3 Rekomendasi Buku Cerita Pendek Seru untuk Menemani Aktivitas Anda!
Ada
kalanya, Anda tidak memiliki waktu luang untuk memanjakkan diri sendiri dengan
kegiatan yang menyenangkan. Beberapa orang cenderung memilih mengisi waktu
istirahat dengan berleha-leha untuk menghabiskan waktu.
Karya
sastra cerpen pasti tidak asing bagi Anda yang sudah terbiasa bersinggungan.
Cerpen adalah karya tulisan yang berisi cerita pendek tidak lebih dari 10.000
kata. Karya sastra cerpen biasanya diterbitkan sebagai buku kumpulan
cerpen—yang berarti, dalam satu buku terdapat beberapa cerita pendek. Berbeda
dengan karya sastra lain, cerpen biasanya memiliki kisah-kisah yang relate dengan
kehidupan kita. Hal ini terjadi karena tidak jarang penulis mengambil dari peristiwa-peristiwa
yang ada disekitarnya.
Cerpen
adalah pilihan yang tepat untuk siapa saja yang ingin mengisi waktu luang untuk
hal yang bermanfaat dan tetap produktif. Konsep cerpen yang bisa dibaca sekali
duduk dapat memanjakan pembaca yang menyukai bacaan singkat, efektif, dan tidak
membosankan.
Bagi
Anda yang mulai tertarik untuk mengisi waktu luang dengan bacaan yang
sederhana, berikut adalah rekomendasi 3 buku kumpulan cerpen yang seru dan
harus dibaca.
1.
Seribu Kunang-kunang di Manhattan – Umar Kayam
Nama Umar Kayam tentu saja tidak akan luput dari karya masterpiece-nya yang berjudul Para Priyayi. Di samping itu, beliau juga merilis buku kumpulan cerpen yang tidak kalah menarik, berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
Cerpen dengan latar kehidupan Amerika ini akan membawa pembaca
untuk masuk ke dalam cerita yang memiliki permasalahan mengenai kehidupan,
pertemanan, dan percintaan. Salah satu cerpennya yang menarik adalah yang
berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Cerpen ini mengisahkan
tentang seorang perempuan Amerika yang jatuh cinta kepada lelaki rantau.
Penyajian Umar Kayam dalam cerpen yang elegan dari segi tata bahasa dan alurnya
membuat cerita ini terasa mewah dan tidak sederhana meski hanya menggunakan
tokoh, alur, dan lattar dengan lingkup kecil.
Buku ini hanya berisi enam cerita pendek dengan konflik yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, buku ini sangat dianjurkan untuk mengisi waktu
luang Anda di sela-sela aktivitas. Dijamin, pembaca akan hanyut dalam karya ini
hingga cerita terakhir.
2.
Kukila – Aan Mansyur
Biasanya, nama Aan Mansyur lekat dengan karya-karyanya yang berupa puisi. Akan tetapi, pada tahun 2012 lalu, Aan Mansyur merilis karya fiksi cerpennya yang berjudul Kukila. Buku yang berisi 16 cerita pendek ini menyajikan kisah cinta yang menyentuh dan tidak terduga.
Salah satu cerpen yang sekaligus menjadi judul buku ini adalah Kukila. Kukila menceritakan tentang seorang perempuan yang membenci September dan pohon mangga. Dua hal tersebut adalah penghubung dari konflik yang terdapat dalam cerpen ini. Pada awalnya, pembaca akan merasa bahwa cerpen ini lumayan panjang untuk dinikmati sekali duduk. Akan tetapi, ending yang tidak terduga akan membuat pembaca tidak cukup untuk menikmatinya sekali saja.
Setelah membaca buku ini, pembaca akan memiliki pandangan terhadap
cinta yang beragam. Berbagai kisah dari yang sederhana hingga yang kompleks dapat
Anda temukan di sini. Oleh karena itu, buku ini termasuk dalam rekomendasi
cerpen untuk mengisi waktu luang Anda.
3. Senyum Karyamin – Ahmad Tohari
Senyum Karyamin adalah novel yang ditulis oleh Ahmad Tohari dan diterbitkan pada tahun 1980. Novel ini mengisahkan tentang kehidupan seorang anak desa bernama Karyamin yang tumbuh dalam latar belakang kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa. Karyamin adalah seorang pemuda yang memiliki senyum khas, tetapi pada suatu hari, senyumnya menghilang secara misterius dan hal ini menjadi sorotan masyarakat sekitar.
Novel ini mengangkat tema-tema sosial, budaya, dan psikologi individu dalam konteks kehidupan desa. Ahmad Tohari dikenal dengan gaya penceritaannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan dengan sangat mendalam dan menghadirkan karakter-karakter yang kuat dan kompleks. Senyum Karyamin merupakan salah satu karya yang terkenal dari Ahmad Tohari dan telah memperoleh banyak apresiasi dan penghargaan di Indonesia.
Cerpen ini cocok dibaca di sela-sela aktivitas karena konflik yang disajikan Ahmad Tohari lekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga ceritanya tergolong ringan, sederhana, dan mungkin beberapanya sesuai dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.



Komentar
Posting Komentar