Ayah Tidak Mau Makan
sumber: pinterest.com
Pagi ini aku mendapati Ayah turun dari loteng dengan membawa
beberapa pakaian milik Ibu. Sebuah pemandangan setiap pagi di mana aku harus
menyaksikan kekosongan dalam bola mata Ayah karena kepergian Ibu dua pekan yang
lalu. Seperti orang yang sakau, hampir setiap jam Ayah menghabiskan waktunya di
loteng—mengurung dirinya sendiri dan mengisi kehampaan dirinya dengan
bersenandung lagu-lagu lawas yang pernah ia nyanyikan bersama Ibu. Aku tahu itu,
karena aku mengingatnya dengan baik.
Para tetangga seringkali menanyakan kabarku. Mereka khawatir dengan sikap Ayah yang menunjukkan perubahan-perubahan yang dianggap menakutkan; Ayah bisa berdiri dua jam memandangi jalan kecil di depan rumah tanpa menyapa tetangga yang berlalu lalang; Ayah bisa mengabiskan waktu petangnya hanya dengan berjalan-jalan di taman kecil kami dengan bersiul-siul; Ayah juga bisa menghabiskan waktu malamnya hanya duduk di bangku taman kami hingga pagi.
“Akan lebih baik apabila kau tinggal di rumahku,” ujar Bibi Sofia
kepadaku setelah memergoki Ayah yang menatap kosong ke arahku selama hampir
setengah jam—yang sedang menyirami tanaman kami yang tidak terawat setelah
kematian Ibu.
“Terima kasih untuk tawarannya, Bi,” layaknya anak yang harus lebih
dewasa di umur 15 tahun—aku menggeleng, “Kalau tidak ada aku, Ayah tidak mau
makan.”
Aku selalu berusaha memasakkan Ayah makanan yang ia suka. Walaupun
Ayah tidak mau makan karena baginya masakkan Ibu yang terenak, tetapi aku
adalah orang yang bisa diandalkan saat ini. Perubahan Ayah yang tidak
kumengerti membuatku harus berhenti berlarut dalam kesedihan yang terlalu lama
karena ditinggalkan sosok Ibu.
Hari ini aku memasak nasi goreng dengan daun selada segar sebagai
lalapannya. Seperti buatan Ibu, aku meletakkan dua telur mata sapi di atasnya
dengan posisi menumpuk dengan sedikit kecap. Kesukaan Ayah.
Seperti sebelum-sebelumnya, Ayah hanya akan memandanginya selama
beberapa menit, lalu menatapku dengan senyum yang tidak bisa aku artikan dan tatapan
kosong ke arahku. Meskipun aku selalu menganggap senyum itu sebagai bentuk
terima kasih, tetap saja hatiku sedikit terkikis karena Ayah lagi-lagi tidak
akan memakannya. Ia akan membawanya menuju loteng, karena kata Ayah, “Ibu
akan senang apabila aku makan bersamanya.”
Lagi-lagi, aku yang harus bersabar membawa piring penuh itu kembali
ke dapur pada malam harinya ketika Ayah tidur. Begitu seterusnya.
Keesokan harinya, aku tidak menemukan Ayah di rumah. Aku hanya
melihat jejak cokelat sepatu tua Ayah memenuhi tangga loteng. Aku pikir Ayah
telah berulang kali menaiki tangga loteng sebelum keluar dari rumah. Aku
mencarinya di sekitar rumah kami, tetapi tidak ada. Aku juga menanyakan kepada
tetangga yang berlalu lalang, tetapi jawabannya pun sama, “tidak ada.” Kuputuskan
untuk menunggunya di rumah, sembari memasak menu spesial untuk makan siang
nanti. Barangkali, Ayah mau makan.
***
05 Desember 1992
Catatan Laporan Kepolisian
Aku terbangun pada pukul 02.00 pagi setelah mendengar suara-suara
dari loteng. Itu adalah hari kedua setelah kepergian istri tercintaku. Kukira,
itu berasal dari tikus-tikus yang menjatuhkan barang-barang bekas, atau
kelelawar yang tengah makan dan sisa makannya berjatuhan di lantai, atau suara
burung yang tak sengaja menabrak kaca loteng. Hal itu sering terjadi apabila
hujan turun dengan lebat.
Akan tetapi, dengan sedikit kesadaran, aku melihat betul loteng
bersih saat itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hanya saja...hanya
saja, aku melihat mendiang istriku berdiri membelakangiku yang baru menjajaki
separuh anak tangga. Aku jelas seperti orang yang kehausan, tenggorokanku
kering, dan bulir-bulir air memenuhi dahi—juga kedua telapak tangan. Tidak lama
kemudian, aku menyadari bahwa suara itu berasal dari meja yang diketuk-ketuk
oleh jari mendiang istriku.
Selama beberapa hari aku seperti orang gila. Hampir setiap hari,
aku melihat bagaimana istriku terus-terusan berada di rumah kami. Hingga pada
akhirnya, aku seringkali ke loteng hanya sekadar untuk melihatnya. Makin sering
pula aku melihat istriku seperti memberi pertanda. Aku sering mendapatinya
memainkan jari-jarinya dan bersenandung di depan pintu putra tunggal kami.
Kadang-kadang, istriku mengeluarkan suara tangisan dan teriakan yang memekakkan
telinga.
Sampai suatu ketika, untuk pertama kalinya putra lelakiku membuatkanku
sarapan. Pada saat itu pula, aku melihat bagaimana istriku berdiri di belakang
putraku, ia tampak menggeleng dan bersedih. Selalu seperti itu ketika aku
hendak memakan masakannya. Hingga pada akhirnya, aku mengetahui suatu hal, aku
menemukan serbuk yang kuketahui sebagai racun di laci meja belajar putraku, itu
juga karena mendiang istriku yang menunjukkannya.
Sejak saat itu aku frustasi. Tanpa sepengatahuan putraku, aku
kembali menghidupkan CCTV lama kami yang telah mati. Aku sering mengamati
bagaimana ia bermain-main dengan benda-benda disekitarnya. Aku juga melihat
bagaimana dia mencekik dua ekor kucing kesayangan mendiang istriku sebelum
memberinya makan. Hingga akhirnya kedua kucing itu mati dan dengan wajah lugunya—putraku
berkata, “mungkin dia diracun tetangga karena sering buang air sembarangan.”
Dan pada hari ini, aku memutuskan untuk keluar rumah setelah
melihat melalui CCTV bagaimana ia berdiri di dapur dalam waktu yang lama dengan
mengamati koleksi pisau kami. Aku melihat bagaimana ia membawa salah satu yang
terbesar dan membawanya menuju kamar tidurnya. Kupikir, sudah saatnya aku
menghilangkan iblis yang sebenarnya—dari hidupku. Maka dari itu, aku akan
menyerahkan sepenuhnya putraku. Apabila kalian melihatnya, jangan tertipu oleh
wajah lugu dan polosnya. Pada waktu tertentu, kalian akan melihat bagaimana ia
tertawa dan terlihat menyedihkan dalam waktu yang bersamaan. Iblis itu memiliki
banyak muka.
***
06 Desember 1992
“Aku tidak suka bagaimana Ibu dan Ayah saat tertawa,” anak itu
menjawab dengan kedua kaki yang mengayun bergantian, “sangat tidak enak di
telinga.”
“Lalu, mengapa kau tidak membunuh Ayah?”
“Bukan tidak mau,” ujarnya, “Ayah tidak mau makan.”

Komentar
Posting Komentar