Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini

            


            Karakter dapat diartikan sebagai sesuatu yang menggambarkan kepribadian seseorang yaitu sikap, sifat, watak, dan tingkah laku. Setiap individu tentu saja memiliki karakter yang berbeda-beda, mengingat setiap orang memiliki tempat yang berbeda dalam tumbuh dan berkembang. Karakter itu sendiri bukan semata-mata dimiliki seseorang setelah lahir. Akan tetapi, seseorang memerlukan waktu dan pembelajaran yang panjang dalam membentuk karakter. Karakter tersebut dapat terbentuk dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.

            Meskipun karakter tidak terbentuk setelah lahir, pendidikan karakter dapat dibentuk sejak dini. Mengapa harus sejak dini? Pada dasarnya, ketika masih kecil, seseorang lebih mudah untuk menerima dan meniru bagaimana tingkah laku orang disekitarnya. Pada usia ini, penting bagi orang tua mau pun orang disekitarrnya  memberikan ajaran dan menjadi contoh yang baik agar tumbuh karakter baik pada anak.

           Pada kenyataannya, tidak semua orang tua dapat memahami pentingnya mengajarkan pendidikan karakter pada anak. Padahal, melalui kegiatan kecil dan sederhana, anak bisa berkembang baik sesuai dengan usianya. Misalnya, orang tua mengajak anak untuk bermain. Melalui kegiatan ini, anak akan merasa senang dan menerima rangsangan untuk mengenali diri serta lingkungan sekitar. Dalam menentukan permainan, orang tua harus bersikap selektif. Permainan yang dilakukan harus dapat meningkatkan kemampuan anak dalam segi berpikir dan rangsangan. Hal ini juga dikemukakan oleh Widodo (2015), yang mengatakan bahwa kegiatan  bermain  merupakan  suatu  aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang   utuh   secara   fisik,   intelektual, sosial, moral, dan emosional. Perkembangan utuh tersebutlah yang mendorong pembentukan karakter anak.

      Selain kegiatan bermain yang dilakukan bersama orang terdekat, pendidikan karakter juga dapat diperoleh dari lingkungan masyarakat. Sebagai pelopor pembentukan karakter setelah keluarga, masyarakat berperan penting dalam pendidikan karakter anak. Seperti yang disampaikan Santika (2018), masyarakat merupakan sebuah komunitas yang saling ketergantungan satu sama lain, turut memberikan kontribusi bagi anak dalam memahami makna hidup, mempraktekan ajaran agama, rajin beramal, dan cinta damai. Jika nilai-nilai agama melekat pada budaya masyarakat, secara tidak langsung dapat mendorong pembentukan karakter pada diri anak. Contoh kegiatan yang memiliki nilai budi pekerti yaitu gotong royong. Meskipun kegiatan ini cenderung dilakukan oleh orang dewasa, tetapi jangan ragu mengajak anak untuk turut serta berada di wilayah gotong royong. Dengan begitu, anak akan mengetahui kegiatan menyiram tanaman, menyapu, dan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini akan membentuk karakter anak yang tolong-menolong dan mencintai lingkungan. Meskipun bergitu, ada salah satu yang perlu diperhatikan masyarakat dalam memahami anak, yaitu jangan menganggap segala perbuatan anak sebagai hal yang biasa. Sikap jail anak seperti mencoret dinding, membuang sampah sembarangan, meludah, dan merusak tanaman bukanlah hal yang diwajarkan. Apabila orang dewasa melihat anak melakukan kegiatan tersebut, sudah selayaknya menegur dan menjelaskan mengapa perbuatan itu tidak diperbolehkan.  Hal itu dilakukan agar anak bisa menyadari perbuatan yang tidak baik dan mengajarkan apa itu rasa bertanggung jawab, serta meminta maaf.

        Terakhir, penting untuk mengajarkan pendidikan karakter di sekolah. Selain di rumah dan lingkungan masyarakat, hampir sebagian waktu anak dihabiskan untuk belajar di sekolah. Seperti dikemukakan Fraenkel (1977: 1-2), sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise). Sekolah merupakan tempat bagi anak untuk menuntut ilmu, sekaligus menjadi kelas lanjutan pembentukan karakter anak. Guru berperan penting dalam memantau kegiatan anak dalam belajar, bermain, dan aktivitas sosialnya. Saat pembelajaran dilaksanakan, guru akan membimbing anak untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti menari dan menggambar. Jika guru dapat membantu anak dalam memilih minat dan bakatnya, maka akan mempermudah perkembangan karakter pada anak. Hal lain yang dapat dilakukan guru untuk membentuk karakter anak adalah membiasakan anak datang ke sekolah tepat waktu, memotivasi anak untuk percaya diri terhadap hasil pekerjaan yang dilakukan, menyapa guru, teman, dan warga sekolah, serta mengajarkan hal-hal kecil seperti jangan makan sambil jalan, cuci tangan sebelum makan, dan saling mengasihi satu sama lain.

            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui betapa pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Apa yang seseorang dapatkan sejak dini, akan membentuk kepribadian saat remaja dan menuju dewasa. Keluarga, masyarakat, dan sekolah memiliki peran masing-masing dalam memberikan pendidikan karakter. Dengan peran yang berbeda-beda, ketiganya harus memperhatikan suatu ajaran atau contoh yang baik sehingga tercipta karakter yang baik dalam diri anak.


Komentar