EKSISTENSI SASTRA CYBER DALAM MENINGKATKAN LITERASI MAHASISWA
Abstrak
Tulisan ini
bertujuan untuk menjelaskan mengenai keberadaan sastra cyber dan
kebermanfaatannya di kalangan mahasiswa. Sebagai pelopor generasi muda,
mahasiswa diharapkan menjadi salah satu penggerak gerakan literasi yang saat
ini masih menunjukkan angka yang memprihatinkan. Cyber sastra diketahui mulai
muncul pada tahun 2001 ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi yang
berjudul Graffiti Gratitude. Peluncuran antologi ini sempat ramai
dibicarakan karena terdapat tulisan “Sebuah Antologi Puisi Cyber” pada sampul
buku. Karena itulah, muncul istilah-istilah lain yang dihubungkan dengan kata
cyber. Sastra cyber hadir dalam portal yang beragam, beberapa portal tersebut
adalah sosial media, blog, situs-situs, atau komunitas lain yang memiliki
tujuan publikasi karya sastra melalui internet. Portal-portal tersebut adalah
wujud dari pemanfaatan sastra cyber yang diharapkan mampu meningkatkan literasi
mahasiswa.
Kata kunci: sastra cyber, literasi, dan mahasiswa
PENDAHULUAN
Dalam
keterbatasan ruang gerak saat pandemi, segala aktivitas mengalami perubahan
dari sistem dan prosesnya. Pandemi memaksa banyak orang untuk melakukan segala
aktivitas secara online atau daring. Meskipun segala
kekurangan-kekurangan dalam pandemi selalu menjadi hal lumrah untuk
dibicarakan, tetapi di sisi lain, ada satu yang tidak mengalami perubahan dan
justru eksistensinya semakin menjadi hal yang lebih menjanjikan, yaitu
keberadaan sebuah karya sastra.
Kosasih
(2008:1) mengartikan susastra berdasarkan asal-usulnya, istilah kesusastraan
berasal dari bahasa Sansekerta, yakni susastra. Su berarti ‘bagus’ atau
‘indah’, sedangkan sastra berarti ‘buku’, ‘tulisan’, atau ‘huruf’. Berdasarkan
kedua kata itu, susastra diartikan sebagai tulisan atau teks yang indah. Dari
apa yang disampaikan Kosasih, dapat kita lihat bahwa Kosasih mengartikan sebuah
susastra dan sastra dari segi bentuk dan arti kata yang digunakan. Pendapat
lain ditemukan dari Damono (2006), yang dilihat secara isi menyatakan sastra
adalah segala jenis karangan yang berisi dunia khayalan manusia, yang tidak
bisa begitu saja dihubung-hubungkan dengan kenyataan. Pendapat dari Damono
mengartikan bahwa karya-karya dalam sastra dibuat oleh imajinasi dari
penulis-penulisnya. Meski karya tersebut bertuang dari pikiran, keresahan, dan
perasaan sang penulis, tulisan tersebut masih termasuk khayalan karena tidak
semua unsur nyata ada dalam karya sastra tersebut.
Keberadaan
karya sastra terus mengalami perkembangan setiap periodenya. Segala dinamika
perkembangan zaman menjadi bukti bahwa sebuah karya sastra terus mengalami
kemajuan. Hal menonjol yang terlihat dari eksistensi karya sastra adalah kegiatan
literasi yang akhir-akhir ini selalu menjadi perhatian utama dari pemerintah.
Setiap orang, tidak terkecuali mahasiswa sebagai peralihan dari remaja ke tahap
dewasa, didorong untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dan bacaan. Akan
tetapi, dewasa ini, kegiatan literasi sulit untuk direalisasikan apabila tidak
menggunakan media yang tepat. Kesulitan orang-orang, termasuk mahasiswa dalam
menyalurkan kemampuan menulis dan membaca harus memiliki alternatif lain untuk
ditinjau ulang. Seperti saat ini, pandemi memaksa setiap orang untuk
bersinggungan dengan dunia maya.
Fenomena
sastra cyber di Indonesia dikatakan hadir sebagai bentuk perubahan sastra untuk
masuk dalam dunia yang lebih modern. Dalam perkembangannya, sastra cyber selalu
diikuti dengan perkembangan internet yang kian pesat dari tahun ke tahun.
Eksistensi sastra cyber yang dianggap sebagai media untuk karya-karya sastra
dengan ruang tak terbatas tentu saja diharapkan memiliki sisi lain yang
bermanfaat. Saya sendiri menganggap keberadaan sastra cyber adalah solusi yang
tepat untuk permasalahan literasi yang tidak berkesudahan. Maka dari itu,
artikel ini ditulis untuk menjelaskan bagaimana eksistensi sastra cyber pada
saat ini. Serta, bagaimana kacamata mahasiswa dalam menanggapi keberadaan
sastra cyber untuk meningkatkan kualitas literasi mereka.
METODE PENELITIAN
Subjek dalam penelitian ini adalah
mahasiswa yang ditentukan berdasarkan fenomena-fenomena beragam yang terjadi
pada mahasiswa. Mahasiswa akan menjadi subjek dalam penelitian sastra cyber sebagai
pelaksana budaya literasi.
Metode
yang digunakan dalam analisis ini adalah penelitian kualitatif berbentuk
deskriptif, yaitu sebuah penelitian yang akan dikaji melalui fenomena yang baru
terjadi. Dalam tulisannya, Mulyadi (2011) mengungkapkan bahwa Penelitian
deskriptif (descriptive research), yang biasa disebut juga penelitian
taksonomik (taxonomic research), dimaksudkan untuk eksplorasi dan
klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan
mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Riset
ini berfokus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berupa apa dan bagaiman yang
akan dijelaskan secara luas yang didasarkan pada data objektif dan subjektif.
Teknik
analisis data yang dilakukan ini berdasarkan pada sumber-sumber yang sudah
melalui tahap pemilihan, perbandingan, dan peninjauan ulang.
PEMBAHASAN
Perjalanan
sastra cyber dalam dunia kasusastraan bukanlah hal yang singkat. Sastra cyber diketahui
mulai muncul pada tahun 2001 ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi
yang berjudul Graffiti Gratitude. Peluncuran antologi ini sempat ramai
dibicarakan karena terdapat tulisan “Sebuah Antologi Puisi Cyber” pada sampul
buku. Karena itulah, muncul istilah-istilah lain yang dihubungan dengan kata
cyber.
Pada
awalnya, kemunculan antologi tersebut dianggap sebagai sebuah perlawanan terhadap
hegemoni. Bagaimana tidak? Dulu, sebuah karya terlihat lebih bernilai dan
memiliki sisi kreativitas apabila mampu terbit dalam bentuk cetak. Hal ini
dikarenakan sebuah karya akan mengalami proses kurasi untuk menunjukkan sebuah
kelayakan dari karya tersebut. Akan tetapi, sejak kemunculan sastra dalam dunia
internet, karya-karya yang terdapat dalam internet bersifat luas, tidak
terjangkau, dan cenderung bebas mengakibatkan setiap orang menjadi memiliki hak
untuk memberikan penilaian, apresiasi, dan kritik terhadap karya sastra di
internet dalam struktur tulisan yang berantakan dan tidak ada proses
penyuntingan. Fitriani (2007) mangemukakan bahwa sastra sangat erat kaitannya
dengan dunia imajinasi. Siapapun itu, baik penulis/sastrawan terkenal ataupun
penulis/sastrawan pemula bebas dan berhak mengekspresikan imajinasi,
menafsirkan nilai-nilai estetika dan bebas menyampaikan pesan-pesan moral yang
dibawanya. Persoalannya, sastra cyber cenderung tidak mengenal batas-batas itu.
Hal itu lah yang memengaruhi sebuah kelayakan dari karya sastra.
Meskipun begitu, kehadiran sastra cyber dalam dunia sastra tidak bisa
dipungkiri telah menciptakan ruang bagi setiap orang untuk bebas berekspresi
yang memunculkan para penulis-penulis baru.
Istilah
cyber selalu dikaitkan dengan kata lain yang mengikutinya. Kata cyber
tidak dapat berdiri sendiri. Dalam bahasa Inggris, istilah cyber diambil
dari kata cybernetics yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan
sebagai ilmu komunikasi yang berhubungan dengan dunia maya. Maka dari itu sastra
cyber dapat diartikan sebagai aktivitas sastra yang memanfaatkan dunia
maya berupa komputer dan internet.
Pada
era digital saat ini, sudah banyak ditemukan berbagai macam platform yang
dianggap sebagai pelopor sastra cyber. Beberapa platform tersebut diantaranya Wattpad, Webtoon, dan
Cabaca. Media-media tersebut termasuk dalam sastra cyber karena turut menjadi
sumber adanya karya sastra. Media-media tersebut sangat sesuai dengan
perkembangan teknologi saat ini.
Eksistensi Literasi Mahasiswa di Era Digital
Berbicara
tentang literasi memang selalu berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Literasi
diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, berhitung,
berbicara, dan menyelesaikan masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Pada
situasi saat ini, kegiatan literasi yang menjadi sorotan utama adalah membaca
dan menulis.
Sebagai negara yang selalu mengikuti
arus perkembangan zaman, menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat
Indonesia untuk terus dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang ada.
Sayangnya, tidak semua masyarakat, terutama generasi muda memanfaatkan
teknologi tersebut selain untuk bermedia sosial dan bermain game.
Dikutip dari Kemenko PMK, berdasarkan survei yang dilakukan Program for
International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke
62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat
literasi rendah. Bahkan, data UNESCO
menyebutkan Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal
literasi dunia yang berarti minat baca sangat rendah dengan
persentase 0,001 persen atau dari 1.000 orang Indonesia hanya
satu orang yang rajin membaca.
Data
tersebut tentu saja meraup dari berbagai kalangan yang ada di Indonesia,
termasuk mahasiswa. Sebagai pengontrol sosial dan agen perubahan, ternyata
mahasiswa masih belum menunjukkan kekuatannya dalam terus berkarya untuk
meningkatkan kemampuan literasi. Jalaludin (2021) mengungkapkan bahwa budaya membaca dan
menulis bagi masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa hingga detik
ini sebenarnya masih sangat
memprihatinkan. Hal ini bisa disebabkan
karena buku-buku pelajaran tidak
lagi menjadi teman
setia para mahasiswa
masa kini. Padahal, sebagai orang yang bersiap membawa perubahan untuk negeri,
mahasiswa harus selalu mengasah kemampuan intelektualnya dan bisa menjadi
teladan bagi masyarakat disekitarnya.
Sastra Cyber
dan Eksistensinya dalam Meningkatkan Literasi Mahasiswa
Bagi
beberapa kalangan mahasiswa, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah
sastra cyber. Sebagai sesuatu yang pernah menjadi polemik dalam dunia
kepenulisan, sastra cyber tidak jarang menjadi salah satu objek kajian untuk
dikembangkan dan dianalisis. Namun, apakah sastra cyber sudah berhasil
menjadikan dirinya sebagai ruang ekspresi mahasiswa?
Sastra cyber yang hadir dari
berbagai platform, elemen, dan bentuk, selalu memberikan ruang bagi
setiap orang, termasuk mahasiswa untuk mengekspresikan diri sebagai penyokong
salah satu kegiatan literasi, dibuktikan dengan platform-platform yang
menyediakan tempat untuk membaca, sekaligus menulis bagi siapapun untuk
berkarya. Hal ini selaras dengan ungkapan Septriani (2017) yang mengatakan
bahwa sastra cyber dapat membuat sebuah karya menyebar ke berbagai penjuru
dunia hanya dalam hitungan detik dan sastra cyber menjadi ajang publikasi yang
murah, mudah, dan bebas.
Beberapa platform yang dapat
disebut sebagai sastra cyber dapat dibagi dalam beberapa portal, beberapa
portal tersebut adalah sosial media, blog, situs-situs, atau komunitas lain
yang memiliki tujuan publikasi karya sastra melalui internet. Salah satu yang
sering kita jumpai adalah keberadaan blog atau website sebagai sarana publikasi
sastra. Mahasiswa yang aktif membaca atau mengirim naskah tentu tidak asing
dengan website-website seperti lakonhidup, basabasi.co, dan mojok.co. Website
tersebut termasuk dalam sastra cyber yang digunakan sebagai media publikasi.
Bentuk sastra cyber lain yang juga
sering dijumpai adalah sosial media. Pada saat ini, tidak jarang ditemui
karya-karya sastra yang dipublikasikan melalui Facebook, Wattpad, dan Twitter.
Untuk Wattpad sendiri, aplikasi tersebut memang dihadirkan khusus bagi setiap
orang untuk membaca dan menyalurkan bakat menulisnya. Sampai saat ini, sudah
banyak ditemui penulis-penulis baru yang berhasil menerbitkan buku karena
berhasil menarik perhatian pembaca di aplikasi tersebut. Tidak ada batasan bagi
siapapun untuk mengakses media tersebut. Saya sendiri sempat mengikuti
penulis-penulis Wattpad yang sebagian besar penulisanya sedang menempuh
pendidikan sebagai mahasiswa.
Sosial media lain yang bisa menjadi
sumber literasi mahasiswa adalah Twitter. Saat ini, seringkali Twitter
dijadikan sebagai media sosial yang informatif. Banyak ditemukan orang-orang
mulai menggunakan Twitter sebagai bentuk penyaluran kreativitas, seperti
penulisan quotes, puisi, sampai cerita atau kisah-kisah yang ditulis
menjadi sebuah utas. Sudah menjadi hal yang umum bahwa Twitter telah
memunculkan penulis-penulis pemula yang sudah melalui proses penerbitan karya.
Itu tadi hanya sedikit dari
banyaknya sastra cyber yang sudah berjalan berdampingan dengan para penulis dan
karyanya. Sebagai mahasiswa yang selalu mengikuti perkembangan teknologi dan
internet, seharusnya mampu menyadari bahwa tidak ada alasan lagi bagi mereka
untuk mencoba meningkatkan kualitas literasi mereka. Pandemi tidak menjadi
alasan bagi setiap orang, khusunya mahasiswa untuk berhenti membaca dan
menulis. Kenyataannya, situasi saat ini yang memaksa kita untuk berdampingan
dengan perangkat elektronik justru menjadi sebuah keberuntungan yang harus
dimanfaatkan.
SIMPULAN
Dari penelitian
yang sudah dilakukan, membuktikan bahwa sastra cyber menjadi wajah baru bagi
keberadaan karya sastra. Di samping menyebabkan polemik dari berbagai sisi,
sastra cyber memberikan kesempatan bagi siapapun untuk mengekspresikan
perasaannya melalui karya. Selain itu, memudahkan bagi siapapun untuk menemukan
bahan bacaan yang diinginkan. Secara tidak langsung, sastra cyber bisa menjadi
salah satu permasalahan literasi yang tak berkesudahan. Hal ini tentu saja
diharapkan mampu menjadi jembatan bagi setiap orang, terkhusus mahasiswa untuk
meningkatkan kemampuan literasi mereka. Demi mencapai kemampuan literasi yang
meningkat, mahasiswa harus memiliki kesadaran dalam memanfaatkan portal-portal
yang disediakan dalam sastra cyber. Sebagai mahasiswa, sudah selayaknya bukan
hanya menjadi penikmat dari teknologi dan jaringan yang terus berkembang,
tetapi harus mampu menjadi salah satu pelopor terciptanya kebermanfaatan
fasilitas di era digital saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. (2006). Pengarang, Karya Sastra, dan
Pembaca. Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. Diakses pada 17 Mei 2022
dari http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/humbud/article/view/540/879 .
Fitriani, Laily. (2007). Sastra Cyber di Indonesia. Lingua:
Jurnal Uin Malang. Diakses pada 22 Mei 2022 dari http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/humbud/article/view/567/933
.
Jalaludin. (2021). Upaya Menumbuhkan Budaya Literasi di Kalangan
Mahasiswa. Jurnal Literasiologi. Diakses pada 25 Mei 2022 dari https://jurnal.literasikitaindonesia.com/index.php/literasiologi/article/view/272
.
Kosasih, E. (2008). Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta:
Nobel Edumedia.
Mulyadi, Mohammad. (2011). Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Serta Pemikiran Dasar Menggabungkannya. Jurnal Studi Komunikasi dan Media. Diakses
pada 26 Mei 2022 dari https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/jskm/article/view/52
.
Septriani, Hilda. (2017). Fenomena Sastra Cyber: Sebuah Kemajuan
atau Kemunduran?. Susastra FIB UI. diakses pada 25 Mei 2022 dari https://susastra.fib.ui.ac.id/wp-content/uploads/81/2017/01/13-Makalah-Hilda-Septriani.pdf
.

Komentar
Posting Komentar