Hujan Bulan Juni - Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...

 

sumber: gramedia

    Hujan Bulan Juni adalah sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang pujangga bernama Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono—yang biasa dijuluki SDD—lahir pada tanggal 20 Maret 1940, di Surakarta. Pada saat masih belia, beliau sudah menulis karya-karyanya dan dikirimkan di majalah-majalah. Karya-karyanya sangat fenomenal, mulai dari puisi, cerpen, hingga novel.

    Selama menjadi seorang sastrawan, SDD pernah meraih penghargaan, yaitu SEA Write Award pada 1986 dan penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Penghargaan lain yang ia terima adalah Anugerah Buku ASEAN (ASEAN Book Award pada tahun 2018  untuk bukunya yang berjudul Hujan Bulan Juni. Hujan Bulan Juni merupakan sebuah karya sastra yang terbit bulan Juni 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama. Tidak hanya itu, novel ini telah difilmkan pada tahun 2017 dan mendapatkan penghargaan Piala Citra kategori Penyunting Gambar Terbaik.

    Hujan Bulan Juni menceritakan kisah cinta dua orang yang memiliki perbedaan dalam latar belakang kehidupannya. Namun uniknya, keduanya tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka merasa bahagia apabila bersama. Cerita ini bermula ketika Sarwono, seorang dosen Antropologi yang memiliki sahabat bernama Toar. Sahabat Sarwono ini memiliki adik bernama Pingkan. Dari situlah Sarwono kerap bertemu dengan Pingkan, yang kebetulan juga seorang dosen muda di universitas yang sama. Keduanya saling jatuh cinta dengan obrolan ringan yang saling mengisi satu sama lain. Dari sini saya merasakan bahwa SDD menunjukkan apa itu arti dari sederhana. Kesederhanaan cinta yang timbul dari obrolan ringan kedua tokoh justru menambah keromantisan.

    Sarwono dan Pingkan tidak pernah mempermasalahkan perbedaan keduanya: agama, suku, dan budaya. Justu permasalahan muncul ketika keluarga Pingkan yang di Manado tidak setuju dengan hubungan keduanya. Keluarga Pingkan mengharapkan agar Pingkan menikah dengan dosen muda yang baru saja menyelesaikan studi MA di Amerika. Namun Pingkan memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Sarwono, bahkan ia sudah memiliki angan-angan untuk menikah dan tinggal di Jakarta bersama Sarwono.

    Sampai disitu, saya menemukan keunggulan novel ini, kehadiran sajak-sajak menjadi bumbu yang meromantisasi. Namun menurut saya, novel ini menggunakan bahasa atau sajak yang sulit dimengerti oleh orang awam, sehingga diperlukan konsentrasi dan pikiran yang kritis. Melanjutkan cerita, permasalahan tidak berhenti sampai disitu. Sarwono harus menerima kenyataan bahwa Pingkan dikirim oleh prodinya untuk melanjutkan studi di Jepang karena kepandaiannya. Disitu Sarwono merasa cemas. Ketakutannya bukan karena meragukan kesetiaan Pingkan, melainkan ia mendengar kabar bahwa Katsuo—lelaki yang dekat dengan Pingkan ketika dulu kuliah di UI, akan menjadi dosen di Jepang—tempat Pingkan melanjutkan studinya. Sarwono menguatkan hati bahwa Pingkan akan tetap menjadi miliknya.

    Namun semuanya tidak semudah itu, SDD menceritakan bahwa sepeninggalan Pingkan, Sarwono harus kuat melawan rindu dan sakit batuk yang dideritanya. Di akhir bab, diceritakan bahwa Sarwono terbaring di rumah sakit dengan penyakit Paru-paru basah yang dideritanya. Sarwono yang tidak baik-baik saja hanya bisa terbaring bersama kerinduan pada kekasihnya.

    Perasaan saya setelah membaca novel Hujan Bulan Juni sedikit gemas. Hal ini karena tidak ada ujung kisah indah yang saya harapkan pada saat membacanya di awal. Secara keseluruhan, novel ini sangat istimewa karena dibumbui sajak puisi yang sederhana. SDD membuat novel ini dengan alur yang sulit ditebak. Selain itu, hati saya ikut tergolak membayangkan ketakutan kehilangan kesetiaan seseorang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan