Meja Makan yang Menggigil

 





BABAK PERTAMA

Di dalam rumah sederhana dengan sebuah kamar menghadap meja makan berbentuk persegi panjang. Seorang laki-laki yang merupakan ayah Laras sedang duduk sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja. Berkebalikan dengan ayah, ibu Laras malah tampak bahagia dengan bibir senyum berseri. Ibu pun membuka pintu kamar Laras.

Ibu : “Ayo, Nak. Kita makan malam bersama.” (membuka pintu kamar Laras)

Laras : “Tapi, Bu. Aku takut ada ayah disana.” (mengamati meja makan ketakutan)

Ibu : “Sudahlah, ayah tidak akan marah. Keluarlah,  kita  makan.”  (menggandeng Laras)

Laras duduk di kursi biasa tempatnya makan. Masih dengan wajah berseri, ibu mengambilkan piring untuk Laras.

Ibu       : “Ini piringmu, Nak. Makanlah, ada ayam goreng kesukaanmu.” (menyodorkan piring berisi ayam goreng)

Laras : “Emmm. Iya, Bu nanti akan aku ambil.” (menyendokkan nasi ke dalam piringnya)

Laras tampak bingung melihat ayahnya diam saja dengan kepala telungkup di atas meja. Laras : “Ibu, mengapa ayah hanya diam saja?”

Ibu       : “Tidak apa-apa, Nak. Ayahmu tidak lapar.”

Laras : “Mengapa ayah tidak lapar, biasanya pulang kerja langsung makan.” Ibu   : “Ayahmu tidak akan lapar lagi.”


BABAK KEDUA

(Flashback ke kejadian sebelumnya)

Ibu memasak berbagai hidangan yang lezat seperti sup jamur dengan aroma rempah, daging panggang dan juga aneka puding dengan saus yang sangat legit.

 

 

Adegan pertama

Kini makanan-makanan itu telah tersaji diatas meja makan. Laras dan ibu duduk di ruang makan sembari melihat makanan itu tersaji dengan lezatnya.

 

 

Adegan kedua

Acap kali Laras dan ibu menonton bagaimana sup-sup dengan aroma rempah itu mengepulkan asap yang melambai-lambai menggelitik perut. Nasi dalam mangkuk besar pun mendadak berkeringat dan kemudian menjadi dingin.

Laras : “Bu, kenapa kita tidak makan sekarang saja? Makanan-makanan itu akan segera dingin.” (mengamati satu persatu lauk)

Ibu       : “Kita harus menunggu ayahmu dulu.”

Laras : (memegang perut sambil merengek) “Tapi aku sudah tidak sabar, Bu. Aku sudah sangat lapar.”

Ibu  : “Tunggulah sebentar lagi, ayahmu sedang dalam perjalanan pulang.” Laras : “Mengapa kita harus menunggu Ayah setiap kali akan makan malam?.”

Ibu : “Bukankah Ibu pernah bilang, ayahmu adalah kepala keluarga, jadi ia yang harus membuka makan malam kita. Tanpa ayahmu, makan malam ini bukanlah makan malam keluarga. Ibu harap kau paham.”

Laras : “Tapi aku sudah lapar sekali, Bu.”

Ibu : “Ibu harap kau diam!” (dengan nada sedikit tinggi).  “Bagaimana  jika  kita bermain boneka sembari menunggu ayahmu datang?.”

Laras semakin melemas karena menahan rasa laparnya, ia tak membalas kata-kata ibu hanya terdiam sembari menyandarkan kening di bibir meja.

Laras : “Mengapa ayah lama sekali, Bu?.” (bertopang dagu)

Ibu : “Sebentar lagi ayahmu pasti datang.”

Laras : “Mengapa Ayah tidak bekerja di siang hari saja, Bu? Agar kita bisa segera memulai makan malam.”


Ibu : (tersenyum tipis) “Pekerjaan ayahmu  memang harus dilakukan di malam hari,  jadi ayahmu harus bekerja di malam hari.”

Laras : “Aku benar-benar sudah lapar, Bu, perutku sudah berkeriuk-keriuk.”

Ibu : “Laras, apakah kau benar-benar sudah lapar?” (menunjukkan tatapan iba dan kasihan)

Laras hanya mengangguk ringan. Dan, anggukan itu membuat Ibu beranjak dari kursinya, meraih piring dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi. Ibu menuangkan sup jamur dan mengiris beberapa potong daging panggang.

Ibu : “Apa kau mau bawang goreng?” Laras : “Tidak, Bu.”

Ibu    : “Makanlah, Nak. Maaf ibu sudah membentakmu tadi.” (menuangkan air putih  ke dalam gelas)

Laras   : “Mengapa ibu tidak ikut makan?.” Ibu       : “Ibu akan menunggu ayahmu, Laras.” Laras : “Apakah ibu belum lapar?.”

(Ibu menggeleng, sesaat kemudian terdengar suara ketukan bertubi-tubi dari pintu depan)

Ibu       : “Mungkin itu ayahmu.” (berjalan menuju pintu depan)

Ayah berjalan begitu dingin menuju ruang makan sambil melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke Ibu. Di depan meja makan Ayah terdiam menatap kearah laras. Tubuhnya seperti bongkahan batu yang tiba-tiba jatuh dari atap ruang makan, sedangkan matanya seperti sepasang senter yang membuat mata yang dituju sakit. Lalu Ayah menggebrak meja kuat-kuat, membuat sup jamur dalam mangkuk berguncang dan sebagian kuahnya ruah ke atas meja. Laras ketakutan dan berhenti mengunyah.

Ayah : “Apa yang sudah kukatakan padamu tentang makan malam keluarga?.”(dengan nada tinggi)

Ibu : (tubuh dan bibir bergetar) “Tidak ada yang boleh menyentuh hidangan makan malam sebelum kau datang,”

Ayah : “Lantas mengapa kau tidak membiarkan Laras menungguku?.” (menatap Laras dengan tajam)

Ibu : “Laras sudah kelaparan menunggumu, dan kau tak pulang-pulang,  aku tidak  tega,” (dengan nada lirih)

Ayah   : “Sejak kapan kau berani membantahku?!”


Ayah menyeret taplak meja berenda itu dengan sangat kasar hingga semua makanan— termasuk makanan dalam piring Laras yang belum habis—terlempar berantakan. Piring- piring dan mangkuk berserak ke lantai dan patah-rekah menjadi beling. Ibu ternganga menatap semuanya. Dan tubuh gemetarnya semakin nyata.

Ayah : “Sekarang kau makan itu, bukankah kau sudah sangat kelaparan?” (menyeret Laras mendekati nasi dan sup yang telah ruah bercampur menjadi satu)

 

 

Adegan ketiga

Ibu : “Kau sudah gila!” (menunjuk ayah)

Ibu berusaha merebut Laras dari tangan ayah, tetapi ibu malah mendapatkan tamparan di pelipisnya. Ibu tak menyerah, ia terus berusaha merengkuh Laras dari tangan Ayah, hingga Ayah mendorong Ibu kuat-kuat sampai Ibu terjengkang ke lantai. Ibu berguncang- guncang karena isakan, Ayah silih menyeret Laras menuju kamar dan mengunci Laras dari luar kamar.

Ayah : “Kalau kau sampai berani macam-macam, membukakan pintu atau memberinya makan tanpa sepengetahuanku, ia akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini.” (Dengan nada tinggi.)

 

 

Adegan keempat

Setiap hari, Laras selalu diseret ayahnya untuk dikunci di kamar. Laras yang tidak memiliki daya hanya bisa menurut. Sedangkan ibunya, terpaksa melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.

Ayah : “Ini, makan bagianmu!”

(Ayah melemparkan sepiring nasi setelah membuka pintu kamar, setelah itu ia menguncinya kembali. )

Setiap malam, Laras melihat perseteruan kedua orangtuanya melalui lubang kunci kamar. Ibu Laras tidak berhenti memohon kepada ayah untuk membebaskan Laras, tetapi ayah yang sudah tersulut emosi justru memaki, meneriaki, dan membentak ibu.

Ayah : “Kan sudah ku bilang, yang penting dia tidak di meja makan!”

Ibu : “Bagaimanapun, Laras anak kita. tolong biarkan dia makan  malam dengan  tenang, Laras juga sudah menyesali perbuatannya.” (kedua mata ibu tidak berhenti menatap lubang kunci kamar)

(Ayah melempar piringnya yang masih berisi nasi)

Ayah : “Istri dan anak sama saja! Sudah! Aku tidak selera makan!”


(Ayah meninggalkan meja makan)

 

 

Adegan kelima

(Keesokan harinya)

Hari ini ibu menyiapkan makanan lebih awal, tidak jarang sesekali ibu menggumamkan sebuah lagu yang terdengar menggirangkan. Hari ini ibu sering melihat Laras melalui lubang kunci dan tersenyum manis. Anehnya, ibu melakukan dengan senyuman yang hangat.

Ibu       :    “Bertahanlah   sebentar    lagi.”    (menepuk    puncak    kepala    Laras,    Laras mengangguk)

Laras memperhatikan gerak-gerik ibunya dari lubang kunci. Laras heran mengapa wajah ibunya menunjukkan kegirangan. tidak lama kemudian, Laras melihat ibunya menaburkan sesuatu dalam gelas yang berisi air putih milik ayah.

TOK-TOK (suara pintu yang diketuk)

Ibu       : (dengan panik memasukkan bungkus serbuk putih dalam saku celana) “Tidak dikunci!”

Ayah memasuki ruang makan dengan raut seperti biasanya. Matanya melirik ke arah kamar hanya untuk memastikan bahwa Laras berada di sana.

Ayah   : (menggantungkan jas pada belakang kursi) “Apa menu malam ini?” Ibu  : “Sayur kesukaanmu.”

Ibu hanya mengamati Ayah yang menyantap menu makan malam dengan lahap. Sesekali tatapan ibu beralih pada lubang kunci kamar dan menunjukkan senyum lebarnya.

Ibu       : (menyodorkan segelas air putih)

Ayah : “Airnya sedikit aneh.” (mengangkat gelas didepan wajah)

Tidak lama kemudian, suara batuk menggema di seluruh ruangan. Ayah dengan kekuatannya memegang lehernya yang terasa panas dan terbakar.

DUK (bunyi kepala yang membentur bibir meja)

Ibu mengambil kunci dari saku celana ayah. Langkahnya terlihat santai menuju Laras berada. Senyumnya tidak luntur sedari tadi.

Ibu       : (menepuk puncak kepala Laras) “Mari kita melanjutkan makan malam.” Laras : “Apa ayah tidak marah?” (melihat ke arah meja makan)

Ibu       : “Tidak. Tidak akan.”


Keduanya menikmati makan malam dengan damai. Tatapan Laras tidak lepas dari ayahnya yang masih menelungkupkan wajahnya di atas meja.


Adegan keenam

Mereka telah selesai dengan makan malamnya. Laras heran melihat ayahnya yang masih menelungkupkan wajah di atas meja.

Laras : “Bu, apakah ayah tidak kelaparan?” Ibu       : (senyum tipis) “Tidak akan lagi.” (Laras mengangguk.)


~Selesai~


10 Juni 2021

Komentar