Perahu Kertas: Persahabatan dan cinta

 

sumber: gramedia

    Sore ini sedang hujan ketika saya menulis artikel bacaan saya terhadap novel dengan judul Perahu Kertas. Novel ini ditulis oleh seorang perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 bernama Dewi Lestari. Dewi Lestari berkarya sastra melalui aliran novel dan lagu. Novel-novelnya seperti Supernova dan Perahu Kertas sangat populer.

    Perahu Kertas pertama kali terbit pada tahun 2019 oleh Bentang Pustaka, Yogyakarta. Novel ini juga telah difilmkan pada tahun 2012. Bercerita tentang kisah cinta dan persahabatan, Dee menuliskannya secara ringan, sederhana, dan bermakna. Novel ini mengisahkan hubungan dua insan manusia bernama Keenan dan Kugy. Kugy yang memiliki minat menulis berkuliah di fakultas sastra. Keenan yang memiliki bakat melukis, harus menuruti perkataan ayahnya untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi. Pertemuan keduanya tidak terlepas dari tokoh pendukung, Eko dan Noni yang merupakan sepasang kekasih. Noni merupakan sahabat Kugy, dan Eko adalah sepupu Keenan. Sejak saat itu, mereka berempat menajalin persahabatan yang kompak.

    Seperti yang diketahui, banyak pepatah yang mengatakan bahwa menjalin persahabatan dengan lawan jenis mustahil tidak ada perasaan yang tumbuh. Hal ini berlaku untuk Kugy dan Keenan. Keduanya diam-diam memendam perasaan. Kugy mengagumi bagaimana cara Keenan bercerita melalui lukisannya. Namun, sifat Keenan yang kaku membiarkan perasaannya bermukim sampai Kugy menjalin hubungan dengan  seseorang. sampai disini, saya dibuat gemas dengan alur yang dibuat. Kecocokan antara Kugy dan Keenan sudah saya rasakan dari awal pertemuan mereka, namun tentu saja penulis membutuhkan alur yang panjang agar kisah ini lebih menarik.

    Alur percintaan Kugy dan Keenan tidak semulus yang dibayangkan. Banyak hal yang dikorbankan termasuk pikiran, perasaan, persahabatan, dan cinta. Persahabatan keempatnya merenggang ketika semua sibuk dengan urusan masing-masing. Kugy yang sibuk dengan sekolah relawan dan Keenan yang sibuk untuk melanjutkan bakatnya yaitu melukis.

    Novel Dewi Lestari ini mengajarkan saya banyak hal terutama tentang persahabatan dan cinta. Ceritanya ringan dengan konflik yang cukup panas. Penggambaran persahabatan yang hancur sangat sesuai dengan keadaan nyata yang biasa terjadi di kalangan remaja. Novel ini juga mengajarkan bahwa kemanapun pergi, hati tidak akan salah untuk memilih. Karakter yang dibangun Dee juga sangat menginspiratif dan memotivasi, saya menjadi saadar bahwa seberat apapun hidup, menyerah bukan pilihan. Bangkit dari keterpurukan adalah cara yang tepat untuk melanjutkan hidup.

    Dengan ending yang bahagia, novel ini membuat mood saya seketika naik. Setelah sebelumnya sempat emosional karena tokoh Keenan dan Kugy yang selalu tidak memiliki kesempatan untuk saling bicara, akhirnya mereka disatukan kembali meskipun sebelumnya harus menjalin hubungan dengan orang lain. Dari novel ini saya belajar bahwa menjalin hubungan dengan orang baru, tetapi belum melupakan keberadaan orang lama hanya akan menyiksa diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan