INDEKS-INDEKS DALAM NOVEL LELAKI HARIMAU KARYA EKA KURNIAWAN (Kajian Semiotika Charles Sander Peirce)

 

 

Abstrak

Penelitian ini akan membahas mengenai indeks-indeks yang terdapat dalam sebuah novel. Pendekatan yang digunakan dalam analisis ini adalah semiotika. Objek penelitian ini menggunakan novel karya sastrawan ternama di Indonesia, yaitu Eka Kurniawan yang berjudul Lelaki Harimau. Novel ini membahas mengenai kehidupan masyarakat yang memiliki konflik pembunuhan di kota kecil. Dengan pendekatan semiotika melalui pengkajian indeks, ditemukan adanya indeks-indeks dalam novel tersebut, yaitu penyebab kegilaan Nuraeni, alasan kepergian Margio, pembunuhan yang dilakukan Margio, dibalik kebengisan Komar bin Syueb, dan hubungan keluarga yang krisis. Pemilihan novel tersebut sebagai objek kajian adalah karena novel tersebut memiliki keterikatan kausal dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Kata kunci: novel, Lelaki Harimau, indeks, semiotika

 

Abstract

This study will discuss the indices contained in a novel. The approach used in this analysis is semiotics. The object of this research uses a novel by a well-known writer in Indonesia, namely Eka Kurniawan entitled Man Tiger. This novel discusses the life of people who have murderous conflicts in a small town. Using a semiotic approach through index studies, it is found that there are indices in the novel, namely the cause of Nuraeni's backwardness, the reason for Margio's departure, the murder committed by Margio, behind Komar bin Syueb's ruthlessness, and family relationships in crisis. The choice of the novel as the object of study is because the novel has a causal attachment to the events that occur.

Keyword: novel, Man Tiger, index, semiotics

 

 


PENDAHULUAN

Sebagai wujud dari karya sastra, novel adalah hasil karangan yang berbentuk fiksi. Lebih lanjut, Wicaksono (via Kustanti, 2016) menyampaikan bahwa novel termasuk dari genre prosa fiksi.. Novel termasuk fiksi karena novel adalah hasil khayalan, imajinasi, atau sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Meskipun ada unsur kisah nyata yang terletak di dalam novel. Hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa novel adalah karya yang berwujud fiksi.

Eksistensi karya sastra novel semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan. Terlebih lagi, masa pandemi yang cukup lama rupanya memengaruhi keproduktifan seseorang dalam berkarya, terutama menulis. Tarigan (dalam Al-Ma’ruf, 2017:1) menyatakan bahwa karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk menuangkan dan mengungkapkan ide-ide hasil perenungan tentang makna dan hakikat hidup yang dialami, dirasakan dan disaksikan. Salah satu alasan mengapa orang-orang mulai memiliki ketertarikan untuk menulis adalah karena adanya perenungan dan pengalaman hidup yang dijalani.

Penulisan novel bukan semata-mata menjadi hiburan dan penyaluran kreativitas dari penulisnya, tetapi karya sastra ini memiliki tujuan untuk memberikan pengajaran melalui pesan, kesan, dan pembelajaran yang terdapat dalam novel.

Berbicara soal novel dan penulisnya, tidak afdal rasanya apabila tidak menyinggung salah satu sastrawan ternama di Indonesia, yaitu Eka Kurniawan. Penulis kelahiran 1975 ini telah melahirkan karya-karya luar biasa dalam dunia kasusatraan. Pernah dijuluki sebagai wajah baru dalam sastra, karya-karyanya telah diakui hingga ke mancanegara.

Salah satu karyanya yang berhasil menarik perhatian para pecinta novel maupun yang tidak, yaitu novelnya yang berjudul Lelaki Harimau. Novel tersebut memiliki aliran sastra realisme magis, yaitu hal mistis (misteri) yang dikemas dalam kehidupan masyarakat. Sari (2018) menyampaikan bahwa realisme magis dipahami sebagai sebuah gaya estetik bergenre fiksi yang mengandung unsur-unsur magisme dan bercampur aduk dengan dunia nyata. Dengan aliran tersebut,  novel Lelaki Harimau mampu membawa pembaca hanyut dalam kisah pembunuhan di suatu kota kecil.

Dengan alur yang mengangkat kejadian sehari-hari, novel ini berupaya untuk membuka pandangan pembaca untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, entah menyenangkan atau menyedihkan, selalu sarat dengan musabab.

Dalam novel Lelaki Harimau, alur disusun sedemikian rupa hingga setiap tokoh selalu memiliki kisah-kisah dibalik karakter yang diberikan. Melalui hubungan sebab-akibat yang ternyata ditemukan sampai pada akhir cerita, rupanya novel ini mengandung tanda yang saling berhubungan satu sama lain.

Tanda-tanda tersebut melekat dalam bahasa yang terdapat pada novel. Dalam ilmu bahasa, apabila kita memperlajari tentang ilmu tanda, maka itu tandanya bahwa kita akan bersinggungan dengan istilah semiotika.

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari mengenai tanda. Yulianti dan Putra (2017) mengungkapkan bahwa semiotika menawarkan suatu sistem, yaitu cara memandang tanda-tanda yang sistematis seolah-olah setiap tanda itu strukturnya jelas, dalam arti tanda itu seolah-olah bermakna tertentu padahal bermakna yang lain. Siapapun boleh menafsirakan tanda-tanda itu dengan bebas, asalkan sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tanda-tanda yang terdapat dalam objek kajian akan dianalisis sehingga akan diketahui maknanya. Salah satu bentuk kajian dalam semiotik yang mempelajari mengenai tanda adalah indeks dalam teori Charles Sanders Peirce.

Djawad (2016) mengartikan indeks sebagai tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal (hubungan sebab akibat), atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Demikian pula yang disampaikan Nurgiyantoro (2002) bahwa indeks berupa hubungan kedekatan eksistensi. Secara sederhana, Fatiman (2020) mengartikan indeks sebagai hubungan antara representamen dan objeknya berdasarkan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya atau disebut tanda sebagai bukti. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa indeks memiliki pemakna yang paling jauh, serta dapat mengandung isyarat dan musabab.

Pemilihan novel Lelaki Harimau milik Eka Kurniawan sebagai objek kajian indeks dengan pendekatan semiotika, didasarkan karena novel ini rupanya memiliki hubungan sebab-akibat yang terdapat dalam setiap persitiwanya. Oleh karena itu, peneliti berusaha mengulik adanya hubungan kausal dalam novel tersebut.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian pada novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan sastra yang digunakan untuk indeks adalah pendekatan semiotik dengan objek kajiannya, yaitu “isi” dari novel tersebut.   Semiotika sebagai pendekatan memiliki fokus utama dengan sistem tanda, maka dari itu pendekatan semiotika ini kerap sekali digunakan dalam ragam penelitian sastra, terutama penggalian nilai dan makna melalui tanda-tanda (Asriningsari dan Umaya, 2019:18). Isi dalam novel akan dikaji berdasarkan salah satu relasi dalam trikotomi menurut Peirce, yaitu indeks.

Tahap analisis data yang dilakukan adalah dengan membaca novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, mencermati peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam novel, menandai adanya tanda-tanda kausal pada peristiwa-peristiwa tersebut, dan terakhir yaitu menarik kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Indeks-indeks dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan

1.    Kegilaan Nuraeni

Indeks pertama yang menjadi musyabab dalam novel Lelaki Harimau adalah kebiasaan Nuraeni—Ibu Margio yang dianggap gila karena berbicara pada panci-kompor dan pancinya. Sikap Komar bin Syueb yang kasar dan keras kepada Nuraeni lah yang membuat perempuan itu harus menuangkan perasaan sedih dan lelahnya kepada kompor dan pancinya. Berikut adalah kutipan yang mendukung.

Di rumah baru, di luar kebiasaannya setelah delapan tahun perkawinan, Nuraeni mulai banyak bicara dan kata-katanya merupakan warisan rasa keji nan peda yang telah tumbuh sejak lampau itu. Masalahnya, kata-kata tajam ini tak diajukan pada siapa pun, melainkan pada kompor dan pancinya, yang tak tergantikan sejak awal perkawinan. Kepada kompor dan panci itu, ia akan mengeluhkan dinding balik bambu yang menggelayut, yang tak lebih apik dari kandang sapi (Kurniawan, 2017:113).

2.      Kepergian Margio

Indeks kedua yang menjadi musyabab dalam novel Lelaki Harimau adalah peristiwa kepergian Margio yang membuat orang disekitarnya bertanya-tanya. Semua dimulai ketika Margio merasa malu akibat perbuatan yang dilakukan Ibunya sehingga mengandung anak dari Anwar Sadat. Orang-orang tidak mengetahui bahwa Margio kabur karena merasa malu, sedih, dan kecewa. Berikut adalah kutipan yang mendukung.

Kini, Margio menyadarinya, bayi kecil dalam perut Ibunya bukanlah benih komar. Kemarahan membengkak itu sangat terjelaskan, dan sejenak ia gamang ke mana mesti berkubu.

Ada rasa malu membuncah di dirinya, dan menuntunnya pergi dari rumah, terdampar di pos ronda, dan terus merenungi semua itu sebab ke mana pun pikirannya pergi, kenyataan tersebut demikian gamblang di depan matanya.

3.      Pembunuhan oleh Margio

Indeks ketiga yang menjadi musyabab dalam novel Lelaki Harimau adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan Margio kepada Anwar Sadat. Awal mulanya, cerita dimulai saat Margio kedapatan menggigit urat leher Anwar Sadat hingga membuat darah mengucur deras dari lehernya. Diketahui bahwa Margio dan sosok harimau di dalam dirinyalah yang memiliki dendam kepada Anwar Sadat sebab lelaki tua itu telah bersetubuh dengan ibunya dan menghasilkan anak—yaitu adik Margio yang bernama Marian. Keputusan Margio untuk mengoyak leher Anwar Sadat semakin kuat lantaran lelaki tua itu tidak mau bertanggung jawab. Berikut adalah kutipan yang mendukung.

Ia berkata kepada lelaki itu, “Aku tahu kau meniduri ibuku dan Marian anak kalian,” katanya. Margio melanjutkan, “kawinlah dengan ibuku, ia akan bahagia.”

Tergagap Anwar Sadat menggeleng, dan dengan kata pepatah ia bergumam. “Tidak mungkin, kau lihat aku ada istri dan anak.” Tatapan itu jelas mencela gagasan konyol Margio. Dan kalimat selanjutnya memberi penjelasan melimpah, “lagi pula aku tidak mencintai ibumu.”

Itulah kala harimau di dalam tubuhnya keluar. Putih serupa angsa (Kurniawan, 2017:190).

4.      Kesedihan Komar bin Syueb

Ada yang menarik dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan ini. sejanak, pembaca akan dibuat marah dengan sikap para tokoh yang terlihat keras dan salah. Akan tetapi, pada akhirnya, Eka memberikan adanya musyabab mengapa hal tersebut bisa terbentuk menjadi watak tokoh-tokohnya. Salah satu tokoh kuat, yaitu Komar bin Syeub—Ayah Margio. Pada bagian awal diceritakan bahwa lelaki itu begitu tempramen, kepada istri dan anak-anaknya. Namun, muncul bagian di mana diceritakan alasan mengapa lelaki itu begitu bengis dan kasar. Lelaki itu merasa bahwa ia terlalu letih sepanjang hidupnya, melakukan apapun usaha untuk menikahi istrinya hingga mencari tempat tinggal mereka. Akan tetapi, respon anak dan istrinya selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berikut adalah kutipan yang mendukung musyabab tersebut.

Ia bertanya-tanya mengenai tangannya yang ratusan kali mencederai bininya, dan anak-anak mereka, matanya kembali berlinangan berpikir semua kekeliruan itu datang dari dirinya. Tapi sisi lain dirinya akan membela, mengenang saat ia lelah pulang ke rumah dan mendapati istri yang muram, anak-anak yang sebengal setan, dan tak ada lagi yang bisa dipikirkannya kecuali menimpuk mereka dengan apapun, berharap membuat mereka sadar ia telah dikutuk untuk letih sepanjang masa (Kurniawan, 2017:146).

5.        Hubungan keluarga yang Krisis

Adanya permasalahan keluarga hingga berujung kekerasan verbal dan nonverbal dalam novel Lelaki Harimau mengakibatkan tiap-tiap kepala memiliki watak yang bengis, bengal, dan keras kepala. Termasuk Margio. Lelaki itu bahkan sering mencuri ayam milik Ayahnya sendiri. Perbuatannya ini dilakukan karena kekesalan yang ia pendam terhadap Komar bin Syueb—ayahnya. Berikut adalah kutipan dalam novel yang mendukung.

“Mencuri ayam, itulah satu-satunya kelakukan jahil anak itu,” kata Kyai Jahro. “Dan ayam-ayam itu milik ayahnya sendiri.”

Dan itu bukan lagi rahasia. Semua orang di kampung itu tahu Margio sering mencuri ayam ayahnya, bukan karena butuh ayam itu, tapi lebih karena jengkel pada ayahnya (Kurniawan, 2017:12).

SIMPULAN

Hasil dari pembahasan di atas menunjukkan bahwa terdapat indeks-indeks yang menjadi akibat dari apa yang disebabkan oleh tokoh-tokoh dalam cerita: kegilaan Nuraeni yang disebabkan oleh sikap Komar bin Syueb yang keras kepadanya; kepergian Margio dari rumah karena merasa malu sebab ibunya bersetubuh dengan Anwar Sadat hingga mengandung; pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio karena lelaki tua itu tidak mau bertanggung jawab dan malah menghina; sikap bengal Margio yang disebabkan oleh rasa jengkelnya kepada Ayahnya sendiri. Itu semua adalah sebab dan indeks-indeks yang ditemukan dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan.

Indeks-indeks yang terbentuk ini membuat pembaca lebih memahami bagaimana alur cerita karena penulis membuat pembaca bersikap netral dengan alasan-alasan terjadinya konflik yang dialami oleh para tokoh. Segala akibat dari peristiwa yang terjadi memiliki sebab yang dikisahkan secara kompleks dan runtut.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron dan Farida N. (2017). Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi. Surakarta: CV.Djiwa Amarta Press.

Asriningsari, Ambasari dan Nazia Maharani Umaya. (2019). Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra. Semarang:  IKIP PGRI Semarang Press.

Djawad, Alimuddin. (2016). Pesan, Tanda, dan Makna dalam Studi Komunikasi. Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 1 (1). https://jurnal.stkipbjm.ac.id/index.php/STI/article/view/344.

Fatimah. (2020). Semiotika dalam Kajian Iklan Layanan Masyarakat (ILM). Sulawesi Selatan: TallasaMedia.

Kurniawan, Eka. (2017). Lelaki Harimau. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kustanti. (2016).”Tema dan Pesan dalam Fungsi Media pada Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (Analisis Wacana Pragmatik)”. Jurnal SAP, 1 (2). https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/SAP/article/view/1025/1006 .

Mu’arrof. (2019). Representasi Masyarakat Pesisir: Analisis Semiotika dalam Novel Gadis Pesisir Karya Nunuk Y. Kusmiana. Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra. https://jurnal.uns.ac.id/prosidingsemantiks/article/view/39002/25955.

Nurgiantoro, Burhan.(2010). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratnaningsih, Dewi dan Rahmat Prayogi. (2020) Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita tentang Lidah Karya Guntur Alam. Jurnal Edukasi Lingua Sastra, 18 No.2, https://jurnal.umko.ac.id/index.php/elsa/article/view/303.

Sari, Renny Ambar. (2018). Narasi Realisme Magis dalam Novel Puya ke Puya Karya Faisal Oddang: Konsep Karakteristik Realisme Magis Wendy B. Faris. Jurnal Sapala, 5 (1). https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-sapala/article/view/28530.

Sundusiah, Suci. (2015). Memahami Realisme Magis Danarto dan Marquez. Journal of Language, Literature and Teaching, 12 (01). https://lingua.soloclcs.org/index.php/lingua/article/view/76.

Yulianti, Yanti Dwi, dan Adita Widara Pura. (2017). Semiotika dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye. Literasi: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya, 1 (20. https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/literasi/article/view/785.

Komentar