Berkarya: Sebuah Seni untuk Memelihara Kesehatan Mental
Pendahuluan
Istilah kesehatan mental pada kurun
waktu ini sering sekali menjadi hal yang diperbincangkan. Banyak orang,
terutama generasi yang biasanya disebut sebagai Gen Z tidak sungkan untuk
menunjukkan kondisi kejiwaanya kepada orang lain baik melalui media sosial atau
bercerita kepada orang-orang terpercaya. Hal ini sungguh menjadi perkembangan
yang baik, mengingat bahwa kesehatan mental masih menjadi hal yang tabu untuk
dibahas karena tidak semua orang bisa memahami kondisi kejiwaan orang-orang
disekitarnya.
Mengutip
dari laman UNICEF Indonesia, kesehatan mental diartikan sebagai kondisi di mana
batin terasa tenang dan tentram sehingga memungkinkan seseorang untuk menikmati
aktivitas sehari-hari dan dapat berhubungan baik dengan orang sekitar. Seseorang yang dapat menikmati hidupnya
dengan baik, lancar, dan pikiran jernih, juga pola hidup yang sehat, termasuk
dalam orang yang memiliki mental sehat. Sebaliknya, orang yang memiliki
permasalahan batin sehingga berdampak pada aktivitas yang dilakukan, bisa
dikatakan kesehatan mentalnya sedang terganggu.
Kesehatan
mental setiap orang berbeda-beda. Masing-masing diri kita tentu saja memiliki
cara yang berbeda untuk menjaga kondisi kejiwaan kita. sebagai contoh,
orang-orang mulai mendatangi psikolog sebagai wadah untuk konsultasi terhadap
kondisi yang sedang dialami, atau apabila sudah dalam tahap membutuhkan
perawatan, seseorang bisa mendatangi psikiater untuk diberikan terapi dan
obat-obatan. Lalu, timbulah pertanyaan, bagaimana merawat kesehatan apabila
dirasa belum memerlukan penanganan yang serius?
Mulyani
(2021) mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga
kesehatan mental, yaitu melakukan hal-hal produktif atau mencoba hal baru
seperti membaca buku, olahraga, dan melakukan hobi sehingga bisa membantu
remaja dalam menjaga kesehatan diri. Aktivitas tersebut dilakukan sebagai
bentuk fokus dan peduli pada diri sendiri, diharapkan dapat mengurangi rasa
cemas yang tidak terkendali. Mengenai fokus terhadap diri sendiri, saya
mengartikan bahwa aktivitas memelihara kesehatan mental dapat pula berasal dari
penyaluran potensi-potensi yang dimiliki, atau biasa disebut dengan berkarya.
Bentuk
berkarya seperti apa dan bagaimana korelasinya dengan pemeliharaan kesehatan
mental akan menjadi suatu pembahasan dalam tulisan ini. Mengapa berkarya? Pada
saat ini, banyak sekali orang-orang menunjukkan dan mengembangkan kemampuan
yang dimiliki seperti menulis, melukis, bernyanyi. Di samping itu, saya yakin
bahwa setiap orang selalu memiliki alasan dibalik karya yang dihasilkannya.
Korelasi Berkarya dengan Kesehatan Mental
Berkarya
dapat diartikan sebagai kegiatan yang dapat menghasilkan atau menciptakan
sesuatu seperti mengarang, melukis, menggambar, dan sebagainya. Untuk
menghasilkan suatu karya, seseorang tidak harus memiliki bakat dan potensi
sejak lahir atau turun temurun dari orang tua. Bakat dapat terbentuk apabila
orang tersebut mau berlatih dan terus mengembangkan kemampuannya.
Seiring
dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, seringkali ditemui
orang-orang yang menunjukkan karyanya melalui platform media sosial. Hal
tersebut dimanfaatkan banyak orang untuk mulai melakukan kegiatan yang dapat
meningkatkan kualitas diri sehingga saat ini banyak sekali ditemui
penulis/pengarang, musisi, dan pelukis baru yang mulai dikenal. Hal ini tentu
saja membawa dampak yang baik. Dari banyaknya hal-hal negatif yag berasal dari
dunia maya, ternyata masih banyak orang berlomba-lomba untuk menemukan
celah-celah positif. Alasan dari orang-orang yang menghasilkan karya pun
beragam, ada yang melakukan di sela-sela kesibukkan, sebagai pengisi waktu
luang, sebagai latihan untuk terus mengembangkan potensi, dan yang terakhir
adalah alasan yang biasanya sering kali kita dengar, yaitu mengobati kepenatan.
Banyaknya
aktivitas dalam kehidupan sehari-hari seringkali membuat orang merasa penat,
jenuh, pikiran tidak terkendali, hingga megakibatkan stres. Hal ini tentu saja
akan memengaruhi kesehatan mental seseorang apabila tidak diikuti dengan
kontrol diri yang sesuai. Oleh karena itu, berkarya adalah pilihan yang tepat
untuk memelihara kesehatan mental.
Sebagian orang tidak sadar bahwa
berkarya merupakan cara untuk memelihara kesehatan mental. Orang-orang sering
mengartikan bahwa berkarya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki waktu luang
sehingga dijadikan sebagai hobi atau pekerjaan. Pendapat tersebut tidak salah,
tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang mau berkarya cenderung
memiliki kepuasan dan ketenangan batin terhadap karya yang telah dihasilkan. Rasa
stres dan lelah yang disebabkan dari berbagai masalah hidup akan lebih
terkontrol.
Hubungan
berkarya dengan kesehatan mental juga sudah terbukti dengan adanya terapi yang
disarankan oleh ahli terapi. Ahli terapi menyatakan bahwa salah satu bentuk
berkarya yang dapat meredakan stres adalah dengan menggambar. Dengan menggambar,
kita dapat menghasilkan karya sesuai yang kita inginkan tanpa ada tekanan atau aturan
khusus dari orang lain. Proses dari menggambar ini juga dapat membantu kita
untuk lebih fokus, napas lebih rileks, dan tekanan darah yang turun cenderung
stabil.
Berkarya sebagai Seni untuk Menyalurkan Keresahan
Sebagai
manusia yang dilahirkan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda, keresahan
adalah hal wajar yang biasanya muncul di waktu-waktu tertentu. Alasan dari
keresahan ini juga bermacam-macam, ada yang muncul akibat persoalan percintaan,
pendidikan, pekerjaan, pertemanan, dan relasinya dengan orang-orang terdekat.
Keresahan ini juga muncul dengan gejala-gejala lain, yaitu cemas, tegang,
takut, sedih, sulit fokus, dan perasaan lain yang tidak nyaman.
Keresahan
yang dirasakan secara terus-menerus dalam jangka waktu lama harus menjadi
perhatian serius. Pasalnya, banyak orang tidak dapat memahami keresahan yang
dirasakan. Perasaan tersebut cenderung dipendam dan dinormalkan sehingga tidak
sadar semakin memengaruhi kesehatan mental. Padahal, siapa yang paling bisa mengerti
diri seseorang adalah orang itu sendiri. Oleh karena itu, setiap orang harus
memiliki paling tidak satu atau dua cara untuk mengatasi gangguan tersebut.
Seorang
pelukis, Joni Teguh Supriono, adalah contoh seniman yang menyalurkan
keresahannya dengan melukis. Ia mengaku bahwa seringkali meluapkan unek-unek
dengan melukis. Hal itu justru membuat hasil karyanya disebut unik dan
beragam. Contoh lain, Frida Kahlo, yang mengalami gangguan kesehatan mental
karena masa kelamnya, salah satunya yaitu keguguran yang membuatnya mengalami
stres, kecemasan, hingga depresi. Karena ia mengaku tidak memiliki tempat untuk
menuangkan keresahan yang dimiliki, akhirnya ia melukis setiap kejadian dari
kehamilannya, hingga saat dia berada di rumah sakit.
Tidak
hanya melukis, banyak cara lain yang dapat dilakukan seseorang untuk memelihara
kesehatan mentalnya, yaitu menulis. Menulis yang dimaksud tidak harus memiliki
aturan tertentu, misalnya harus puisi, cerpen, atau novel. Menulis di sini
diartikan sebagai tulisan yang sederhana. Seseorang yang mengalami resah,
gelisah, gundah, gulana, dapat menyalurkan perasaan-perasaannya dalam buku atau
catatan di handphone. Hal ini dapat berguna sebagai tempat curhat atas
perasaan yang tidak terkendali dalam diri. Ahmad Tohari, seorang sastrawan yang
dikenal karena novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), mengatakan bahwa
sastra dapat membuat seseorang sehat jiwa raga. Ia mengaku tidak pernah
memiliki gangguan kesehatan yang serius. Ide dan rangka berpikir dalam menulis
Ia anggap sebagai proses untuk membuat pikiran lebih segar. Hal itu dapat
memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Bernyanyi
atau bermusik juga bisa menjadi seni untuk menyalurkan keresahan. Sama seperti
menulis, orang yang bernyanyi dapat menuangkan perasaannya dengan menyanyikan
lagu-lagu kesukaan atau yang sesuai dengan apa yang ia rasakan. Hal ini dapat
membuat hati lebih luang dan meringankan beban pikiran. Sama halnya dengan
bermusik. Dengan bermusik, perasaan tidak nyaman dalam diri dapat disalurkan
dengan memainkan alat musik tertentu. Bunyi yang dihasilkan pada alat musik
dapat memunculkan perasaan tenang, nyaman, dan dapat membuat pergerakan otot
menjadi rileks. Salah satu contoh musisi yang memiliki alasan dibalik karya
yang dihasilkannya adalah Kunto Aji. Dikutip dari wawancara yang dilakukan
Tempo.co, perilisan album kedua Kunto Aji, yaitu “Mantra Mantra” adalah hasil
dari riset yang ia lakukan dengan psikolognya. Kunto Aji mengaku sempat
memiliki gangguan kesehatan yaitu overthinker dan kecemasan. Hal ini
membuat hatinya tergugah untuk menciptakan lagu-lagu yang dirasa dapat menjawab
keresahan yang ia alami. Selain itu, ia berharap lagu-lagunya yang mengandung
isu kesehatan mental ini dapat membantu orang untuk berdamai dengan diri
seniri. Dari pengalaman Kunto Aji, dapat disimpulkan bahwa keresahan yang kita
miliki pasti selalu memiliki solusi hingga dapat bermanfaat untuk orang lain.
Penutup
Setiap
orang memiliki cara masing-masing untuk memelihara kesehatan mental. Melalui
potensi dan bakat yang dimiliki, kita dapat menyalurkannya hingga menjadi
sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kepuasaan
yang kita temukan dari berkarya, akan menghadirkan perasaan senang dan bahagia
yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental kita. Oleh karena itu, temukan paling
tidak satu atau dua bentuk dari aktivitas berkarya sebagai penyalur penat dan
stres akibat permasalahan yang sedang dihadapi.
Saat melakukan aktivitas berkarya,
tentu saja harus diimbangi dengan takaran yang sesuai. Jangan sampai aktivitas
tersebut justru membuat kita merasa penat, lelah, dan tekanan karena harus
menyelesaikannya. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan istirahat yang cukup
dan pola hidup yang sehat. Dengan begitu, diharapkan bahwa kondisi mental tetap
terjaga sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan lancar.
Daftar Pustaka
Mulyani, Sri. (2021). Menjaga Kesehatan Mental Remaja pada Masa
Pandemi Covid-19. QALAM: Jurnal Pendidikan Islam. Diakses pada 16 Juni
2022 dari http://ejournal.stais.ac.id/index.php/qlm/article/view/90/56 .
Tempo.Co. (2018, 14 September). Rilis Album Kedua, Kunto Aji
Kisahkan Masalah Kesehatan Mental. https://gaya.tempo.co/read/1126599/rilis-album-kedua-kunto-aji-kisahkan-masalah-kesehatan-mental
.

Komentar
Posting Komentar