Melawan Ketidakadilan Melalui Bumi Manusia

sumber: gramedia

 

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang scroll youtube, muncul sebuah video triller dengan judul “Bumi Manusia.” Karena penasaran, saya membuka dan menontonnya hingga selesai. Dari triller yang saya lihat, muncul rasa keingintahuan yang berlebih mengenai novel karya Pramoedya Ananta Toer ini.

Novel Bumi Manusia pertama kali terbit pada tahun 1980 oleh Hasta Mitra. Keberadaan novel ini sempat menjadi kontroversi sehingga diberhentikan pengedarannya atas perintah jaksa agung. Mesipun novel ini sudah terbit lama, namun baru beberapa waktu lalu saya membaca novel ini di sela-sela kesibukan jadwal kuliah.

Sejak awal membaca, saya jatuh cinta pada karakter Minke yang sangat revolusioner. Minke digambarkan sebagai tokoh cerdas dan menentang ketidakadilan. Tokoh lain yang menjadi perhatian adalah perempuan cantik keturunan Jawa-Belanda bernama Annelies. Novel ini juga terasa hidup dengan hadirnya Nyai Ontosoroh, ibu Annelies Mallema. Nyai Ontosoroh diceritakan sebagai perempuan simpanan tuan belanda bernama  Mellema, sehingga kehidupannya penuh akan gunjingan dan celaan.

Perjuangan awal dimulai ketika Minke dan Annelies jatuh cinta. Ayah Minke, yang pada saat itu menjabat Bupati sangat menentang hubungan keduanya. Ayah Minke juga menganggap bahwa ibu Annelies adalah kalangan rendah. Tidak sampai disitu, cinta Minke kepada Annelies membuatnya sempat mengorbankan berbagai hal agar bisa selalu berada di sisi Minke.

Hingga pada akhirnya keduanya menikah dengan tata cara islam. Konflik satu persatu mulai muncul.di mulai pada saat pengadilan putih yang memutuskan bahwa hak kekayaan Tuan Mallema jatuh kepada anak kandungnya yang merupakan anak dari istri pertama. Tidak hanya itu, Mauris Mallema akan menjadi wali untuk Annelies. Hal ini membuat Minke geram.

Pramoedya Ananta Noer mampu membuat pembaca ikut meraskan bagaimana suasana pada saat pemerintahan kolonial Belanda. Situasi seperti penindasan, hak suara yang dibungkam, dan ketidakadilan sangat kuat digambarkan dalam novel  tersebut. Kisah akhir Annelies yang meninggal dikarenakan sakit membuat saya menangis dan emosional. Kesedihan tidak tertahan karena saya berharap bahwa ending dari novel ini berpihak kepada para tokohnya.

Menurut saya, novel ini sangat cocok dibaca dikalangan pelajar dan mahasiswa. Sifat revolusioner dari Minke bisa menjadi inspiratif bahwa setiap manusia berhak untuk mengkritik, mendemo, dan menyuarakan hak-hak dan pendapatnya demi meminta keadilan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan