Robohnya Surau Kami: Kedekatan seorang hamba dengan Tuhan

 

sumber: goodreads

A.A. Navis adalah seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia, ia  lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. Sebagai seorang sastrawan, A.A Navis telah menghasilkan karya-karya yang tidak asing lagi bagi para pecinta sastra maupun kaum umum. Salah satu cerpen yang berhasil mendapat respon luar biasa adalah Robohnya Surau Kami. Bahkan cerpen ini meraih penghargaan cerpen terbaik Majalah Kisah pada tahun 1955.

Robohnya Surau Kami merupakan judul dari sebuah buku kumpulan cerpen. Pada halaman 140, pembaca akan menemukan  cerpen yang sekaligus menjadi judul buku tersebut. Cerpen ini bercerita tentang seorang kakek yang mengakhiri hidupnya dengan tragis setelah mendapatkan bualan dari salah satu tetangganya di desa. Kakek digambarkan sebagai sosok yang menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah setiap saat karena ia percaya bahwa hidup hanya untuk beribadah, sampai-sampai sang kakek tidak memiliki istri, anak, cucu, serta harta. Lalu, ada seorang pembual yang berniat mengasah pisau cukur di tempat sang kakek, pembual tersebut secara sadar bercerita bahwa pada zaman dahulu ada seorang yang taat beragama bernama Haji Saleh, ketika Haji Saleh meninggal, ia ditempatkan di neraka karena Tuhan tahu bahwa waktunya hanya dihabiskan untuk kemuliaannya diri sendiri tanpa memedulikan kehidupan dunia. Haji Saleh meninggal dengan menyengsarakan turunannya karena ia tidak memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat kakek sakit hati lau memutuskan bunuh diri lantaran merasa ibadahnya akan bernasib sama dengan Haji Saleh.

Cerpen ini membuat perasaan pembaca teraduk-aduk. Penggambaran tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat. Tokoh ‘Aku’ yang keberadaannya menjadi saksi hidup sang kakek dan ada si tukang bual yaitu Ajo Sidi yang bualannya secara tidak langsung menyakiti hati kakek hingga membuatnya bunuh diri. Banyak hal yang bisa didapatkan setelah membaca cerpen Robohnya Surau Kami, yaitu jangan sampai ibadah membuat seseorang lupa dengan banyak hal. Tuhan menciptakan seluruh dunia beserta isinya dengan suatu alasan, maka dari itu sebagai manusia, kita senantiasa memanfaatkan segala yang telah diberikan. Sebagai makhluk sosial, sudah sepantasnya kita hidup saling membantu, memedulikan, dan menyokong satu sama lain. Karena nyatanya, ibadah pun tidak cukup jika masih membiarkan orang lain merasa sengsara dengan keadannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan