Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?
Faisal Oddang
lahir di Wajo, 18 September 1994. Ia adalah seorang penulis novel, cerpen, dan
puisi. Sebagai seorang yang pernah
menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin, Faisal telah mendapatkan
beberapa penghargaan dari karya tulisannya. Beberapa penghargaannya yaitu
Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2015,
dan Tokoh Seni Tempo 2015.
Salah satu karya
Faisal Odding yang dimuat dalam Cerpen Koran Minggu di web lakonhidup.com pada
30 Juli 2017 adalah Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?. Sebelum membaca,
ekspektasi saya pada cerpen ini tidak banyak, saya menduga-duga dengan pikiran ah mungkin saja dia salah hari pada saat
masuk sekolah. Namun pikiran saya ternyata salah, cerpen ini sungguh luar
biasa dan cukup menguras energi saya ketika membacanya. Faisal Odding mengemas
cerpen ini dengan sangat apik. Tokoh anak berusia 8 tahun digambarkan bergitu
polos dari awal cerita sampai dengan akhir cerita. Konsistensinya dalam menulis
dengan menghadirkan berbagai sudut pandang patut diacungi jempol.
Cerpen ini
mengisahkan tentang seorang anak berusia 8 tahun bernama Rahing, yang menggorok
leher kakaknya, Walinono dengan tragis. Di bagian awal, Faisal meletakkan
konflik sebagai pembuka cerpen sehingga membuat pembaca merasa penasaran, “apa
yang menyebabkan Rahing menggorok leher kakaknya sendiri?”. Disinilah
keistimewaan Faisal, tidak jarang karya-karya lainnya ia gambarkan langsung
dengan sudut pandang tokoh yang bercerita tentang keadaan dirinya sendiri.
Semua berawal ketika
Rahing mulai mengikuti ajaran salah satu gurunya bernama Guru Semmang. Entah
apa yang dimaksud ajaran itu, namun si lugu Rahing merasa bahwa gerombolannya
yang bersekolah di hari minggu itu
adalah sesuatu hal yang mengajarkan kebaikan, sampai-sampai ia tidak bisa lagi
mendengar ujaran ayahnya bahwa Guru Semmang bukan orang yang baik. Singkat
cerita, Rahing ditangkap para tentara karena menggorok leher kakaknya. Rahing
yang polos terlihat santai karena ayahnya pernah berkata bahwa tentara memiliki
banyak permen. Akhirnya, Rahing mengatakan bahwa alasan ia membunuh kakaknya
karena guru Semmang mengatakan bahwa ibu Rahing dibunuh oleh kakak Rahing
sendiri, Walinono. Sampai di part ini, Faisal cukup membuat para pembaca
terkejut, sempat terpikir oleh saya bahwa guru Semmang memiliki maksud lain.
Akhirnya, di penghujung cerita dikisahkan bahwa guru Semmang memiliki dendam
terhadap Walinono karena selalu menjadi mata-mata gerombolannya pada saat
beraksi merusak jalan dan jembatan. Tidak hanya itu, masa lalu guru Semmang
ternyata berkaitan dengan ibu Rahing, di mana ia tidak terima karena ibu Rahing
memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Hal itulah yang menyebabkan guru
Semmang membunuh ibu Rahing dengan tragis.
Setelah membaca
cerpen ini, saya merasakan miris. Seorang guru yang harusnya memberikan
pengajaran baik, justru memanfaatkan keberadaan anak kecil yang tidak tahu
apa-apa demi membalaskan dendamnya. Selain itu, kepolosan Rahing yang sangat
mencintai ibunya tetapi tega menggorok leher kakaknya dengan perasaan lega
membuat kesan gemas bagi saya. Terlepas dari itu, Faisal Odding menulis
karyanya dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia mampu membawa pembaca tidak
merasa bosan hingga akhir cerita. Sudut pandang yang diberikan dari tokoh
sangat konsisten sehingga pembaca merasakan up
and down ketika membaca.

Komentar
Posting Komentar