Berkarya: Sebuah Seni untuk Memelihara Kesehatan Mental

 

sumber: pixabay

Pendahuluan

Istilah kesehatan mental pada kurun waktu ini sering sekali menjadi hal yang diperbincangkan. Banyak orang, terutama generasi yang biasanya disebut sebagai Gen Z tidak sungkan untuk menunjukkan kondisi kejiwaanya kepada orang lain baik melalui media sosial atau bercerita kepada orang-orang terpercaya. Hal ini sungguh menjadi perkembangan yang baik, mengingat bahwa kesehatan mental masih menjadi hal yang tabu untuk dibahas karena tidak semua orang bisa memahami kondisi kejiwaan orang-orang disekitarnya.

Mengutip dari laman UNICEF Indonesia, kesehatan mental diartikan sebagai kondisi di mana batin terasa tenang dan tentram sehingga memungkinkan seseorang untuk menikmati aktivitas sehari-hari dan dapat berhubungan baik dengan orang sekitar.  Seseorang yang dapat menikmati hidupnya dengan baik, lancar, dan pikiran jernih, juga pola hidup yang sehat, termasuk dalam orang yang memiliki mental sehat. Sebaliknya, orang yang memiliki permasalahan batin sehingga berdampak pada aktivitas yang dilakukan, bisa dikatakan kesehatan mentalnya sedang terganggu.

Kesehatan mental setiap orang berbeda-beda. Masing-masing diri kita tentu saja memiliki cara yang berbeda untuk menjaga kondisi kejiwaan kita. sebagai contoh, orang-orang mulai mendatangi psikolog sebagai wadah untuk konsultasi terhadap kondisi yang sedang dialami, atau apabila sudah dalam tahap membutuhkan perawatan, seseorang bisa mendatangi psikiater untuk diberikan terapi dan obat-obatan. Lalu, timbulah pertanyaan, bagaimana merawat kesehatan apabila dirasa belum memerlukan penanganan yang serius?

Mulyani (2021) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, yaitu melakukan hal-hal produktif atau mencoba hal baru seperti membaca buku, olahraga, dan melakukan hobi sehingga bisa membantu remaja dalam menjaga kesehatan diri. Aktivitas tersebut dilakukan sebagai bentuk fokus dan peduli pada diri sendiri, diharapkan dapat mengurangi rasa cemas yang tidak terkendali. Mengenai fokus terhadap diri sendiri, saya mengartikan bahwa aktivitas memelihara kesehatan mental dapat pula berasal dari penyaluran potensi-potensi yang dimiliki, atau biasa disebut dengan berkarya.

Bentuk berkarya seperti apa dan bagaimana korelasinya dengan pemeliharaan kesehatan mental akan menjadi suatu pembahasan dalam tulisan ini. Mengapa berkarya? Pada saat ini, banyak sekali orang-orang menunjukkan dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki seperti menulis, melukis, bernyanyi. Di samping itu, saya yakin bahwa setiap orang selalu memiliki alasan dibalik karya yang dihasilkannya.

Korelasi Berkarya dengan Kesehatan Mental

Berkarya dapat diartikan sebagai kegiatan yang dapat menghasilkan atau menciptakan sesuatu seperti mengarang, melukis, menggambar, dan sebagainya. Untuk menghasilkan suatu karya, seseorang tidak harus memiliki bakat dan potensi sejak lahir atau turun temurun dari orang tua. Bakat dapat terbentuk apabila orang tersebut mau berlatih dan terus mengembangkan kemampuannya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, seringkali ditemui orang-orang yang menunjukkan karyanya melalui platform media sosial. Hal tersebut dimanfaatkan banyak orang untuk mulai melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas diri sehingga saat ini banyak sekali ditemui penulis/pengarang, musisi, dan pelukis baru yang mulai dikenal. Hal ini tentu saja membawa dampak yang baik. Dari banyaknya hal-hal negatif yag berasal dari dunia maya, ternyata masih banyak orang berlomba-lomba untuk menemukan celah-celah positif. Alasan dari orang-orang yang menghasilkan karya pun beragam, ada yang melakukan di sela-sela kesibukkan, sebagai pengisi waktu luang, sebagai latihan untuk terus mengembangkan potensi, dan yang terakhir adalah alasan yang biasanya sering kali kita dengar, yaitu mengobati kepenatan.

Banyaknya aktivitas dalam kehidupan sehari-hari seringkali membuat orang merasa penat, jenuh, pikiran tidak terkendali, hingga megakibatkan stres. Hal ini tentu saja akan memengaruhi kesehatan mental seseorang apabila tidak diikuti dengan kontrol diri yang sesuai. Oleh karena itu, berkarya adalah pilihan yang tepat untuk memelihara kesehatan mental.

            Sebagian orang tidak sadar bahwa berkarya merupakan cara untuk memelihara kesehatan mental. Orang-orang sering mengartikan bahwa berkarya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki waktu luang sehingga dijadikan sebagai hobi atau pekerjaan. Pendapat tersebut tidak salah, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang mau berkarya cenderung memiliki kepuasan dan ketenangan batin terhadap karya yang telah dihasilkan. Rasa stres dan lelah yang disebabkan dari berbagai masalah hidup akan lebih terkontrol.

Hubungan berkarya dengan kesehatan mental juga sudah terbukti dengan adanya terapi yang disarankan oleh ahli terapi. Ahli terapi menyatakan bahwa salah satu bentuk berkarya yang dapat meredakan stres adalah dengan menggambar. Dengan menggambar, kita dapat menghasilkan karya sesuai yang kita inginkan tanpa ada tekanan atau aturan khusus dari orang lain. Proses dari menggambar ini juga dapat membantu kita untuk lebih fokus, napas lebih rileks, dan tekanan darah yang turun cenderung stabil.

Berkarya sebagai Seni untuk Menyalurkan Keresahan

Sebagai manusia yang dilahirkan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda, keresahan adalah hal wajar yang biasanya muncul di waktu-waktu tertentu. Alasan dari keresahan ini juga bermacam-macam, ada yang muncul akibat persoalan percintaan, pendidikan, pekerjaan, pertemanan, dan relasinya dengan orang-orang terdekat. Keresahan ini juga muncul dengan gejala-gejala lain, yaitu cemas, tegang, takut, sedih, sulit fokus, dan perasaan lain yang tidak nyaman.

Keresahan yang dirasakan secara terus-menerus dalam jangka waktu lama harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, banyak orang tidak dapat memahami keresahan yang dirasakan. Perasaan tersebut cenderung dipendam dan dinormalkan sehingga tidak sadar semakin memengaruhi kesehatan mental. Padahal, siapa yang paling bisa mengerti diri seseorang adalah orang itu sendiri. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki paling tidak satu atau dua cara untuk mengatasi gangguan tersebut.  

Seorang pelukis, Joni Teguh Supriono, adalah contoh seniman yang menyalurkan keresahannya dengan melukis. Ia mengaku bahwa seringkali meluapkan unek-unek dengan melukis. Hal itu justru membuat hasil karyanya disebut unik dan beragam. Contoh lain, Frida Kahlo, yang mengalami gangguan kesehatan mental karena masa kelamnya, salah satunya yaitu keguguran yang membuatnya mengalami stres, kecemasan, hingga depresi. Karena ia mengaku tidak memiliki tempat untuk menuangkan keresahan yang dimiliki, akhirnya ia melukis setiap kejadian dari kehamilannya, hingga saat dia berada di rumah sakit.

Tidak hanya melukis, banyak cara lain yang dapat dilakukan seseorang untuk memelihara kesehatan mentalnya, yaitu menulis. Menulis yang dimaksud tidak harus memiliki aturan tertentu, misalnya harus puisi, cerpen, atau novel. Menulis di sini diartikan sebagai tulisan yang sederhana. Seseorang yang mengalami resah, gelisah, gundah, gulana, dapat menyalurkan perasaan-perasaannya dalam buku atau catatan di handphone. Hal ini dapat berguna sebagai tempat curhat atas perasaan yang tidak terkendali dalam diri. Ahmad Tohari, seorang sastrawan yang dikenal karena novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), mengatakan bahwa sastra dapat membuat seseorang sehat jiwa raga. Ia mengaku tidak pernah memiliki gangguan kesehatan yang serius. Ide dan rangka berpikir dalam menulis Ia anggap sebagai proses untuk membuat pikiran lebih segar. Hal itu dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Bernyanyi atau bermusik juga bisa menjadi seni untuk menyalurkan keresahan. Sama seperti menulis, orang yang bernyanyi dapat menuangkan perasaannya dengan menyanyikan lagu-lagu kesukaan atau yang sesuai dengan apa yang ia rasakan. Hal ini dapat membuat hati lebih luang dan meringankan beban pikiran. Sama halnya dengan bermusik. Dengan bermusik, perasaan tidak nyaman dalam diri dapat disalurkan dengan memainkan alat musik tertentu. Bunyi yang dihasilkan pada alat musik dapat memunculkan perasaan tenang, nyaman, dan dapat membuat pergerakan otot menjadi rileks. Salah satu contoh musisi yang memiliki alasan dibalik karya yang dihasilkannya adalah Kunto Aji. Dikutip dari wawancara yang dilakukan Tempo.co, perilisan album kedua Kunto Aji, yaitu “Mantra Mantra” adalah hasil dari riset yang ia lakukan dengan psikolognya. Kunto Aji mengaku sempat memiliki gangguan kesehatan yaitu overthinker dan kecemasan. Hal ini membuat hatinya tergugah untuk menciptakan lagu-lagu yang dirasa dapat menjawab keresahan yang ia alami. Selain itu, ia berharap lagu-lagunya yang mengandung isu kesehatan mental ini dapat membantu orang untuk berdamai dengan diri seniri. Dari pengalaman Kunto Aji, dapat disimpulkan bahwa keresahan yang kita miliki pasti selalu memiliki solusi hingga dapat bermanfaat untuk orang lain.

Penutup

            Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memelihara kesehatan mental. Melalui potensi dan bakat yang dimiliki, kita dapat menyalurkannya hingga menjadi sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kepuasaan yang kita temukan dari berkarya, akan menghadirkan perasaan senang dan bahagia yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental kita. Oleh karena itu, temukan paling tidak satu atau dua bentuk dari aktivitas berkarya sebagai penyalur penat dan stres akibat permasalahan yang sedang dihadapi.

            Saat melakukan aktivitas berkarya, tentu saja harus diimbangi dengan takaran yang sesuai. Jangan sampai aktivitas tersebut justru membuat kita merasa penat, lelah, dan tekanan karena harus menyelesaikannya. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan istirahat yang cukup dan pola hidup yang sehat. Dengan begitu, diharapkan bahwa kondisi mental tetap terjaga sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan lancar.

 

Daftar Pustaka

Mulyani, Sri. (2021). Menjaga Kesehatan Mental Remaja pada Masa Pandemi Covid-19. QALAM: Jurnal Pendidikan Islam. Diakses pada 16 Juni 2022 dari http://ejournal.stais.ac.id/index.php/qlm/article/view/90/56 .

Tempo.Co. (2018, 14 September). Rilis Album Kedua, Kunto Aji Kisahkan Masalah Kesehatan Mental. https://gaya.tempo.co/read/1126599/rilis-album-kedua-kunto-aji-kisahkan-masalah-kesehatan-mental .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan