INTERPRETASI GRAMATIS DAN PSIKOLOGIS TERHADAP KUMPULAN LAGU KUNTO AJI YANG MENGANGKAT ISU KESEHATAN MENTAL (ANALISIS HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER)
Abstrak
Bahasa adalah salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan
perasaan. Melalui bahasa, pesan dan makna dalam suatu teks dapat tersampaikan
dengan baik. Salah satu contoh penggunaan bahasa adalah dalam perumusan
lirik-lirik lagu. Dengan memperhatikan fenomena yang ada di lingkungan sekitar
dan pengalaman pribadi, lagu dapat diciptakan dengan kesan indah dan mendalam.
Salah satu solois terkenal di Indonesia yang selalu memiliki pesan dalam setiap
karyanya adalah Kunto Aji. Pada tahun 2018, Kunto Aji merilis album terbarunya
dengan judul Mantra Mantra. Diketahui, lirik yang terdapat dalam
lagu-lagu tersebut berangkat dari isu kesehatan mental yang terjadi di
lingkungan masyarakat dan berdasar dari pengalaman pribadinya. Melalui
hermeneutika schleiermacher, peneliti akan mengurai isu kesehatan mental dalam
lagu-lagu Kunto Aji dengan memperhatikan interpretasi gramatis dan psikologis.
Interpretasi gramatis akan memposisikan lagu-lagu tersebut dari sisi objektif,
sedangkan interpretasi psikologis akan memposisikan lagu-lagu tersebut ke dalam
sisi subjektif atau pemikiran penulis.
PENGANTAR
Karya sastra hadir sebagai wujud estetika dari para pengarangnya.
Terbentuk dari ide, imajinasi, pemikiran, serta pengalaman dari penulisnya, karya
sastra dapat menghadirkan pesan-pesan menarik bagi penikmat dengan kemasan yang
beragam. Tarigan (dalam Al-Ma’ruf, 2017:1) juga menyatakan bahwa karya sastra
merupakan media bagi pengarang untuk menuangkan dan mengungkapkan ide-ide hasil
perenungan tentang makna dan hakikat hidup yang dialami, dirasakan dan
disaksikan. Sejauh ini, kita mengenal jenis karya sastra yang sering dijumpai
ialah puisi, novel, dan lagu. Lagu termasuk dalam karya sastra karena
lirik-lirik didalamnya seringkali mengandung unsur puitis. Riceour (via
Ismiyatin dan Huda, 2021) berpandangan bahwa lagu digolongkan
ke dalam karya
sastra yang merupakan sebuah
hasil cipta kreatif
dengan media bahasa.
Lagu adalah bentuk karya sastra yang begitu beragam, entah dari segi
iringan, lirik, judul, dan genre. Keberadaan lagu dalam karya sastra terus
mengalami pembaruan. Dalam penciptaan lagu, tidak jarang penulis terinspirasi
dari fenomena-fenomena yang ada di lingkungan sekitar, juga dari pengalaman-pengalaman
pribadinya. Pada saat ini, pada proses perumusan lagu seringkali menggunakan
permainan bahasa dalam lirik-lirik yang diciptakan. Permainan bahasa ini dapat
berupa pemberian majas, proses gramatikalisasi, dan variasi bahasa di dalamnya.
Tujuan dari permainan bahasa ini pun beragam, salah satunya adalah agar pesan
dan makna lagu tersebut dapat sampai ke telinga pendengar dengan indah dan
menyentuh. Itulah mengapa pesan dalam lirik-lirik lagu selalu memiliki kesan
mendalam bagi pendengarnya, mesikpun setiap orang memiliki interpretasi yang
berbeda-beda.
Terkadang,
memaknai suatu pesan atau makna dalam karya sastra tidak selalu dengan melihat
atau mengamati wujudnya secara langsung, tetapi lebih dalam lagi, kita dapat
memahami pesan dalam karya sastra tersebut dengan menafsirkannya secara
objektif dan subjektif, atau bisa disebut dengan interpretasi gramatis dan
psiklogis. Interpretasi ini berangkat dari konsep salah satu tokoh terkenal
hermeneutika, yaitu Friedrich Daniel Ernst
Schleiermacher. Schleiermacher menjadikan hermeneutika sebagai ilmu
tafsir yang universal, yaitu berlaku untuk segala jenis teks (Aulanni’am & Saputra, 2021).
Hermeneutika
adalah seni tafsir atau seni mengartikan yang berasal dari bahasa Yunani
“Hermeneuien” yang berarti tafsir atau interpretasi (Fitria, 2016). Pengertian
tersebut sejalur dengan penafsiran hermeneutika dari Schleiermacher, yang
mengartikan bahwa hermeneutika adalah ‘seni memahami’. Tidak hanya berusaha
mengulik tafsir dari yang terlihat, seni memahami berusaha untuk masuk ke dalam
jiwa manusia, yaitu masuk ke dalam pemikiran dan mental penulis. Melalui hermeneutika
Schleiermacher, penafsir dapat memahami makna dari suatu teks melebihi
pengarangnya. Hal ini disebabkan karena penafsir memiliki pemikiran yang bebas
dalam mengulik makna dari teks-teks yang dianalisis.
Melalui konsep hermeneutika dari Schleiermacher, peneliti akan
menguraikan interpretasi gramatis dan psikologis dalam kumpulan lagu Kunto Aji
dalam album Mantra Mantra. Lagu-lagu dalam album tersebut memiliki latar
belakang menarik dalam perumusannya, yaitu mengenai isu kesehatan mental yang
pada saat itu masih terdengar tabu. Kajian ini akan mengupas interpretasi
gramatis dan psikologis dari bentuk kata, proses gramatikalisasi, dan
psikologis atau pemikiran penulis lagu yang menyiratkan makna atau pesan
terhadap isu kesehatan mental.
METODE
Dalam
penelitian yang dilakukan, metode yang digunakan adalah metode deskriptif
kualitatif. Fokus utama atau subjek kajian dari penelitian ini adalah kumpulan
lagu milik Kunto Aji dalam album Mantra Mantra, terutama berkenaan
dengan isu kesehatan mental yang disampaikan penulis lagu selama penyusunan
album tersebut.
Sumber
data adalah kumpulan lagu dalam album Mantra Mantra milik solois Kunto
Aji. Dalam analisisnya, peneliti akan mengamati dan menguak makna-makna
kumpulan lagu Kunto Aji yang mengandung pesan mengenai isu kesehatan mental. Cara
pengumpulan data dilakukan dengan kegiatan berikut. Pertama, menyimak data
dengan seksama. Kegiatan menyimak ini berupa mendengarkan dengan cermat
lagu-lagu milik Kunto Aji. Kedua, mencari data berupa teks tertulis
untuk dicermati kembali. Teks tertulis yang dimaksud adalah lirik dari
lagu-lagu Kunto Aji. Ketiga, mencatat adanya tanda-tanda yang berkaitan
dengan topik analisis. Hasil dari pencatatan ini yang akan digunakan sebagai
bahan analisis.
Analisis data dilakukan menggunakan dua model interpretasi menurut Friedrich
Daniel Ernst Schleiermacher, yaitu interpretasi gramatis dan psikologis.
Prinsip ini dilakukan untuk menguak makna asli dari karya tersebut.
Shleiermacher berpendapat bahwa kedua model interpretasi tersebut saling
berkaitan karena bahasa dan pikiran adalah dua hal yang tdak dapat dipisahkan
sehingga keduanya tidak dapat dipertentangkan dan saling melengkapi (Wigati,
2013).
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi umum lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra Mantra
Peluncuran
album Mantra Mantra milik Kunto Aji pada 14 September 2018 disambut
dengan antusias oleh para pendengar setianya. Perilisan satu lagu sebagai
pembuka dengan judul “Konon Katanya” membuat para pendengar penasaran dengan
warna baru yang akan di bawa musisi kelahiran Yogyakarta, 4 Januari 1987 itu.
Kesehatan mental adalah terwujudnya
keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya
penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya
(Rozali, et all, 2021). Keserasian ini akan mengakibatkan kenyamanan dan
ketenangan dalam menjalani aktvitas sehari-hari. Akan tetapi, pada tahun 2018
dan sebelum-sebelumnya, isu kesehatan mental masih menjadi hal tabu untuk
dibicarakan. Masyarakat Indonesia kebanyakan masih belum melek tentang
adanya kesehatan mental karena secara sadar memiliki pemikiran bahwa segala
sakit yang terlihat dan dirasakan dapat sembuh dengan hanya pergi ke dokter.
Anggapan itu tidak salah, tetapi pada kenyataannya, tidak semua sakit dapat
dilihat secara nyata, turut dirasakan orang yang melihatnya, serta tidak semua
dapat sembuh apabila hanya pergi ke dokter.
Lewat album Mantra Mantra, Kunto
Aji berusaha mengangkat isu kesehatan mental yang pada saat itu masih terasa
asing ditelinga masyarakat pada umumnya. Dalam lagu-lagunya, lirik yang
digunakan berusaha mengangkat keresahan, terutama mereka-mereka yang mengalami
siklus overthinking. Satu tahun kemudian, rilis lagu “Pilu Membiru” yang
masih mejadi bagian dari album Mantra Mantra. Melalui lagu tersebut,
Kunto Aji mampu melampaui batas pendengar setia dan menemukan pendengar dan
penggemar baru. Dari album ini juga, isu kesehatan mental mulai sering
dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda.
Lirik-lirik yang terdapat dalam album
tersebut ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku dan puitis. Penggunaan
kata-kata yang mengandung gaya bahasa, seperti personifikasi dan metafora
membuat lagu ini memiliki kesan mendalam. Dengan instrumen yang ringan dan
tenang, mendukung pendengar untuk turut merasakan bagaimana pesan dan makna
yang disampaikan Kunto Aji melalui lagu-lagunya.
B.
Interpretasi Gramatis
Melalui
interpretasi gramatis, peneliti akan menempatkan lirik-lirik lagu ke dalam
kerangka objektif. Analisis dilakukan dengan memaknai kata-kata dalam lagu,
untuk kemudian dicermati tiap-tiap lirik, bait, dan memaknainya secara
keseluruhan. Dengan interpretasi gramatis, makna dari lagu-lagu tersebut akan
dilihat berdasarkan pengulangan kata atau repetisi untuk dilihat makna
tersiratnya. Proses gramatikalisasi, seperti adanya imbuhan dalam kata yang
digunakan juga akan dianalisis keberperngaruhannya terhadap makna lagu. Selain
itu, apakah keterkaitan kata demi kata dalam lirik lagu dapat memunculkan makna
dari lagu tersebut.
1.
Repetisi
yang memengaruhi makna
Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah
yang tak seharusnya untukmu
Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah
yang tak seharusnya untukmu
Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah
yang tak seharusnya untukmu
Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah
yang tak seharusnya untukmu
Di atas adalah kutipan dari lagu
dalam album Mantra Mantra Kunto Aji yang berjudul “Sulung” dan “Bungsu”.
Kedua lagu tersebut memiliki lirik yang hampir seluruhnya sama dengan
pembedanya adalah penutup dari lagu tersebut. Pengulangan kalimat cukupkanlah
ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu—sampai pada penghujung
lirik merupakan bentuk repetisi atau pengulangan yang mengakibatkan adanya
makna mendalam dari lagu tersebut. Sesuai dengan judulnya, lagu ini ditujukan
kepada si anak pertama (sulung) dan anak terakhir (bungsu). Penekanan kalimat
yang diulang-ulang memberikan makna bahwasannya anak pertama dan anak terakhir
sama-sama berhak untuk melepaskan sesuatu yang menyulitkan hidup, serta belajar
untuk ikhlas dan menerima. Selain berhak untuk menerima sesuatu yang layak
untuk diri sendiri, pengulangan tersebut juga menjadi penekan untuk sulung dan
bungsu agar merasa cukup dan berhenti memikirkan sesuatu secara berlebihan (overthinking).
Kita
coba lagi
Untuk lari berlari
Kita coba lagi
Selanjutnya
adalah penggalan lirik dari lagu yang berjudul “Rehat”. Secara keseluruhan,
lagu ini memilik makna bagaimana penulis ingin memberitahu bahwa setiap orang
berhak untuk istirahat dari ramainya pikiran dan hati yang seringkali tidak
mempunyai jeda untuk bernapas. Terlebih, seseorang akan mengalami kegagalan
dalam hidup paling tidak sebanyak satu kali. Dengan kegagalan itu, seringkali
timbul rasa menyerah dan menyalahkan diri sendiri. Maka dari itu, melalui lagu
ini, Kunto Aji juga turut menyadarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya,
terkadang seseorang hanya perlu untuk mengambil jeda untuk kemudian mencobanya
kembali.
Pada
penggalan lirik di atas, kalimat kita coba lagi ditulis secara berulang.
Pengulangan ini dimaksudkan untuk memberi penekanan dan meyakinkan bahwa
setelah ada kegagalan, seseorang perlu mencoba untuk bangkit dan mengeksplor
diri.
Dalam
kuingat
Suara terdengar
Jangan berubah
Jangan berubah
Dalam kuingat
Suara terdengar
Jangan berubah
Kau yang kukenal
Penggalan bait terakhir dalam lirik lagu “Rencang-Rencana” di atas
menunjukkan repetisi pada kalimat dalam kuingat, suara terdengar, dan jangan
berubah. Melalui pengulangan lirk tersebut, Kunto Aji ingin menekankan
bahwa di manapun berada, seseorang hanya perlu menjadi diri. Pengulangan jangan
berubah bermakna bahwa meskipun banyak perubahan yang akan dialami selama
hidup, seseorang jangan sampai berubah dengan meninggalkan hal-hal baik yang
sudah tertanam dalam diri sendiri. Secara keseluruhan, lagu ini memiliki makna,
yaitu mengingatkan kepada orang-orang untuk percaya bahwa kita harus selalu
baik, terutama pada diri sendiri.
2.
Proses
gramatikalisasi yang memengaruhi makna
Proses gramatikalisasi dapat terbentuk dari adanya pengimbuhan dan
pengulangan kata (reduplikasi). Dalam proses pengimbuhan, kata dasar yang akan
diimbuhi masih memiliki makna leksikal, yaitu makna asli yang berasal dari kamus.
Akan tetapi, ketika ia diberi imbuhan, seperti me-, ber-, pe-,-an, dan -kan,
akan menimbulkan adanya makna baru sesuai dengan konteks yang sedang dibahas.
Pada lagu Kunto aji yang berjudul “Pilu Membiru”, terdapat proses
pengimbuhan pada kata “sampaikan”. “Sampaikan” sendiri berasal dari kata dasar
“sampai” yang berarti mencapai sesuatu.
Masih banyak yang belum sempat
Aku sampaikan padamu
Dengan imbuhan –kan, “sampaikan” pada lagu tersebut memiliki
arti memberikan atau mengirimkan sesuatu. Apabila dilihat dari lirik
sebelumnya, “sampaikan” di sini berarti ada sesuatu yang belum tersampaikan
kepada seseoarng entah itu barang, ucapan, atau hal lainnya.
Ditemukan kembali adanya imbuhan
yang menyebabkan perubahan makna. Pada lagu “Jakarta-jakarta”, terdapat kata
“berpacu”. “berpacu” sendiri berasal dari kata “pacu” yang memiliki arti benda
tajam atau roda bergerigi pada tumit sepatu.
Jakarta, Jakarta dan kenangannya
Berpacu memburu impianku
Dengan imbuhan ber-, “berpacu” pada lagu tersebut
menjadi sebuah kata kerja yang berarti berlari dengan kencang atau
kencang-kencang. Penggunaan imbuhan ini mengakibatkan makna menjadi lebih
koheren dengan lirik sebelumnya.
C.
Interpretasi Psikologis
Interpretasi
psikologis akan melihat sisi subjektif dari sesuatu yang dianalisis.
Dengan mengedepankan perasaan dan pemikiran penulis, peneliti akan menjabarkan
bagaimana isu kesehatan mental menjadi topik yang menjadi latar belakang dalam
perumusan lagu-lagu pada album Mantra Mantra. Lirik dalam tiap lagu ini
seolah-olah memiliki nyawa dan saling berkaitan untuk memberi makna satu sama
lainnya.
Telah
dijelaskan di deskripsi umum mengenai lagu-lagu pada album Mantra Mantra, bahwasannya
pada saat itu isu kesehatan mental masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan.
Banyak orang tidak berani mengungkapkan perasaan dan pikiran yang sifatnya
mengganggu. Primandaningrum (2022) berpendapat bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental masih
rendah. Stigma buruk masyarakat tentang orang dengan gangguan mental adalah
sebuah aib, pengucilan seorang yang gila/kurang iman membuat mereka yang sedang
mengalami gangguan mental lebih memilih bungkam dan tidak berkonsultasi dengan
ahli. Orang-orang dengan gangguan tersebut merasa takut akan respon
lingkungan terhadap mereka karena pada saat itu tindakan medis dan alasan
religiusitas masih dipandang sebagai solusi yang utama.
Perlu
ada dorongan bagi para generasi muda untuk selalu menjaga kesehatan mental.
Pentingnya edukasi mengenai hal ini begitu dibutuhkan, terlebih lagi masa
peralihan dari remaja menuju dewasa memerlukan persiapan yang kuat tidak hanya
dari fisik, tetapi juga batin. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah
dengan menyadari bahwa seseorang tidak akan pernah sendirian. Penting bagi
seseorang untuk memiliki sosok terdekat dalam hidupnya, seperti rekan untuk
bercerita dan berkeluh kesah. Tidak semua orang bisa dijadikan tempat yang aman
untuk bercerita. Akan tetapi, ketika perasaan gelisah dan resah itu semakin
mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi kepada psikolog dan psikiater
adalah solusi yang tepat.
Pada
saat-saat itu, Kunto Aji dengan apik menyiapkan lagu-lagunya dengan
album Mantra Mantra. Ia menyadari bahwasannya kepedulian dan kepekaan
masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental begitu kurang. Maka dari itu, ia
memiliki pemikiran bahwa dengan karya-karyanya ini, ia dapat membantu
orang-orang untuk lebih menikmati dan mensyukuri fase-fase terberat dalam
hidup. Kunto Aji juga memiliki pemikiran bahwa generasi milenial adalah
generasi yang harus peduli dengan kesehatan mental. Perspektif tentang pergi ke
psikolog atau psikiater adalah hal gila—harus dihilangkan.
Kepedulian
itu tercermin dari salah satu lagunya yang berjudul “Pilu Membiru”. Melalui
lagu tersebut, Kunto Aji ingin menghapus stigma masyarakat bahwa menangis dan
menunjukkan keresahan, serta kesedihan adalah bukti kelemahan diri. Dalam lirik
tersebut, Kunto Aji justru mewakili perasaan orang-orang tentang permasalahan
hidup untuk tidak dipendam sendirian sehingga mengakibatkan pikiran yang
berlebihan. Ia menunjukkan kepeduliannya dengan berusaha menemani pendengar
melalui lirik dan instrumen yang digarapnya. Pada perumusan lagu ini, Kunto Aji
secara rutin mengunjungi psikolog untuk melakukan riset mengenai masalah
kesehatan mental.
Pada
lagu “Topik Semalam”, murni berasal dari pikiran-pikiran penulis lagu pada saat
perumusannya. Pada saat itu, Kunto Aji mengalami overthinking yang
membuatnya sulit untuk mengambil keputusan dalam hidup. Oleh sebabnya, “Topik
Semalam” ditulis Kunto Aji untuk mereka-mereka yang berada di situasi terdesak
dan pilihan yang sulit sehingga mengakibatkan pikiran dan ketakutan yang
berlebihan. Harapannya, lagu tersebut dapat memberikan dampak ketenangan dan
memunculkan pikiran yang positif.
Dalam
interpretasi psikologis, Kunto Aji berusaha untuk melihat dan mengembangkan isu
kesehatan mental yang terjadi pada saat itu. Lirik-lirik yang diciptakannya memiliki
alasan dan berkaitan dengan realitas. Semua lagu yang ditulisnya beranjak dari
apa yang dilihatnya dan pengalaman dari orang-orang sekitar yang ia temui.
Album Mantra Mantra sendiri ingin dikenal dengan maksud bisa diterima
dan memberikan efek stimulus bagi para pendengar. Setelah perilisan seluruh
lagu dalam albumnya, diharapkan setiap pendengar dapat merasa lebih baik entah
itu dengan menangis, bersyukur, dan belajar menerima.
PENUTUP
Kesimpulan
Hermeneutika
schleiermacher mampu mengubah konsep yang khusus menjadi universal. Segala
jenis teks, termasuk lagu turut menjadi objek dalam kajian hermeneutika. Salah
satu penyanyi terkenal Indonesia dengan karyanya yang luar biasa ialah Kunto
Aji. Pada 2018 silam, ia merilis album terbarunya yang berjudul Mantra
Mantra. Melalui album ini, Kunto Aji berhasil memasukkan isu-isu kesehatan
mental dalam lirik-lirik yang digarapnya sehingga mengandung makna dan pesan
yang mendalam untuk para pendengarnya.
Dengan analisis model interpretasi gramatis dan psikologis,
peneliti berhasil menemukan isu-isu kesehatan mental yang terdapat dalam
lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra Mantra. Interpretasi gramatis
yang ditemukan meliputi repetisi dan proses gramatikalisasi yang memengaruhi
makna. Pada interpretasi psikologis, peneliti mengurai mengenai pikiran,
perasaan, dan musyabab Kunto Aji dalam merumuskan lirik-lirik lagu tersebut.
Ditemukan bahwa selama penggarapannya, ia mengamati fenomena-fenomena kesehatan
mental yang berada di lingkungan sekitar dan memerlukan konsultasi beberapa
kali kepada psikolog ternama.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron dan Farida N. (2017). Pengkajian Sastra:
Teori dan Aplikasi. Surakarta: CV.Djiwa Amarta Press.
Aulanni’am, &
Saputra, A. T. (2021). Hermeneutika Psikologis
Schleiermacher dan Kemungkinan Penggunaannya
dalam Penafsiran al-Qur’an. Al-Wajid: Jurnal Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 2
(1), 250–265. https://jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/alwajid/article/view/1660.
Fitria, Rini.
(2016). Memahami Hermeneutika dalam Mengkaji Teks. Jurnal Ilmiah Syi’ar, Vol
16 Nomor 2. https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/syiar/article/view/696.
Ismiyatin, Laela, &
Miftakhul Huda. (2021). Analisis Hermeneutika Lagu Rossa yang Mewakili Suara
Hati Perempuan. Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan, 21 (01). http://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/parafrase/article/view/4616.
Primandaningrum,
H. (2022, Oktober 19). “Indonesia Darurat Kesehatan Mental”. https://kumparan.com/handayani-primandaningrum/indonesia-darurat-kesehatan-mental-1z57th0aPur/2.
Ranabumi, R.
(2018). Metafora Pada
Lagu Nyidham Sari
dan Yen Ing
Tawang ono Lintang. Ranah:
Jurnal Kajian Bahasa, 7 (2), 247–262. https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/article/view/659/638.
Rozali, Yuli Asmi,
Novendawati Wahyu Sitasari, dan Amanda Lenggogeni. (2021). Meningkatkan
Kesehatan Mental di Masa Pandemic. Jurnal Pengabdian Masyrakat, 7 (02). https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/ABD/article/view/3958.
Wigati, Santi Anisa.
(2013). Interpretasi Konsep Gramatikal dan Psikologis Puisi An Die Freude Karya
Johann Christoph Friedrich Von Schiller (Analisis Hermeneutik Schleiermacher). Anjasmara.
http://anjasmara.uny.ac.id/Record/eprints-21468.

Komentar
Posting Komentar