Mereka Mengeja Larangan Mengemis

 

sumber: pixabay

Cerpen terakhir yang saya baca di awal tahun 2021 adalah sebuah karya dari Ahmad Tohari. Cerpen yang berlatar belakang tentang pengemis dengan penokohan kelima anak kecil dikisahkan dengan sederhana syarat penuh makna.

Cerpen ini ditulis menggunakan alur maju. Selama membaca cerpen ini, sudut bibir saya tidak berhenti untuk tertarik ke atas. Cerpen yang ditulis Ahmad Tohari ini sekali lagi mampu membuat saya terkesan dengan idenya yang cemerlang.

dalam cerpen ini, ada salah satu tokoh bernama Gupris. Ia digambarkan sebagai gadis yang ceria, cerewet, dan usil. 4 teman lain Gupris adalah laki-laki yang kesehariannya mengemis dengan mengandalkan truk sebagai tempat untuk pulang. Kelimanya selau menghabiskan waktunya bersama untuk mengamen agar mendapatkan uang untuk hidup. Diantara kelimanya, Gupris yang lebih mending karena ia memiliki tempat tinggal dan sempat bersekolah. Ahmad Tohari benar-benar mengisahkan kelima anak tersebut dengan polos.  Adanya tokoh hansip bernama Karidun membuat cerpen ini lebih bermakna. Ide secuil nasi yang berada di sudut bibir Karidun merupakan pemikiran yang cemerlang dari seorang Ahmad Tohari. Bahkan sampai penghujung cerpen, permasalahan nasi masih membuat saya tertawa.

Meskipun ini merupakan fiksi, tapi saya meraskan bahwa kisah-kisah seperti ini ada dalam bentuk dunia nyata. Saya sedikit terkejut ketika ada sebuah dialog yang mengatakan “Wah, susah kalau begitu? Tidak dapat uang? Lalu kita beli makan pakai apa? Enakan ngamen terus, ngemis terus, bisa makan terus.”anak tersebut mengomentari ucapan pak Hansip yang mengatakan bahwa sekolah tidak mendapatka uang, justru malah membayar. Secara tidak langsung, Ahmad Tohari membuat saya merasa iba, bagaimana jika anak-anak yang bernasib seperti itu memiliki pemikiran yang sama? Mereka lebih menyukai menjadi pengamen dan pengemis karena mendapatkan uang. Namun, hal itu juga bukan hal yang mereka inginkan. Mereka hanyalah korban dari kelalaian tanggung jawab orang dewasa. Saya menyimpulkan bahwa Ahmad Tohari, secara tidak langsung memberikan makna tersirat dari cerpen yang ia tulis. Setelah membaca cerpen tersebut, saya merasa sedih membayangkan kebahagian sederhana yang mereka dapatkan dari hal-hal yang sederhana. Meskipun cerpen ini tidak menceritakan keluh kesah yang mereka alami, namun penggambaran suasana dari penulis cukup sampai hati bagi para pembacanya.

Komentar