Mereka Mengeja Larangan Mengemis
Cerpen
terakhir yang saya baca di awal tahun 2021 adalah sebuah karya dari Ahmad
Tohari. Cerpen yang berlatar belakang tentang pengemis dengan penokohan kelima
anak kecil dikisahkan dengan sederhana syarat penuh makna.
Cerpen
ini ditulis menggunakan alur maju. Selama membaca cerpen ini, sudut bibir saya
tidak berhenti untuk tertarik ke atas. Cerpen yang ditulis Ahmad Tohari ini sekali
lagi mampu membuat saya terkesan dengan idenya yang cemerlang.
dalam
cerpen ini, ada salah satu tokoh bernama Gupris. Ia digambarkan sebagai gadis
yang ceria, cerewet, dan usil. 4 teman lain Gupris adalah laki-laki yang
kesehariannya mengemis dengan mengandalkan truk sebagai tempat untuk pulang.
Kelimanya selau menghabiskan waktunya bersama untuk mengamen agar mendapatkan
uang untuk hidup. Diantara kelimanya, Gupris yang lebih mending karena ia memiliki tempat tinggal dan sempat bersekolah.
Ahmad Tohari benar-benar mengisahkan kelima anak tersebut dengan polos. Adanya tokoh hansip bernama Karidun membuat
cerpen ini lebih bermakna. Ide secuil nasi yang berada di sudut bibir Karidun
merupakan pemikiran yang cemerlang dari seorang Ahmad Tohari. Bahkan sampai
penghujung cerpen, permasalahan nasi masih membuat saya tertawa.
Meskipun
ini merupakan fiksi, tapi saya meraskan bahwa kisah-kisah seperti ini ada dalam
bentuk dunia nyata. Saya sedikit terkejut ketika ada sebuah dialog yang mengatakan
“Wah, susah kalau begitu? Tidak dapat
uang? Lalu kita beli makan pakai apa?
Enakan ngamen terus, ngemis terus, bisa makan terus.”anak
tersebut mengomentari ucapan pak Hansip yang mengatakan bahwa sekolah tidak
mendapatka uang, justru malah membayar. Secara tidak langsung, Ahmad Tohari
membuat saya merasa iba, bagaimana jika anak-anak yang bernasib seperti itu
memiliki pemikiran yang sama? Mereka lebih menyukai menjadi pengamen dan
pengemis karena mendapatkan uang. Namun, hal itu juga bukan hal yang mereka
inginkan. Mereka hanyalah korban dari kelalaian tanggung jawab orang dewasa.
Saya menyimpulkan bahwa Ahmad Tohari, secara tidak langsung memberikan makna
tersirat dari cerpen yang ia tulis. Setelah membaca cerpen tersebut, saya
merasa sedih membayangkan kebahagian sederhana yang mereka dapatkan dari
hal-hal yang sederhana. Meskipun cerpen ini tidak menceritakan keluh kesah yang
mereka alami, namun penggambaran suasana dari penulis cukup sampai hati bagi
para pembacanya.

Komentar
Posting Komentar