Kisah dari Sulastri
Jika semua perempuan itu tahu bahwa cantik
itu alamiah, maka Sulastri tidak akan berniat merubah apa yang telah Tuhan kehendakkan
kepadanya. Di gubug tengah sawah perempuan berumur 30 itu beradu nasib. Seorang
diri dengan peninggalan perabot simboknya yang telah tiada beberapa tahun
silam.
Perawakannya kurus,
wajahnya kusam dan matanya sayu. Rambutnya yang panjang lama-kelamaan ibarat
benang yang diuntai dan tidak di gulung kembali, kusut. Hidupnya terasa sepah
seperti masakannya sendiri. cibiran
orang dari kampung sebelah membuat Sulastri lebih memilih hidup dengan kucing putih yang tidak bersih. Bukan
apa-apa, tapi orang-orang lebih memperhatikan penampilan daripada kebaikan
hatinya.
“Pasti lah dia kutukan. Simboknya pasti meninggal karena
punya anak seperti dia.”
“Nyidam apa Mak Iyem sampai punya anak seperti Sulastri.
Sok cantik dia, mana ada lelaki yang mau dengan dia.”
Begitulah
mulut-mulut kejam manusia yang sudah menjadi makanan sehari-hari Sulastri,
perempuan itu hanya bisa menyabarkan diri karena sebenarnya justru para
laki-laki yang sering menggunjing didepan rumahnya. Hati lembutnya sudah
beberapa kali terluka dan air matanya tumpah dengan sia-sia.
Akhir-akhir ini,
Sulastri sering terbangun seperempat malam karena mimpi yang sama. Dia berada dalam
sebuah gua di atas bukit dekat gubugnya berada. Di mimpinya, Sulastri didatangi
seorang nenek yang membasuhnya dengan air berwarna hitam dari gentong besar
berwarna cokelat. Ketika air itu mengenai wajahnya, pada saat itu juga Sulastri
terbangun dari tidurnya.
“Hidup itu keras, nduk. Kamu kalau tidak cantik, ya dapat
mulut dari orang-orang. Karena orang itu maunya yang lebih, nggak ada kata
cukup-nya.”
Kalimat itu selalu
keluar dari mulut nenek sebelum ia membasuh wajah Sulastri dalam mimpi.
Tidak khayal hati
Sulastri dirundungi rasa gundah. Sebagian tubuhnya berusaha untuk tidak percaya
namun rasanya seperti gila, karena hanya ada beberapa orang yang mempercayai
bahwa mimpi itu adalah nyata dan sisa tubuh Sualstri mengiyakannya.
Hingga keesokannya,
perempuan malang itu memutuskan untuk membuktikannya.
***
“Ah tidak mungkin lah. Mana bisa itu Sulastri?
Bulan lalu aku lihat dia masih sama saja. Sulastri ya tetap saja Sulastri.
Tidak lah kalau berubah.” Rukhayah membenarkan caping yang ia kenakan, wajahnya
yang berkeringat menunjukkan bahwa perempuan paruh baya itu tidak percaya.
Parmi berhenti
memanen padi, satu tangannya yang memegang arit
ia arahkan ke gubug tua timur sawah tempat mereka berada. “Kalau tidak percaya,
Rapopo. Coba kamu lihat, benar atau
enggaknya. Aku juga cuman lihat kemarin ada perempuan cantik bawa kayu di gubug
itu. Siapa lagi kalau bukan Sulastri?”
Beberapa meter dari
tempat mereka berada, seorang perempuan cantik tengah menggulung rambut
panjangnya. Selendang dan kemben berwarna cokelat membalut tubuhnya yang
berisi. Senyum Sulastri begitu lebar hingga mendungnya langit sore masih bisa
ia rasakan kenikmatannya.
“Cantik itu nilai tambah,
nduk. Yang penting perempuan itu harus jejeg.” Jejeg yang dimaksud adalah saat
perempuan itu mampu berdiri sendiri.
Kalimat itu selalu
keluar dari mulut perempuan tua ketika
melihat Sulastri memandangi tubuh sendir. Perempuan yang dipanggil Sulastri
dengan sebutan “mbah” yang berarti simbah atau nenek itu tengah menyisir rambut.
“Iya, Mbah.” bibir Sulastri melengkung ke
atas, “Sulastri cari kayu dulu. Simbah disini saja.”
Perempuan tua itu
mengangguk dan mengamati kepergian Sulastri.
Selama hidup
sebagai perempuan, baru kali ini Sulastri merasakan hidup yang benar-benar
hidup. Raganya belum pernah se-semangat ini dan jiwanya belum pernah sekuat
ini. Perempuan itu merasa terlahir kembali. Menjadi perempuan yang sesungguhnya
—cantik seperti apa yang orang-orang katakan. Kini Sulastri tidak peduli dengan
apa yang orang katakan kepadanya, ia akan terus berbuat sesuka hatinya.
Prinsipnya; semakin diinjak, ia semakin menunjukkan bahwa perempuan seperti
dirinya juga memiliki hak untuk melonjak. Membuktikan diri tanpa banyak berasumsi.
Suasana hutan tidak
seperti yang Sulastri kira. Selama ia hidup dan mencari kayu, baru kali ini
perempuan itu melihat hutan yang begitu ramai. Lama-kelamaan kaki Sulastri
melambat karena hati lembutnya ragu untuk mendekat. Hingga akhirnya 7 pasang
mata laki-laki yang berumur kisaran kepala 4 menjatuhkan tatapannya pada
Sulastri.
“HEI SULASTRI!”
Sulastri rasanya
ingin berlari, namun waktu seperti diputar cepat hingga perempuan itu berada di
tengah-tengah para lelaki yang menunjukkan raut amarah. Dalam keadaan seperti
ini, Sulastri hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya lama-kelamaan
bergetar dan perempuan ini meneteskan cairan bening dari matanya.
“Apa yang kau
lakukan? Siapa perempuan tua dirumahmu itu?” Satu dari laki-laki itu menunjuk
wajah Sulastri, melakukan hal itu ketika bertanya.
Dengan terbata-bata,
Sulastri berusaha membuka mulutnya, “Dia nenek-ku. Tidak ada urusan dengan kalian
semua.”
“PENIPU KAU
SULASTRI.” Balas laki-laki yang lain, “KAU BAWA DUKUN KERUMAH MU KAU PIKIR KAMI
TIDAK TAHU?”
“Tidak. Dia benar
nenek-ku.” Kali ini tatapan Sulastri terlihat tajam.
Satu dari laki-laki
itu mendekati Sulastri, “Tidak mungkin kalau dia manusia biasa kau bisa menjadi
cantik seperti ini,” ujarnya.
“SIAPA DIA
SULASTRI? KAU TIDAK INGIN KAMPUNG INI AMAN?” Sulastri memejamkan matanya ketika
suara keras itu masuk dalam telinganya, dan air matanya masih terus menetes.
Sulastri mengambil napas
kasar, “Apa urusannya dengan desa ini?! Saya sama sekali tidak pernah
menginjakkan kaki di desa kalian. Saya hidup sendiri dan seharusnya kalian
tidak perlu mencampuri urusan saya.”
Setelah itu
Sulastri melihat gelap menghampirinya, terakhir yang ia rasakan hanya perih di
pipi kirinya. Sulastri tidak sadarkan diri.
***
Semilir angin malam berembus melalui celah
jendela cokelat yang tidak lagi utuh. Suara katak dan jangkrik beriringan
seakan mengisyaratkan bahwa masih ada sedih yang tertinggal disini. Sungguh,
elegi yang menyakitkan.
Tidak lama, keluar
perempuan dengan selendangnya. Berjalan melewati pematang sawah tanpa tujuan
ingin kemana.
“Simbok.” Rapal
Sulastri dengan kedua tangannya yang saling bertautan, “benar kata Simbok, zaman ini zaman edan. Laki-laki
banyak yang tidak menghargai Sulastri, mbok.”
Sulastri masih
ingat betul apa yang pernah dikatakan Simbok kepadanya,
“Kamu itu cantik di mata Simbok dan diri kamu sendiri. Kalau
orang lain masih melihat kamu dengan penampilan kamu, berarti kamu lebih tinggi
derajat daripada mereka,
Ingat Sulastri, perempuan itu dimana-mana harus terlihat
tinggi. Sekalipun tidak cantik diwajah, tapi harus punya cantik hati.”
Mata Sulastri
terpejam. Tiba-tiba teringat kala dirinya mendaki bukit demi membuktikan
kebenaran mimpinya. Di tengah perjalanan, dirinya bertemu perempuan tua dengan
sisir di tangan kanan dan mengatakan bahwa dirinya tersesat ketika ingin pulang
ke tempat tinggalnya berada. Rasa iba Sulastri membuat perempuan itu mengurungkan
niatnya ke bukit dan memilih membawa pulang perempuan tua yang setelah beberapa
hari di gubugnya ia panggil dengan sebutan “Simbah”.
Simbah yang selalu
memberinya minuman yang biasa disebut jamu setiap kali Sulastri bangun tidur.
Simbah yang selalu memberikan ramuan dari pepaya untuk digosokkan di tubuh
Sulastri sebelum perempuan itu ke sungai untuk mandi. Simbah yang selalu membasuh
wajah Sulastri dengan air teh dan kopi. Dan Simbah yang memberikan santan pada
rambut kusut Sulastri.
Sulastri ingat lagi
pada waktu itu. Dimana tubuhnya terbangun dalam gubug dengan pipinya yang
memerah, dan tidak ada lagi sosok perempuan yang ia panggil Simbah.
Yang ia temukan
hanya secarik kertas yang ditindih oleh botol kaca.
“Hidup itu keras, nduk. Kamu kalau tidak cantik, ya dapat
mulut dari orang-orang. Karena orang itu maunya yang lebih, nggak ada kata
cukup-nya.
Tapi, semua perempuan itu cantik. Hanya saja, ukuran
cantik seseorang itu berbeda.
Kalau Sulastri cantik dibagian dalam. Yang ternyata
harganya jauh sangat mahal.”
Angin malam masih
setia menjilat tubuh Sulastri. Perempuan itu terus berjalan tanpa arah.
Dengan wajahnya
yang dulu atau pun sekarang, Sulastri kini percaya bahwa nilai seorang
perempuan terletak bukan dari wajah ataupun penampilannya. Tetapi seberapa
mampu ia bisa menjaga martabatnya sebagai seorang perempuan.

Komentar
Posting Komentar