Analisis Unsur Naskah Drama “Pelacur dan Sang Presiden.”



A.     Pendahuluan

“Pelacur dan Sang Presiden” merupakan salah satu naskah drama yang ditulis oleh Ratna Sarumpaet atas dorongan dari UNICEF pada tahun 2006. Naskah drama ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Jamila yang sedari kecil sudah menjadi korban perdagangan untuk dijadikan pelacur oleh ayahnya. Singkat cerita, Jamila mengaku telah membunuh seorang pejabat negara. Sebelum dia dijatuhi hukuman mati, Jamila meminta untuk bertemu dengan presiden dan ulama tersohor. Naskah drama ini diangkat menjadi film dengan judul “Jamila dan Sang Presiden.”

B.       Analisis unsur naskah drama

Setelah saya membaca naskah drama tersebut, saya akan menganalisis unsur-unsur naskah drama. Unsur-unsur tersebut mencakup unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik mencakup tema, alur, tokoh, latar/setting, dialog, bahasa, konflik, amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik mencakup latar belakang pengarang, nilai agama dan kepercayaan, kondisi politik negara, psikologis pengarang, dan situasi sosial budaya.

1.      Unsur Intrinsik Naskah Drama “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet

a.       Tema

Pengertian tema pada drama merupakan ide pokok atau gagasan utama sebuah cerita drama. Bisa dibilang bahwa tema adalah gagasan pokok dari keseluruhan isi cerita dalam drama. Secara keseluruhan, naskah drama ini menceritakan tentang kehidupan perempuan yang sedari kecil sudah diperdagangkan menjadi seorang pelacur. Oleh karena itu, tema dari naskah drama tersebut adalah “Perdagangan Anak.”

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya  kutipan dialog dibawah ini:

Jamila lahir di tengah sebuah masyarakat yang beranggapan bahwa memperdagangkan anak perempuan untuk dijadikan pelacur adalah hal biasa bahkan sudah membudaya. Terlahir cantik, menjadikan Jamila sejak masih kecil sudah digadaikan Ayahnya pada seorang mucikari. Pada saat itu ia masih berusia dua tahun.

 

“Dia dengan enteng memutus tali pusarku dari air susu Ibuku, lalu menyerahkanku pada seorang mucikari. Pada waktu itu usiaku masih 2 tahun Bu.”- Jamila

 

“Di kampung halamanku, menggadaikan seorang anak perempuan pada saat mereka masih bayi merah – bukan dongeng Bu Nyai– tapi realita.”- Jamila

b.      Alur

Yang dimaksud alur dalam drama adalah jalan cerita dari sebuah pertunjukkan drama mulai babak pertama hingga babak terakhir. Dalam naskah drama “Pelacur dan Sang Presiden.” Alur yang saya temukan menggunakan alur campuran (maju dan mundur). Alur maju ditemukan pada babak pertama pada saat Jamila masuk menjara karena membunuh menteri kabinet.

Alur pertama ditemukan pada dialog:

Pembaca Berita 1: “Nurdin Hidayat, salah seorang menteri kabinet, pagi tadi ditemukan meninggal dunia di kamar sebuah hotel berbintang lima. Tubuhnya berlumuran darah dengan beberapa tusukan di bagian dada dan perut. Kematian Menteri Nurdin dilaporkan sendiri oleh pelakunya, Jamila, kepada pihak kepolisian. Jamila mengaku membunuh Menteri Nurdin dalam keadaan sadar.”

Pada dialog tersebut, langsung menggambarkan bagaimana Jamila melaporkan dirinya dipenjara. Selanjutnya, alur yang saya temukan adaah alur mundur. Alur ini dibuktikan dengan narasi dari seorang narator,

Narator 1: “Di ruang isolasi Jamila lebih banyak merenung. Menyesali keadaanya yang penuh dengan dosa dan kenistaan. Mengenang masa lalu yang mengharuskannya terus bertahan hidup walaupun dengan cara yang tidak ia ingini. Mengenang semua perjuangannya bertahan meskipun terkadang harus membunuh orang lain. Ia berusaha mengingat dirinya yang dulu, Jamila yang polos, yang belum bersentuhan dengan mucikari dan sejenisnya, kemudian ia berusaha mencari sosok dirinya yang dulu pada jamila yang sekarang, jamila yang akan segera dihukum mati karena kasus pembunuhan. Namun di tengah perenungannya, masa lalunya yang kelam itu tidak berhenti berputar di otaknya. Termasuk masa lalunya ketika masih menjadi pelacur di Kalimantan.”

 

Setelah narator membacakan narasi tersebut, naskah drama memasuki part 2 dan megisahkan sedikit tentang Jamila pada masa kelamnya,

 

BU DARNO, SEORANG GERMO, SETENGAH BAYA, KUAT, KERAS SEDANG MENYERET-NYERET JAMILA (MUDA) BERSAMA SEGEROMBOLAN ANAK-ANAK PEREMPUAN DIBAWAH UMUR, KASAR, MELINTAS PANGGUNG. TATI, SEORANG PELACUR, MENGEJAR BU DARNO.

 

Naskah diatas menjadi awal mula dialog masa kelam Jamila dimulai. Setelah itu, memasuki part 3 dalam drama yang dimulai dengan dialog dari seorang sipir,

BU RIA: “Eksekusi mati atas Jamila, pembunuh Menteri Nurdin, dilakukan besok. Sesuai permintaan Jamila, sebelum dieksekusi, Bapak Presiden dan Bu Nyai sohor Zaenab akan menemui Jamila.” (menatap jamila dengan tatapan tidak habis pikir)

Dengan demikian, alur yang digunakan dalam naskah drama tersebut adalah alur campuran.

c.       Penokohan

Penokohan adalah pemeran yang ada dalam naskah tersebut. Penokohan ini juga mencakup watak dari tokoh tersebut. Dalam naskah drama yang saya baca ini, saya menemukan ada 12 penokohan.

1)      Jamila

Tokoh Jamila digambarkan sebagai seseorang yang berani, angkuh, keras kepala, pendendam, dan pemberontak. Hal ini dapat dibuktikan dengan dialog dibawah ini,

JAMILA: “Cukup! Cukup!! Cukup !!!! Aku sudah bilang aku tidak membutuhkan pembelaan.” 

JAMILA YANG DUDUK DI BALE DI DALAM SELNYA. MATANYA MENATAP KE SATU ARAH, JAUH, PENUH DENGAN KEMARAHAN DAN KEBENCIAN.

2)      Pembawa Berita

Pembawa berita digambarkan dengan sifat jujur dan apa adanya. Dibuktikan dengan dialognya dalam membawakan berita.

3)      Para Pelacur

Para pelacur digambarkan dengan sifat berani dan nekat. Watak ini dibuktikan dengan dialog,

SEREMPAK PARA PETUGAS MENGHAMPIRI PARA GADIS UNTUK MELAKUKAN PENGGELEDAHAN. TERJADI KEGADUHAN, KARENA TANPA DIDUGA PARA PELACUR JUSTRU LEBIH SIGAP MENYERANG PARA PETUGAS.

 

 

4)      Tati

Tokoh Tati digambarkan dengan watak pemberontak dan peduli terhadap Jamila. Dapat dibuktikan dengan dialog,

TATI: “Saya sudah bilang, saya bukan polisi, jadi saya gak mau!”

TATI: “Tapi Jamila hanya mau jadi TKI Bu Darno!”

5)      Jaelani

Tokoh Jaelani memiliki karakter peduli. Hal ini dibuktikan dengan dialog,

JAELANI: “Aku akan membelamu Jamila. Dengan cara apapun.”

6)      Bu Darno

Karakter Bu Darno digambarkan dengan sifat keras dan egois. Hal ini dibuktikan dengan dialog,

BU DARNO: “Bagus. Itu kesepakatannya. Dan jangan pernah anggap enteng dengan kesepakatan itu karena urusannya nyawa, Paham ?”

BU DARNO: “Ayo, sekarang kamu ikut saya!” (bu darno menyeret jamila, meninggalkan arena)

7)      Pengacara

Pengacara bernama  bu Malik digambarkan dengan karakter peduli. Hal ini dibuktikan dengan dialog,

PENGACARA: “Jamila. Kamu membunuh seorang pejabat tinggi. Banyak pihak meragukan proses yang berlangsung di Pengadilan. Terlalu cepat dan tidak masuk akal.”

8)      Istri Pejabat

Istri pejabat memiliki karakter keras, emosian, pemarah, dan sombong. Hal ini dibuktikan dengan dialog:

ISTERI PEJABAT: “Lancang!! Dasar Pelacur, Kamu membunuh seorang Menteri, perempuan sundal, dan sekarang terang-terangan meminta Presiden datang kemari? Mau kamu apa hah ?”

ISTERI PEJABAT: “Hei. Dengar ya. Saya ini isteri seorang pejabat penting.”

ISTRI PEJABAT LANGSUNG MENGAMBIL ALIH. IA MENDEKATI JAMILA DAN MULAI MENJAMBAK RAMBUT JAMILA.

 

9)      Bu Ria

Sebagai sipir, karakter Bu Ria digambarkan dengan watak tegas dan keras. Hal ini dapat dibuktikan dengan dialog:

BU RIA MENGHAMPIRI POLISI PENJARA, GERAM.

BU RIA: “Tugas kamu menjaga napi. Bukan bercengkerama dengan napi.”

BU RIA MENCOBA LEBIH TEGAS SEKALIGUS BERWIBAWA
BU RIA: “Karena apa yang keluar dari mulut kamu itu bisa memberatkan hukumanmu.”

10)  Bu Nyai

Sebagai ulama, bu Nyai digambarkan sebagai sosok yang lembut dan tidak tegas.  Dibuktikan dengan sikapnya yang hanya menasihati tanpa memberikan sebuah tindakan.

11)  Petugas Penjara

Petugas penjara dan polisi memiliki sifat keras dan tegas. Dibuktikan dengan sikapnya dalam mengatasi kericuhan yang terjadi dalam sel Jamila.

PARA POLISI ITU MENYERET JAMILA KELUAR. JAMILA TERUS SAJA BERTERIAK. SUARANYA SEMAKIN SERAK DAN BERBAUR AIR MATA.

12)  Presiden

Presiden diambarkan sebagai sosok yang tidak peduli. Hal ini dibuktikan dengan narasi:

PADA SAAT ITU PRESIDEN JUSTRU MENINGGALKAN PANGGUNG JAMILA MERADANG MENGULANGI PERTANYAANNYA KE TEMPAT DIMANA PRESIDEN SEBELUMNYA BERDIRI.

d.      Latar/setting

Latar/setting adalah keterangan yang menunjukkan waktu dan tempat di mana peristiwa dalam drama itu terjadi. Latar yang saya temukan di naskah drama ini yaitu:

1)      Latar Tempat

Latar tempat pertama yang saya temukan yaitu di penjara. hal ini dibuktikan dengan:

BU RIA: “Penghuni penjara ini bukan cuma kamu Mila. Mimpi buruk itu biasa. Jadi gak usah teriak-teriak. Membunuh seorang pejabat tinggi mampu, menghadapi mimpi buruk kok seperti orang kesurupan.”

Tempat lain yang saya temukan adalah di rumah. Dibuktikan dengan:

BU DARNO: “Saya pusing dengan kamu! Saya tidak tau kamu siapa, keturunan siapa? Kamu tahu-tahu ada di hadapan saya, mandi di kamar mandi saya, makan makanan dari dapur saya, tetapi tidak sedikit pun mau mendengar nasehat saya. Mau kamu apa Jamila?”

Latar tempat yang digunakan dalam naskah drama ini adalah di penjara dan di rumah.

2)      Latar Waktu

Latar waktu yang saya temukan dalam naskah drama ini dibagi menjadi dua fase. Yaitu fase pertama pada saat Jamila dewasa, dan fase kedua saat Jamila masih muda. Dibuktikan dengan penggunaan alur campuran dalam drama ini.

3)      Latar Suasana

Latar suasana yang saya temukan dalam naskah drama ini yaitu:

a)      Suasana marah

ISTRI PEJABAT: “Eh, Melawan lagi ….. “ (Seraya ingin menampar jamila)

BU DARNO: “Tutup mulut kamu kalau Ibu sedang bicara Tati. Dan sejak kapan kamu jadi makelar? Mau nyaingin aku sekarang?hah…!

b)      Suasana sedih

Suasana sedih saya rasakan pada saat membaca dialog dibawah ini:

JAMILA: “Itu pengalaman terpahit sepanjang hidupku Bu Ria. Aku dititipkan di tengah keluarga itu agar aku aman dan tumbuh sehat. Dan dua lelaki di keluarga terhormat itu, setiap malam menggerangi tubuhku, merenggut kesucianku …. “

JAMILA: “Asal Ibu tahu, Ayah kandungku, orang yang seharusnya paling bertanggung jawab melindungiku, adalah orang yang paling mendambakanku menjadi pelacur.”

JAMILA: “Siapa yang menginginkanku jadi pelacur? Siapa menumpuk kebencian didadaku? Siapa …… Siapa …… Siapa …… “

BERDIRI DI ATAS SAJADAHNYA, JAMILA BERUSAHA MEMUSATKAN PIKIRANNYA UNTUK MELAKUKAN SHALAT. TAPI SETIAP KALI IA MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA UNTUK MENGUCAPKAN ALLAHU AKBAR, TUBUHNYA SEPERTI TIDAK SANGGUP MENAHAN BEBAN MASA LALUNYA. IA MERASA KOTOR. IA MERASA TIDAK LAYAK. TIDAK BERDAYA MELAKUKAN SHALAT, DALAM PUTUS ASA IA MEMBIARKAN TUBUHNYA TERDUDUK, SUJUD. IA MENJATUHKAN TUBUHNYA HINGGA KENING TERLETAK DI ATAS AL’QURAN DI ATAS SAJADAHNYA. JAMILA MENANGIS, TERGUNCANG

e.       Dialog

Dialog adalah serangkaian percakapan dalam cerita. Naskah drama ini menggunakan dialog karena melibatkan dua orang atau lebih.

f.       Bahasa/gaya bahasa

Gaya bahasa merupakan kata-kata yang digunakan dalam naskah drama tersebut. Dalam naskah drama ini, gaya bahasa yang saya temukan yaitu sinisme, sarkasme, dan hiperbola.

Bukti dari gaya bahasa sinisme yaitu:

BU RIA BANGKIT. IA BICARA SINIS SAMBIL MENGITARI JAMILA, TAK HENTI MENGAYUNKAN PENTUNGANNYA.
BU RIA: “Pelacur bicara tentang kesucian …..”

Dialog di atas menunjukkan ketidakpercayaan Bu Ria terhadap apa yang diucapkan Jamila.

Gaya bahsa sarkasme yang saya temukan:

ISTERI PEJABAT: “Lancang!! Dasar Pelacur, Kamu membunuh seorang Menteri, perempuan sundal, dan sekarang terang-terangan meminta Presiden datang kemari? Mau kamu apa hah ?”

Gaya bahasa hiperbola yang saya temukan:

JAMILA: “Dua tangan ini sudah berlumur darah sejak aku masih kanak-kanak . . . Dan aku tidak mampu membersihkannya. Tangan ini seperti ditakdirkan untuk terus menerus berlumur darah ….. Untuk terus menerus kotor dan menagih.”

g.      Konflik

Arti konflik adalah pertentangan atau masalah yang terjadi pada suatu drama. Naskah “Pelacur dan Sang Presiden” menyajikan konflik di mana Jamila harus dihukum mati dalam kebenaran yang dipegangnya.

Konflik yang mencolok adalah ketika Jamila terlibat perseteruan dengan Bu Ria yang merupakan sipir penjara.

TANPA SEDIKITPUN EMPATI, BU RIA DENGAN SIKAP KASAR YANG BERLEBIHAN MEMUNTAHKAN KEJENGKELANNYA PADA JAMILA.

Narasi di atas menjadi awal di mana Jamila terlibat perseteruan dengan Bu Ria.

h.      Amanat

Amanat yang dapat ditemukan dalam naskah drama ini yaitu:

-          Jangan takut untuk memperjuangkan kebenaran

-          Berhati-hati dalam memilih partner dan lingkungan

-          Bertanggung jawab atas hal yang kita lakukan

2.      Unsur Ekstrinsik Naskah Drama “Pelacur dan Sang Presiden.” Karya Ratna Serumpaet

Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi struktur karya sastra. Pada naskah drama “Pelacur dan Sang Presiden.” Unsur ekstrinsik yang saya temukan yaitu:

a.       Latar Belakang Pengarang

Naskah drama ini ditulis Ratna Sarumpaet pada tahun 2006, yang melatarbelakangi pembuatan naskah ini adalah untuk mengkritik kegiatan perdagangan manusia (human trafficking) yang marak di Indonesia.

b.      Biografi Penulis

Ratna Sarumpaet adalah seniman berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 16 Juli 1949 di Tarutung, Tapanuli Utara. Ia merupakan seniman yang menggeluti di dunia panggung teater. Selain itu, ia sebagai aktivis organisasi sosial dengan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Centre.

Karya Ratna Sarumpaet selain Pelacur dan Sang Presiden.: Marsinah Menggugat dan Anak-anak Kegelapan.

c.       Nilai Agama dan Kepercayaan

Nilai agama yang terlihat dalam naskah drama ini adalah pada narasi:

BU RIA MEMBANTU JAMILA MENGENAKAN PAKAIAN UNTUK SHALAT LALU MENYERAHKAN AL QUR’AN. JAMILA TAMPAK TENANG, BU RIA DENGAN PRIHATIN DAN BERAT HATI MENINGGALKAN JAMILA. ANGGUN, JAMILA MELANGKAH MENINGGALKAN SELNYA. MENGIKUTI SETIAP LANGKAHNYA MENUJU SAJADAH YANG SUDAH DISIAPKAN DI PUSAT PANGGUNG.

BERDIRI DI ATAS SAJADAHNYA, JAMILA BERUSAHA MEMUSATKAN PIKIRANNYA UNTUK MELAKUKAN SHALAT. TAPI SETIAP KALI IA MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA UNTUK MENGUCAPKAN ALLAHU AKBAR, TUBUHNYA SEPERTI TIDAK SANGGUP MENAHAN BEBAN MASA LALUNYA. IA MERASA KOTOR. IA MERASA TIDAK LAYAK. TIDAK BERDAYA MELAKUKAN SHALAT, DALAM PUTUS ASA IA MEMBIARKAN TUBUHNYA TERDUDUK, SUJUD. IA MENJATUHKAN TUBUHNYA HINGGA KENING TERLETAK DI ATAS AL’QURAN DI ATAS SAJADAHNYA. JAMILA MENANGIS, TERGUNCANG. 

Secara tidak langsung, naskah ini memberikan pesan bahwa setrpuruk apapun keadaan kita, harus ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

d.      Kondisi Politik Negara

Terlihat bahwa pada naskah tersebut, bagaimana Jamila melawan para pejabat tinggi dengan kemampuan politik yang tidak ia punya. Pada saat itu digambarkan ketidakadilan dalam keputusan hukum yang berlaku hanya karena latar belakang korban yang merupakan pejabat tinggi. Padahal, disini Jamila merupakan korban dari pelecehan yang dilakukan oleh pejabat tersebut, namun ia tidak diberi kesempatan untuk mendapat pembelaan secara hukum.

e.       Situasi Sosial Budaya

Kondisi sosial pada saat itu sangat memprihatinkan, dengan jelas bahwa kebiasaan seperti perdagangan anak sangat menjadi hal yang lumrah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan