Ayah (Sebuah karya dari Andrea Hirata)

 

sumber: kumparan.com

Andrea Hirata adalah seorang penulis berkebangsaan Indonesia yang lahir pada. Beliau adalah lulusan dari Sheffield Hallam University, UK, Post Graduate, beasiswa. Dia juga mendapat beasiswa studi sastra di University Of Lawa, USA. Andrea Hirata telah menerbitkan 9 karyanya edisi bahasa Indonesia dan dua novel edisi internasional.

Andrea Hirata telah menerima berbagai macam penghargaan dari karyanya yang ia buat, seperti pemenang New York Book Festival kategori General Fiction untuk The Rainbow Troops (Laskar Pelangi edisi Amerika), dan pemenang Buchwards 2013, Jerman, untuk Die Regenbogen Truppe (Laskar Pelangi edisi Jerman. Selain itu, karya-karyanya juga tidak jarang diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Salah satu karya Andrea Hirata yang saya baca terakhir kali adalah novel berjudul “Ayah”. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 2015 di Yogyakarta oleh penerbit PT Bentang Pustaka. Novel ini sangat populer pada masanya hingga telah mengalami cetakan sebanyak lebih dari lima belas kali.

Novel ini menceritakan tentang kisah seorang ayah yang sangat luar biasa perjuangannya; perjuangan mendapatkan perempuan yang ia cintai, kehidupan yang pahit, lalu terpisahkan oleh anak yang sangat ia sayangi. Saat pertama kali membacanya, saya memerlukan beberapa waktu untuk memahami alur yang diceritakan dalam novel ini. Hingga sampai dipertengahan saya baru paham bahwa novel ini menggunakan alur campuran. Pada awalnya, setiap bab dalam novel ini menceritakan kejadian dan tokoh-tokoh yang berbeda-beda, mungkin maksud penulis adalah agar pembaca bisa memahami sudut pandang cerita ini dari berbagai tokoh. Namun, dipertengahan semuanya akan terlihat jelas karena para tokoh ini saling terkait antara satu sama lain.

Cerita ini pada awalnya fokus kepada kisah hidup seorang laki-laki bernama Sabari yang dikelilingi para sahabatnya yaitu Ukun, Tamat, dan Toharun. Lalu semuanya menjadi berubah ketika Sabari mengenal cinta pertamanya yaitu Marlena, teman sekelasnya. Sabari sangat mencintai Marlena hingga ia kerap menulis puisi-puisi cinta. Namun sayangnya, Marlena terang-terangan menolak dan mengatakan bahwa Sabari bukan tipe idamannya. Sampai disini saya dibuat terharu dengan kegigihan Sabari. Puisi-puisi yang ia buat pun sangat menyentuh perasaan pembaca. Tidak sampai disitu, setelah tidak bersekolah, Sabari bekerja di perusahaan milik ayah Marlena yang bernama Markoni. Tujuan lain Sabari bekerja tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendekati Marlena. Tidak semulus kisah romansa yang sepertinya, ternyata tujuan penulis memang bukan menghadirkan kisah cinta Sabari dan Marlena. Keberadaan Sabari di perusahaan Markoni tidak membuat Marlena memberikan celah untuk pemuda itu masuk dalam hatinya.

Konflik mulai terasa ketika Marlena terperangkap pergaulan yang buruk, perempuan itu hamil dan tidak ada laki-laki yang bertanggung jawab. Sabari yang masih mencintai Marlena, akhirnya mengorbankan dirinya untuk menikahi perempuan tersebut. Singkat cerita Marlena melahirkan anak laki-laki yang Sabari beri nama Zorro. Marlena yang dari awal tidak mencintai Sabari, memutuskan untuk bercerai dan pergi meninggalkan rumah, Sabari, dan Zorro.

Saya akhirnya mengerti mengapa penulis memberi judul novel ini “Ayah”. Sebagai seorang laki-laki yang ditinggal istri, Sabari sungguh luar biasa dalam mendidik Zorro yang padahal itu bukan anak dari darah dagingnya. Sabari menurunkan sifat lembut hati dan jiwa yang kuat kepada bocah laki-laki itu. Permasalahan-permasalahan dalam hidup, Sabari jalani dengan lapang dada asalkan ada Zorro disampingnya. Sabari sangat yakin, bahwa Zorro adalah penguat hidupnya.

Andrea Hirata sangat luar biasa dalam menuliskan alur novel tersebut. Saya dibuat sangat terharu bagaimana seorang Ayah yang tidak sedarah dengan ikhlas mengorbankan segala hal yang ia punya demi anaknya. Di penghujung novel, saya sempat dibuat tersedu-sedu saat Zorro dipisahkan dari Sabari oleh Marlena yang tiba-tiba datang untuk menjemputnya. Disitu saya ikut merasakan kehancuran hati seorang Ayah yang secara tidak diduga akan kehilangan buah hati tercintanya. Tidak cukup sampai disitu, saya turut merasakan bagaimana hancurnya kehidupan Sabari setelah kehilangn Zorro.

Novel “Ayah” membuat perasaan saya tercampur aduk. Senang, sedih, lucu, menjadi satu selama saya membaca karya Andrea Hirata ini. Banyak pesan yang saya peroleh setelah membaca novel ini. Yang sangat melekat dalam hati saya adalah kelapangan Sabari yang menerima Marlena dan Zorro apa adanya. Novel ini juga membuat saya tersadar bahwa menjadi ayah adalah tanggung jawab yang luar biasa. Selain itu, saya menyimpulkan bahwa sebutan ayah bukan hanya untuk seseorang yang sedarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan