke neraka karena hidupnya hanya beribadah dan taat kepada Tuhan tanpa memedulikan keberadaan orang lain. Dengan tambahan keagamaan yang  disisipkan dalam cerpen tersebut, membuat saya terkesan bagaimana bisa A.A Navis membuat pembacanya terketuk hingga sampi akhir cerpen ini menyajikan plot twist yang tidak terbayangkan bagi pembaca. Untuk membaca bagian cerpen Robohnya Surau Kami bisa ditemukan di halaman 140.

B.     Analisis unsur pembangun fiksi (intrinsik dan ekstrinsik)

Setelah membaca cerpen berjudul Robohnya Surau Kami, saya menemukan berbagai unsur dalam cerpen ini yang bisa digolongkan menjadi dua jenis yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.

1.      Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik merupakan unsur yang dapat ditemukan di dalam cerpen. Unsur ini terdiri dari tiga jenis yaitu fakta, sarana, dan tema.

a.       Fakta

1)      Penokohan

a)      ‘Aku’            

b)      Kakek.          

c)      Ajo Sidi        

d)     Haji Saleh     

e)      Istri 'Aku.’    

f)       Istri Ajo Sidi 

g)      Tuhan       

2)      Watak Tokoh

a)      Aku     : Dermawan, perhatian

Dibuktikan dengan kalimat ”Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang.”

b)      Kakek  : Rajin beribadah, baik hati, ikhlas, dan mudah tersinggung

Dibuktikan dengan kalimat "Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahuwataala. TakTak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya.”

c)      Ajo Sidi. : Iseng, pembual, ramah

Dibuktikan dengan kalimat “Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku

yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya.”

d)     Haji Saleh : taat beribadah, percaya diri

Dibuktikan dengan kalimat “Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’.”

e)      Istri 'Aku.’ : Baik

f)       Istri Ajo Sidi : Amanah, baik, menurut pada suami

Dibuktikan dengan bagian di mana istri Ajo Sidi menyampaikan apa yang suami amanatkan kepadanya.

g)      Tuhan. : Maha baik

3)      Alur

Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur mundur. Karena menceritakan ulang bagaimana kakek bisa meninggal. Dibuktikan dengan kalimat  “Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.”

4)      Latar

a)      Latar suasana

-          Mengejutkan.  

 "Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku

-          Muram.           

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek.

-          Menyedihkan

 Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kasihan kepadanya.

-          Hampa               

 “Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

b)      Latar waktu

-          Beberapa tahun yang lalu

-          Sekali se-jumat

-          Sekali enam bulan

-          Pada suatu waktu

-          Sekali hari

-          Pagi hari

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota

kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar.

.....hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu....

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek...

..."Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai..

....Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu....

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi....

c)      Latar tempat

-          Surau

-          Rumah 'Aku.’

-          Desa/Kampung

.....Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku.

...Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

...Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

b.      Sarana

1)      Judul                

 Robohnya Surau Kami

2)      Gaya Bahasa    

Dalam cerpen ini terdapat beberapa macam majas  yang ditemukan. Majas pertama adalah hiperbola. Disebut hiperbola karena terdapat beberapa kata yang dilebih-lebihkan. Majas hiperbola ditemukan pada kalimat “Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.”. Majas lain yang dapat ditemukan adalah majas parabel. Majas parabel adalah majas yang berisi tentang nilai-nilai moral, di kisah ini nilai moral yang bisa diambil adalah saat membaca percakapan antara Tuhan dengan haji saleh dan para umat yang lain, perumpamaan disini berisi nilai-nilai yang ber-moral. Lalu, majas lain yang bisa ditemukan adalah majas sinisme. Majas sinisme berisi tentang ejekan atau sindiran kepada orang lain. Dalam cerpen ini, majas sinisme dapat ditemukan dalam sebuah kalimat “Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.”

3)      Sudut Pandang

Sudut pandang dalam cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu 'Aku.’ Dapat dibuktikan bahwa dalam cerpen tersebut peran 'aku' seolah-olah menceritakan apa yang terjadi dalam desa tersebut. Tokoh 'aku' juga menjadi perantara untuk tokog-tokoh lain.

4)      Amanat

·         Jangan sampai ketaatan ibadah membuat lupa kehidupan sosial kita di dunia.

·         Jangan mudah tersinggung dengan ucapan orang lain.

·         Menolong orang lain harus penuh keikhlasan tanpa imbalan.

·         Jangan menyombongkan gelar atau kelebihan yang kita miliki.

·         Jangan cepat merasa puas terhadap apa yang kita lakukan.

·         Jangan mementingkan diri sendiri.

c.       Tema

Cerita ini mengisahkan tentang orang yang lalai akan kehidupan di dunianya, terbukti dengan adanya peran Haji Saleh dan Kakek yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri. Jadi, tema dari cerpen ini adalah Kelalaian seseorang terhadap keduniawian yang diberikan Tuhan.

2.      Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik cerpen adalah unsur yang ditemukan di luar cerpen tersebut. Unsur ekstrinsik meliputi latar belakang pengarang, biografi pengarang, dan nilai-nilai cerpen.

a.  Latar belakang pengarang

Selain karena A.A Navis mencintai menulis, secara tidak langsung cerpen inj    dibuat untuk mengkritik sebagian orang yang salah dalam mengartikan isue terkait keagamaan.

      b.  Biografi penulis

Buografi yang saya tulis dibawah ini didapatkan dari situs wikipedia..

Nama              : Ali Akbar Navis

TTL                : Padang Panjang Sumatera Barat, 17 November 1924

Meninggal      : 22 Maret 2003

Karya lain       : Cerpen Bianglala, hujan panas, kemarau, dan Saraswati

      c.   Nilai-Nilai

1) Nilai sosial

     Sebagai makhluk sosial, kita harus saling membantu satu sama lain.

2) Nilai Adat

     Mengikuti dan menghormati nilai-nilai yang ada di lingkungan kita, bisa ha-

     dir melalui apa yang agana ajarkan dan ada di lingkungan sekitar kita

3) Nilai moral

     Sesama makhluk hidup tidak boleh saling merendahkan dan mencela orang

     lain.

4) Niai pendidikan

     Melatih untuk tidak berputus asa karena apapun masalahnya pasti ada jalan

     keluar.

5) Nilai agama

     Kita harus yakin atas ketetapan Allah. Berpegang teguh kepada Tuhan jangan

     putus asa dan harus tetap berdo'a.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan