Bingkisan Lebaran: Hidup Jangan Bergantung pada Orang Lain

 

sumber: endrosefendi.com



Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesa yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Ia kerap dipanggil dengan singkatan namanya, SDD. Beliau dikenal melalui berbagai macam karyanya yaitu novel, cerpen, dan terutama puisi sederhana namun penuh akan makna. Tidak heran jika beliau dikenal dalam lingkungan sastrawan maupun khalayak umum.

Salah satu karya dari Pak Sapardi yang memiliki kesan tidak terlupakan bagi saya adalah cerpen Bingkisan Lebaran. Cerpen ini menceritakan tentang seorang perempuan yang hidup bersama anaknya, Mawar. Suaminya telah meninggal ketika sedang menjalani pekerjaan sebagai reporter. Dalam cerpen ini, penulis mengkisahkan seorang  perempuan sebagai sosok ibu yang tidak bergantung pada orang lain. Mandiri. Hal itu juga ia ajarkan kepada Mawar, anaknya.

Semua bermula ketika Mawar yang memiliki pemikiran bahwa anak-anak yang ia lihat ketika pulang sekolah  pada saat melewati perempatan jalan layang merupakan kehidupan seru. Ia melihat banyak anak-anak yang main bola dan kejar-kejaran. Hal itu membuat Mawar iri walaupun ia tahu anak-anak itu pengemis. Pada bagian ini, penulis memperlihatkan bahwa Mawar ingin memiliki kebebasan dalam kehidupannya tanpa memikirkan kesengsaraan. Suatu ketika, Mawar yang baru saja pulang dari sekolah merasa aneh dengan suasanannya. Biasanya, ibu sudah menyapanya di rumah dengan ramah. Namun, yang ia hadapi kini tidak ada apa-apa, ibunya tidak ada di rumah. Seketika Mawar ingat ucapan ibunya yang mengatakan bahwa mereka tidak akan mudik lebaran karena uangnya lebih baik disimpan untuk keperluan lainnya. Hari semakin larut, akhirnya Mawar memutuskan untuk pergi ke suatu tempat entah di mana karena lelah menunggu ibunya. Tidak berselang lama, ibunya pulang ke rumah. Ia panik karena tidak ada Mawar, lalu teringat sesuatu bahwa ia belum mengatakan pada putrinya tersebut bahwa ia pergi ke pasar untuk membeli keperluan lebaran.

Sang ibu yang panik akhirnya segera pergi untuk mencari keberadaan Mawar. Ia berniat untuk menanyakan keberadaan anaknya kepada tetangganya, tetapi ia tidak biasa untuk meminta pertolongan. Disinilah Pak Sapardi menunjukkan sifat ibu sebagai sosok yang tidak bergantung pada orang lain. Sampai di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai makhluk sosial, kita harus saling tolong menolong dan jangan sungkan untuk meminta pertolongan pada orang lain. Singkat cerita, setelah seharian mencari keberadaan anaknya, sang ibu memutuskan untuk pulang. Ketika ia pulang, dirinya mendapati ada anak perempuan seumuran Mawar tengah duduk dengan pakaian yang lusuh. Anak tersebut bercerita bahwa ada seorang anak perempuan yang menyuruhnya kesini, si Ibu meyakini bahwa Mawar yang telah menyuruhnya. Namun, anak kecil tersebut tidak mau memberitahu keberadaan Mawar karena ia sudah berjanji tidak akan mengatakannya. Setelah itu, si Ibu langsung menyuruhnya mandi dan beres-beres karena besok mereka harus pulang kampung untuk merayakan lebaran.

Cerpen ini membuat saya terkejut dengan plottwist yang diberikan. Saya dibuat terheran-heran dengan sosok Mawar yang mendapatkan didikan keras dari ibunya membuat ia tumbuh sebagai anak yang tidak bergantung pada siapapun, termasuk ibunya. Dikemas dengan apik, pada bagian sang ibu yang tidak lagi khawatir dengan keberadaan Mawar karena kedatangan anak lain sempat membuat saya merasa heran. Namun, dilihat dari sisi lain, sang ibu sudah lega karena mengetahui anaknya baik-baik saja. Dapat disimpulkan bahwa Mawar lebih bahagia  jika hidup bersama anak-anak pengemis. Pak Sapardi secara tidak langsung menyampaikan pesan yang mendalam dalam cerpen ini, yaitu bergantung kepada orang lain memang tidak baik, namun bukan berarti tidak meminta bantuan. Selain itu, cerpen ini mengajarkan bahwa didikan yang diberikan orang tua sejak kecil akan terus memberikan dampak kepada anak-anaknya kelak. Setelah membaca cerpen ini, saya menjadi yakin bahwa kebahagiaan dapat didapat dari hal-hal sederhana. Belajar dari sosok Mawar, saya menjadi percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang harus kita buat dan cari. Karena terkadang, ada beberapa hal yang harus direlakan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Embung Kladuan UII 2: Wisata yang menenangkan