EKSISTENSI SASTRA CYBER DALAM MENINGKATKAN LITERASI MAHASISWA

 

sumber: pixabay

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai keberadaan sastra cyber dan kebermanfaatannya di kalangan mahasiswa. Sebagai pelopor generasi muda, mahasiswa diharapkan menjadi salah satu penggerak gerakan literasi yang saat ini masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Cyber sastra diketahui mulai muncul pada tahun 2001 ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi yang berjudul Graffiti Gratitude. Peluncuran antologi ini sempat ramai dibicarakan karena terdapat tulisan “Sebuah Antologi Puisi Cyber” pada sampul buku. Karena itulah, muncul istilah-istilah lain yang dihubungkan dengan kata cyber. Sastra cyber hadir dalam portal yang beragam, beberapa portal tersebut adalah sosial media, blog, situs-situs, atau komunitas lain yang memiliki tujuan publikasi karya sastra melalui internet. Portal-portal tersebut adalah wujud dari pemanfaatan sastra cyber yang diharapkan mampu meningkatkan literasi mahasiswa.

 

Kata kunci: sastra cyber, literasi, dan mahasiswa

PENDAHULUAN


Dalam keterbatasan ruang gerak saat pandemi, segala aktivitas mengalami perubahan dari sistem dan prosesnya. Pandemi memaksa banyak orang untuk melakukan segala aktivitas secara online atau daring. Meskipun segala kekurangan-kekurangan dalam pandemi selalu menjadi hal lumrah untuk dibicarakan, tetapi di sisi lain, ada satu yang tidak mengalami perubahan dan justru eksistensinya semakin menjadi hal yang lebih menjanjikan, yaitu keberadaan sebuah karya sastra.

Kosasih (2008:1) mengartikan susastra berdasarkan asal-usulnya, istilah kesusastraan berasal dari bahasa Sansekerta, yakni susastra. Su berarti ‘bagus’ atau ‘indah’, sedangkan sastra berarti ‘buku’, ‘tulisan’, atau ‘huruf’. Berdasarkan kedua kata itu, susastra diartikan sebagai tulisan atau teks yang indah. Dari apa yang disampaikan Kosasih, dapat kita lihat bahwa Kosasih mengartikan sebuah susastra dan sastra dari segi bentuk dan arti kata yang digunakan. Pendapat lain ditemukan dari Damono (2006), yang dilihat secara isi menyatakan sastra adalah segala jenis karangan yang berisi dunia khayalan manusia, yang tidak bisa begitu saja dihubung-hubungkan dengan kenyataan. Pendapat dari Damono mengartikan bahwa karya-karya dalam sastra dibuat oleh imajinasi dari penulis-penulisnya. Meski karya tersebut bertuang dari pikiran, keresahan, dan perasaan sang penulis, tulisan tersebut masih termasuk khayalan karena tidak semua unsur nyata ada dalam karya sastra tersebut.

Keberadaan karya sastra terus mengalami perkembangan setiap periodenya. Segala dinamika perkembangan zaman menjadi bukti bahwa sebuah karya sastra terus mengalami kemajuan. Hal menonjol yang terlihat dari eksistensi karya sastra adalah kegiatan literasi yang akhir-akhir ini selalu menjadi perhatian utama dari pemerintah. Setiap orang, tidak terkecuali mahasiswa sebagai peralihan dari remaja ke tahap dewasa, didorong untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dan bacaan. Akan tetapi, dewasa ini, kegiatan literasi sulit untuk direalisasikan apabila tidak menggunakan media yang tepat. Kesulitan orang-orang, termasuk mahasiswa dalam menyalurkan kemampuan menulis dan membaca harus memiliki alternatif lain untuk ditinjau ulang. Seperti saat ini, pandemi memaksa setiap orang untuk bersinggungan dengan dunia maya.

Fenomena sastra cyber di Indonesia dikatakan hadir sebagai bentuk perubahan sastra untuk masuk dalam dunia yang lebih modern. Dalam perkembangannya, sastra cyber selalu diikuti dengan perkembangan internet yang kian pesat dari tahun ke tahun. Eksistensi sastra cyber yang dianggap sebagai media untuk karya-karya sastra dengan ruang tak terbatas tentu saja diharapkan memiliki sisi lain yang bermanfaat. Saya sendiri menganggap keberadaan sastra cyber adalah solusi yang tepat untuk permasalahan literasi yang tidak berkesudahan. Maka dari itu, artikel ini ditulis untuk menjelaskan bagaimana eksistensi sastra cyber pada saat ini. Serta, bagaimana kacamata mahasiswa dalam menanggapi keberadaan sastra cyber untuk meningkatkan kualitas literasi mereka.

 

METODE PENELITIAN

            Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang ditentukan berdasarkan fenomena-fenomena beragam yang terjadi pada mahasiswa. Mahasiswa akan menjadi subjek dalam penelitian sastra cyber sebagai pelaksana budaya literasi.

Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah penelitian kualitatif berbentuk deskriptif, yaitu sebuah penelitian yang akan dikaji melalui fenomena yang baru terjadi. Dalam tulisannya, Mulyadi (2011) mengungkapkan bahwa Penelitian deskriptif (descriptive research), yang biasa disebut juga penelitian taksonomik (taxonomic research), dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Riset ini berfokus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berupa apa dan bagaiman yang akan dijelaskan secara luas yang didasarkan pada data objektif dan subjektif.

Teknik analisis data yang dilakukan ini berdasarkan pada sumber-sumber yang sudah melalui tahap pemilihan, perbandingan, dan peninjauan ulang.

PEMBAHASAN

Perjalanan sastra cyber dalam dunia kasusastraan bukanlah hal yang singkat. Sastra cyber diketahui mulai muncul pada tahun 2001 ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi yang berjudul Graffiti Gratitude. Peluncuran antologi ini sempat ramai dibicarakan karena terdapat tulisan “Sebuah Antologi Puisi Cyber” pada sampul buku. Karena itulah, muncul istilah-istilah lain yang dihubungan dengan kata cyber.

Pada awalnya, kemunculan antologi tersebut dianggap sebagai sebuah perlawanan terhadap hegemoni. Bagaimana tidak? Dulu, sebuah karya terlihat lebih bernilai dan memiliki sisi kreativitas apabila mampu terbit dalam bentuk cetak. Hal ini dikarenakan sebuah karya akan mengalami proses kurasi untuk menunjukkan sebuah kelayakan dari karya tersebut. Akan tetapi, sejak kemunculan sastra dalam dunia internet, karya-karya yang terdapat dalam internet bersifat luas, tidak terjangkau, dan cenderung bebas mengakibatkan setiap orang menjadi memiliki hak untuk memberikan penilaian, apresiasi, dan kritik terhadap karya sastra di internet dalam struktur tulisan yang berantakan dan tidak ada proses penyuntingan. Fitriani (2007) mangemukakan bahwa sastra sangat erat kaitannya dengan dunia imajinasi. Siapapun itu, baik penulis/sastrawan terkenal ataupun penulis/sastrawan pemula bebas dan berhak mengekspresikan imajinasi, menafsirkan nilai-nilai estetika dan bebas menyampaikan pesan-pesan moral yang dibawanya. Persoalannya, sastra cyber cenderung tidak mengenal batas-batas itu. Hal itu lah yang memengaruhi sebuah kelayakan dari karya sastra. Meskipun begitu, kehadiran sastra cyber dalam dunia sastra tidak bisa dipungkiri telah menciptakan ruang bagi setiap orang untuk bebas berekspresi yang memunculkan para penulis-penulis baru.

Istilah cyber selalu dikaitkan dengan kata lain yang mengikutinya. Kata cyber tidak dapat berdiri sendiri. Dalam bahasa Inggris, istilah cyber diambil dari kata cybernetics yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai ilmu komunikasi yang berhubungan dengan dunia maya. Maka dari itu sastra cyber dapat diartikan sebagai aktivitas sastra yang memanfaatkan dunia maya berupa komputer dan internet.

Pada era digital saat ini, sudah banyak ditemukan berbagai macam platform yang dianggap sebagai pelopor sastra cyber. Beberapa platform  tersebut diantaranya Wattpad, Webtoon, dan Cabaca. Media-media tersebut termasuk dalam sastra cyber karena turut menjadi sumber adanya karya sastra. Media-media tersebut sangat sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. 

Eksistensi Literasi Mahasiswa di Era Digital

Berbicara tentang literasi memang selalu berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung, berbicara, dan menyelesaikan masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Pada situasi saat ini, kegiatan literasi yang menjadi sorotan utama adalah membaca dan menulis.

            Sebagai negara yang selalu mengikuti arus perkembangan zaman, menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat Indonesia untuk terus dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang ada. Sayangnya, tidak semua masyarakat, terutama generasi muda memanfaatkan teknologi tersebut selain untuk bermedia sosial dan bermain game.

            Dikutip dari Kemenko PMK, berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Bahkan, data UNESCO menyebutkan Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia yang berarti minat baca sangat rendah dengan persentase 0,001 persen atau dari 1.000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca.

            Data tersebut tentu saja meraup dari berbagai kalangan yang ada di Indonesia, termasuk mahasiswa. Sebagai pengontrol sosial dan agen perubahan, ternyata mahasiswa masih belum menunjukkan kekuatannya dalam terus berkarya untuk meningkatkan kemampuan literasi. Jalaludin (2021) mengungkapkan bahwa budaya  membaca  dan  menulis bagi  masyarakat  Indonesia, khususnya mahasiswa hingga detik ini  sebenarnya masih sangat memprihatinkan.  Hal ini bisa disebabkan karena buku-buku    pelajaran    tidak    lagi    menjadi    teman    setia    para    mahasiswa  masa  kini.  Padahal, sebagai orang yang bersiap membawa perubahan untuk negeri, mahasiswa harus selalu mengasah kemampuan intelektualnya dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya.

Sastra Cyber dan Eksistensinya dalam Meningkatkan Literasi Mahasiswa

            Bagi beberapa kalangan mahasiswa, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah sastra cyber. Sebagai sesuatu yang pernah menjadi polemik dalam dunia kepenulisan, sastra cyber tidak jarang menjadi salah satu objek kajian untuk dikembangkan dan dianalisis. Namun, apakah sastra cyber sudah berhasil menjadikan dirinya sebagai ruang ekspresi mahasiswa?

            Sastra cyber yang hadir dari berbagai platform, elemen, dan bentuk, selalu memberikan ruang bagi setiap orang, termasuk mahasiswa untuk mengekspresikan diri sebagai penyokong salah satu kegiatan literasi, dibuktikan dengan platform-platform yang menyediakan tempat untuk membaca, sekaligus menulis bagi siapapun untuk berkarya. Hal ini selaras dengan ungkapan Septriani (2017) yang mengatakan bahwa sastra cyber dapat membuat sebuah karya menyebar ke berbagai penjuru dunia hanya dalam hitungan detik dan sastra cyber menjadi ajang publikasi yang murah, mudah, dan bebas.

            Beberapa platform yang dapat disebut sebagai sastra cyber dapat dibagi dalam beberapa portal, beberapa portal tersebut adalah sosial media, blog, situs-situs, atau komunitas lain yang memiliki tujuan publikasi karya sastra melalui internet. Salah satu yang sering kita jumpai adalah keberadaan blog atau website sebagai sarana publikasi sastra. Mahasiswa yang aktif membaca atau mengirim naskah tentu tidak asing dengan website-website seperti lakonhidup, basabasi.co, dan mojok.co. Website tersebut termasuk dalam sastra cyber yang digunakan sebagai media publikasi.

            Bentuk sastra cyber lain yang juga sering dijumpai adalah sosial media. Pada saat ini, tidak jarang ditemui karya-karya sastra yang dipublikasikan melalui Facebook, Wattpad, dan Twitter. Untuk Wattpad sendiri, aplikasi tersebut memang dihadirkan khusus bagi setiap orang untuk membaca dan menyalurkan bakat menulisnya. Sampai saat ini, sudah banyak ditemui penulis-penulis baru yang berhasil menerbitkan buku karena berhasil menarik perhatian pembaca di aplikasi tersebut. Tidak ada batasan bagi siapapun untuk mengakses media tersebut. Saya sendiri sempat mengikuti penulis-penulis Wattpad yang sebagian besar penulisanya sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa.

            Sosial media lain yang bisa menjadi sumber literasi mahasiswa adalah Twitter. Saat ini, seringkali Twitter dijadikan sebagai media sosial yang informatif. Banyak ditemukan orang-orang mulai menggunakan Twitter sebagai bentuk penyaluran kreativitas, seperti penulisan quotes, puisi, sampai cerita atau kisah-kisah yang ditulis menjadi sebuah utas. Sudah menjadi hal yang umum bahwa Twitter telah memunculkan penulis-penulis pemula yang sudah melalui proses penerbitan karya.

            Itu tadi hanya sedikit dari banyaknya sastra cyber yang sudah berjalan berdampingan dengan para penulis dan karyanya. Sebagai mahasiswa yang selalu mengikuti perkembangan teknologi dan internet, seharusnya mampu menyadari bahwa tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mencoba meningkatkan kualitas literasi mereka. Pandemi tidak menjadi alasan bagi setiap orang, khusunya mahasiswa untuk berhenti membaca dan menulis. Kenyataannya, situasi saat ini yang memaksa kita untuk berdampingan dengan perangkat elektronik justru menjadi sebuah keberuntungan yang harus dimanfaatkan.

 

SIMPULAN

Dari penelitian yang sudah dilakukan, membuktikan bahwa sastra cyber menjadi wajah baru bagi keberadaan karya sastra. Di samping menyebabkan polemik dari berbagai sisi, sastra cyber memberikan kesempatan bagi siapapun untuk mengekspresikan perasaannya melalui karya. Selain itu, memudahkan bagi siapapun untuk menemukan bahan bacaan yang diinginkan. Secara tidak langsung, sastra cyber bisa menjadi salah satu permasalahan literasi yang tak berkesudahan. Hal ini tentu saja diharapkan mampu menjadi jembatan bagi setiap orang, terkhusus mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka. Demi mencapai kemampuan literasi yang meningkat, mahasiswa harus memiliki kesadaran dalam memanfaatkan portal-portal yang disediakan dalam sastra cyber. Sebagai mahasiswa, sudah selayaknya bukan hanya menjadi penikmat dari teknologi dan jaringan yang terus berkembang, tetapi harus mampu menjadi salah satu pelopor terciptanya kebermanfaatan fasilitas di era digital saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. (2006). Pengarang, Karya Sastra, dan Pembaca. Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. Diakses pada 17 Mei 2022 dari http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/humbud/article/view/540/879 .

Fitriani, Laily. (2007). Sastra Cyber di Indonesia. Lingua: Jurnal Uin Malang. Diakses pada 22 Mei 2022 dari http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/humbud/article/view/567/933 .

Jalaludin. (2021). Upaya Menumbuhkan Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa. Jurnal Literasiologi. Diakses pada 25 Mei 2022 dari https://jurnal.literasikitaindonesia.com/index.php/literasiologi/article/view/272 .

Kosasih, E. (2008). Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Nobel Edumedia.

Mulyadi, Mohammad. (2011). Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar Menggabungkannya. Jurnal Studi Komunikasi dan Media. Diakses pada 26 Mei 2022 dari https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/jskm/article/view/52 .

Septriani, Hilda. (2017). Fenomena Sastra Cyber: Sebuah Kemajuan atau Kemunduran?. Susastra FIB UI. diakses pada 25 Mei 2022 dari https://susastra.fib.ui.ac.id/wp-content/uploads/81/2017/01/13-Makalah-Hilda-Septriani.pdf .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan