Tenggelamnya Kapal Van der Wijck - Akhir bagi cinta yang terlarang
Tenggelamnya
Kapal Van der Wijck adalah sebuah
novel terbitan tahun 1938. Novel ini ditulis oleh seseorag yang akrab dipanggil
Hamka. Nama asli dari Hamka adalah Haji Abdul Karin Amrullah. Beliau lahir pada
17 Februari 1908 dan wafat pada 24 Juli 1981 dengan meninggalkan berbagai karya
yang fenomenal.
Tenggelamnya
Kapal Van der Wijck adalah salah
satu karya beliau yang fenomenal. Novel tersebut telah mengalami cetakan ulang
lebih dari 20 kali. Tidak hanya itu, novel ini telah difilmkan pada tahun 2013.
Film yang dibuat telah masuk berbagai nominasi dengan memenangkan para aktor
dan aktrisnya, tidak hanya itu, film ini juga meraih Film Antemas sebagai film
terlaris.
Novel ini menceritakan tentang romansa
cinta kedua insan yang dibatasi oleh adat dan latar belakang sosial yang
berbeda. Zainuddin, seorang pemuda berusia 19 tahun yang tinggal di rumah
bentuk Mengkasar bersama mak base, yang merupakan orang terdekat dari ayah
Zainuddin. Zainuddin digambarkan Hamka sebagai seseorang yang malang namun
teguh pendiriannya. Lawan tokohnya yaitu Hayati. Hayati digambarkan sebagai
sosok yang cantik dan indah. Tutur katanya yang lembut membuat siapapun
terpesona dengan gadis ini.
Pertemuan keduanya berawal pada saat
Zainuddin memutuskan untuk merantau ke Padang Panjang dengan niat awal menuju
kampung di mana ayahnya berada. Namun semuanya tidak sesuai dengan yang
diharapkannya, Zainuddin dianggap sebagai orang asing. Awal mulanya, Hayati
mengenal Zainuddin karena lelaki itu menawarkan payung. Setelah perkanlan
singkat itu, keduanya saling bertukar surat. Disinilah awal semua penderitaan
mulai. Kedekatan Zainuddin dan Hayati terdengar di keluarga Hayati yang
terpandang. Orang tua Hayati mempermasalahkan latar belakang Zainuddin yang
tidak jelas. Akhirnya, keduanya mendapatkan omongan yang tidak enak. Dari situ
pula Zainuddin harus meninggalkan Minangkabau dan berpisah dari Hayati.
Singkat cerita, Hayati mendapat pinangan
dari seorang lelaki terpandang bernama Aziz. Bersamaan dengan itu, Zainuddin
mengirimkan surat dengan maksud melamar Hayati karena lelaki itu telah
mendapatkan warisan banyak sepeninggalan mak Base. Ditimbanglah kedua pinangan
itu. Namun, tentu saja berdasarkan adat yang kental dalam daerah itu, pinangan
Aziz yang diterima. Keluarga Hayati menginginkan agar nama keluarganya tetap
terpandang meskipun perempuan itu tersayat-sayat hatinya karena tidak bisa
menikah dengan orang yang ia cintai. Sampai disini, terlihat jelas bahwa Hamka
menggabungkan romansa dengan adat istiadat yang kuat. Perjodohan dengan dasar
menjaga nama dan martabat keluarga masih menjadi tolak ukur terkuat pada zaman
dulu.
Zainuddin yang mengetahui pernikahan itu
jatuh sakit. Tubuhnya merintih dan demamnya tak kunjung surut. Segala obat yang
diberikan tidak memberikan efek kesembuhan. Racauan yang keluar dari mulut
Zainuddin hanya nama Hayati. Tidak berselang lama, hadirlah Hayati bersama Aziz.
Suara Hayati membuat Zainuddin berusaha untuk membuka kedua matanya.
Angan-angan hidup bersama keluar dari mulut Zainuddin. Laki-laki itu mengatakan
racauannya hingga ia tersadar bahwa jari perempuan itu telah berinai. Zainnudin
kembali meringkuk dan mengusir pergi Hayati. Ketika membaca sampai bagian ini,
saya tidak kuasa meneteskan air mata. Kekecewaan yang dirasakan Zainuddin turut
membawa saya merasakan apa yang dia rasakan. Zainuddin yang malang harus
kembali menelan pil pahit.
Tidak butuh waktu lama bagi Zainuddin
untuk bangkit dan memulai hidup baru. Ia bersama sahabatnya, Muluk—memutuskan
untuk merantau dan mencari kesuksesan yang direncanakan. Di Jawa, Zainuddin
memutuskan untuk membuat karangan-karangan yang dikirimkan ke surat kabar
harian. Antusiasme pembaca membuat Zainuddin semangat dalam menciptakan
karya-karya dengan letter “Z’” disetiap tulisannya. Zainuddin dan Muluk
memutuskan untuk meninggalkan jakarta dan mencoba bernasib di Surabaya. Nama
Zainuddin kian harum dan dia menjadi sosok yang terkenal.
Karakter yang diberikan Hamka kepada
Zainuddin sangat memuaskan. Kekaguman saya pada Hamka yang membuat tokoh utama
bangkit sangat menginspirasi. Kisah ini tidak hanya fokus pada percintaan, tapi
juga perjuangan untuk hidup.
Novel ini begitu kompleks alurnya.
Setiap bagian dari bab nya sangat menginspirasi. Ending dari novel ini memang
menyedihkan karena kapal tumpangan Hayati tenggelam setelah keduanya berdebat
di ruangan kerja milik Zainuddin. Namun, setidaknya pada saat terakhirnya,
Hayati meninggal dalam pelukan Zainuddin.
Banyak amanat yang saya dapat dari novel
ini. Salah satunya adalah jangan jadikan putus cinta sebagai kesedihan yang
berlarut-larut, namun jadikan itu sebagai motivasi untuk bangkit dan
membuktikan dengan menjadi manusia yang lebih baik. Novel ini membuat saya
menangis dan emosional. Penggunaan bahasanya masih bisa dimengerti meskipun
menggunakan cmapuran melayu. Hamka sangat apik dalam segi ide, alur, latar, dan
penokohan novel ini. Semua karakter sangat kuat sehingga meskipun tidak
mengambarkan ending yang bahagia, tetapi tokoh utamanya memiliki kehidupan yang
layak. Sampai saat ini, novel dan film ini masih menjadi favorit saya.

Komentar
Posting Komentar