INTERPRETASI GRAMATIS DAN PSIKOLOGIS TERHADAP KUMPULAN LAGU KUNTO AJI YANG MENGANGKAT ISU KESEHATAN MENTAL (ANALISIS HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER)

sumber: LAzone.id


Abstrak

            Bahasa adalah salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan perasaan. Melalui bahasa, pesan dan makna dalam suatu teks dapat tersampaikan dengan baik. Salah satu contoh penggunaan bahasa adalah dalam perumusan lirik-lirik lagu. Dengan memperhatikan fenomena yang ada di lingkungan sekitar dan pengalaman pribadi, lagu dapat diciptakan dengan kesan indah dan mendalam. Salah satu solois terkenal di Indonesia yang selalu memiliki pesan dalam setiap karyanya adalah Kunto Aji. Pada tahun 2018, Kunto Aji merilis album terbarunya dengan judul Mantra Mantra. Diketahui, lirik yang terdapat dalam lagu-lagu tersebut berangkat dari isu kesehatan mental yang terjadi di lingkungan masyarakat dan berdasar dari pengalaman pribadinya. Melalui hermeneutika schleiermacher, peneliti akan mengurai isu kesehatan mental dalam lagu-lagu Kunto Aji dengan memperhatikan interpretasi gramatis dan psikologis. Interpretasi gramatis akan memposisikan lagu-lagu tersebut dari sisi objektif, sedangkan interpretasi psikologis akan memposisikan lagu-lagu tersebut ke dalam sisi subjektif atau pemikiran penulis.

PENGANTAR

Karya sastra hadir sebagai wujud estetika dari para pengarangnya. Terbentuk dari ide, imajinasi, pemikiran, serta pengalaman dari penulisnya, karya sastra dapat menghadirkan pesan-pesan menarik bagi penikmat dengan kemasan yang beragam. Tarigan (dalam Al-Ma’ruf, 2017:1) juga menyatakan bahwa karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk menuangkan dan mengungkapkan ide-ide hasil perenungan tentang makna dan hakikat hidup yang dialami, dirasakan dan disaksikan. Sejauh ini, kita mengenal jenis karya sastra yang sering dijumpai ialah puisi, novel, dan lagu. Lagu termasuk dalam karya sastra karena lirik-lirik didalamnya seringkali mengandung unsur puitis. Riceour (via Ismiyatin dan Huda, 2021) berpandangan bahwa lagu  digolongkan  ke  dalam  karya  sastra  yang merupakan  sebuah  hasil  cipta  kreatif  dengan media  bahasa.

Lagu adalah bentuk karya sastra yang begitu beragam, entah dari segi iringan, lirik, judul, dan genre. Keberadaan lagu dalam karya sastra terus mengalami pembaruan. Dalam penciptaan lagu, tidak jarang penulis terinspirasi dari fenomena-fenomena yang ada di lingkungan sekitar, juga dari pengalaman-pengalaman pribadinya. Pada saat ini, pada proses perumusan lagu seringkali menggunakan permainan bahasa dalam lirik-lirik yang diciptakan. Permainan bahasa ini dapat berupa pemberian majas, proses gramatikalisasi, dan variasi bahasa di dalamnya. Tujuan dari permainan bahasa ini pun beragam, salah satunya adalah agar pesan dan makna lagu tersebut dapat sampai ke telinga pendengar dengan indah dan menyentuh. Itulah mengapa pesan dalam lirik-lirik lagu selalu memiliki kesan mendalam bagi pendengarnya, mesikpun setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda-beda.

Terkadang, memaknai suatu pesan atau makna dalam karya sastra tidak selalu dengan melihat atau mengamati wujudnya secara langsung, tetapi lebih dalam lagi, kita dapat memahami pesan dalam karya sastra tersebut dengan menafsirkannya secara objektif dan subjektif, atau bisa disebut dengan interpretasi gramatis dan psiklogis. Interpretasi ini berangkat dari konsep salah satu tokoh terkenal hermeneutika, yaitu Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher. Schleiermacher menjadikan hermeneutika sebagai ilmu tafsir yang universal, yaitu berlaku untuk segala jenis teks (Aulanni’am & Saputra, 2021).

Hermeneutika adalah seni tafsir atau seni mengartikan yang berasal dari bahasa Yunani “Hermeneuien” yang berarti tafsir atau interpretasi (Fitria, 2016). Pengertian tersebut sejalur dengan penafsiran hermeneutika dari Schleiermacher, yang mengartikan bahwa hermeneutika adalah ‘seni memahami’. Tidak hanya berusaha mengulik tafsir dari yang terlihat, seni memahami berusaha untuk masuk ke dalam jiwa manusia, yaitu masuk ke dalam pemikiran dan mental penulis. Melalui hermeneutika Schleiermacher, penafsir dapat memahami makna dari suatu teks melebihi pengarangnya. Hal ini disebabkan karena penafsir memiliki pemikiran yang bebas dalam mengulik makna dari teks-teks yang dianalisis.

Melalui konsep hermeneutika dari Schleiermacher, peneliti akan menguraikan interpretasi gramatis dan psikologis dalam kumpulan lagu Kunto Aji dalam album Mantra Mantra. Lagu-lagu dalam album tersebut memiliki latar belakang menarik dalam perumusannya, yaitu mengenai isu kesehatan mental yang pada saat itu masih terdengar tabu. Kajian ini akan mengupas interpretasi gramatis dan psikologis dari bentuk kata, proses gramatikalisasi, dan psikologis atau pemikiran penulis lagu yang menyiratkan makna atau pesan terhadap isu kesehatan mental.

 

METODE

            Dalam penelitian yang dilakukan, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Fokus utama atau subjek kajian dari penelitian ini adalah kumpulan lagu milik Kunto Aji dalam album Mantra Mantra, terutama berkenaan dengan isu kesehatan mental yang disampaikan penulis lagu selama penyusunan album tersebut.

Sumber data adalah kumpulan lagu dalam album Mantra Mantra milik solois Kunto Aji. Dalam analisisnya, peneliti akan mengamati dan menguak makna-makna kumpulan lagu Kunto Aji yang mengandung pesan mengenai isu kesehatan mental. Cara pengumpulan data dilakukan dengan kegiatan berikut. Pertama, menyimak data dengan seksama. Kegiatan menyimak ini berupa mendengarkan dengan cermat lagu-lagu milik Kunto Aji. Kedua, mencari data berupa teks tertulis untuk dicermati kembali. Teks tertulis yang dimaksud adalah lirik dari lagu-lagu Kunto Aji. Ketiga, mencatat adanya tanda-tanda yang berkaitan dengan topik analisis. Hasil dari pencatatan ini yang akan digunakan sebagai bahan analisis.

Analisis data dilakukan menggunakan dua model interpretasi menurut Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, yaitu interpretasi gramatis dan psikologis. Prinsip ini dilakukan untuk menguak makna asli dari karya tersebut. Shleiermacher berpendapat bahwa kedua model interpretasi tersebut saling berkaitan karena bahasa dan pikiran adalah dua hal yang tdak dapat dipisahkan sehingga keduanya tidak dapat dipertentangkan dan saling melengkapi (Wigati, 2013).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi umum lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra Mantra

Peluncuran album Mantra Mantra milik Kunto Aji pada 14 September 2018 disambut dengan antusias oleh para pendengar setianya. Perilisan satu lagu sebagai pembuka dengan judul “Konon Katanya” membuat para pendengar penasaran dengan warna baru yang akan di bawa musisi kelahiran Yogyakarta, 4 Januari 1987 itu.

       Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya (Rozali, et all, 2021). Keserasian ini akan mengakibatkan kenyamanan dan ketenangan dalam menjalani aktvitas sehari-hari. Akan tetapi, pada tahun 2018 dan sebelum-sebelumnya, isu kesehatan mental masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan.  Masyarakat Indonesia kebanyakan masih belum melek tentang adanya kesehatan mental karena secara sadar memiliki pemikiran bahwa segala sakit yang terlihat dan dirasakan dapat sembuh dengan hanya pergi ke dokter. Anggapan itu tidak salah, tetapi pada kenyataannya, tidak semua sakit dapat dilihat secara nyata, turut dirasakan orang yang melihatnya, serta tidak semua dapat sembuh apabila hanya pergi ke dokter.

       Lewat album Mantra Mantra, Kunto Aji berusaha mengangkat isu kesehatan mental yang pada saat itu masih terasa asing ditelinga masyarakat pada umumnya. Dalam lagu-lagunya, lirik yang digunakan berusaha mengangkat keresahan, terutama mereka-mereka yang mengalami siklus overthinking. Satu tahun kemudian, rilis lagu “Pilu Membiru” yang masih mejadi bagian dari album Mantra Mantra. Melalui lagu tersebut, Kunto Aji mampu melampaui batas pendengar setia dan menemukan pendengar dan penggemar baru. Dari album ini juga, isu kesehatan mental mulai sering dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda. 

       Lirik-lirik yang terdapat dalam album tersebut ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku dan puitis. Penggunaan kata-kata yang mengandung gaya bahasa, seperti personifikasi dan metafora membuat lagu ini memiliki kesan mendalam. Dengan instrumen yang ringan dan tenang, mendukung pendengar untuk turut merasakan bagaimana pesan dan makna yang disampaikan Kunto Aji melalui lagu-lagunya.  

B.  Interpretasi Gramatis

Melalui interpretasi gramatis, peneliti akan menempatkan lirik-lirik lagu ke dalam kerangka objektif. Analisis dilakukan dengan memaknai kata-kata dalam lagu, untuk kemudian dicermati tiap-tiap lirik, bait, dan memaknainya secara keseluruhan. Dengan interpretasi gramatis, makna dari lagu-lagu tersebut akan dilihat berdasarkan pengulangan kata atau repetisi untuk dilihat makna tersiratnya. Proses gramatikalisasi, seperti adanya imbuhan dalam kata yang digunakan juga akan dianalisis keberperngaruhannya terhadap makna lagu. Selain itu, apakah keterkaitan kata demi kata dalam lirik lagu dapat memunculkan makna dari lagu tersebut.

1.        Repetisi yang memengaruhi makna

Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

 

Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

 

Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

 

Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

           

Di atas adalah kutipan dari lagu dalam album Mantra Mantra Kunto Aji yang berjudul “Sulung” dan “Bungsu”. Kedua lagu tersebut memiliki lirik yang hampir seluruhnya sama dengan pembedanya adalah penutup dari lagu tersebut. Pengulangan kalimat cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu—sampai pada penghujung lirik merupakan bentuk repetisi atau pengulangan yang mengakibatkan adanya makna mendalam dari lagu tersebut. Sesuai dengan judulnya, lagu ini ditujukan kepada si anak pertama (sulung) dan anak terakhir (bungsu). Penekanan kalimat yang diulang-ulang memberikan makna bahwasannya anak pertama dan anak terakhir sama-sama berhak untuk melepaskan sesuatu yang menyulitkan hidup, serta belajar untuk ikhlas dan menerima. Selain berhak untuk menerima sesuatu yang layak untuk diri sendiri, pengulangan tersebut juga menjadi penekan untuk sulung dan bungsu agar merasa cukup dan berhenti memikirkan sesuatu secara berlebihan (overthinking).

 

Kita coba lagi
Untuk lari berlari
Kita coba lagi

 

Selanjutnya adalah penggalan lirik dari lagu yang berjudul “Rehat”. Secara keseluruhan, lagu ini memilik makna bagaimana penulis ingin memberitahu bahwa setiap orang berhak untuk istirahat dari ramainya pikiran dan hati yang seringkali tidak mempunyai jeda untuk bernapas. Terlebih, seseorang akan mengalami kegagalan dalam hidup paling tidak sebanyak satu kali. Dengan kegagalan itu, seringkali timbul rasa menyerah dan menyalahkan diri sendiri. Maka dari itu, melalui lagu ini, Kunto Aji juga turut menyadarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya, terkadang seseorang hanya perlu untuk mengambil jeda untuk kemudian mencobanya kembali.

Pada penggalan lirik di atas, kalimat kita coba lagi ditulis secara berulang. Pengulangan ini dimaksudkan untuk memberi penekanan dan meyakinkan bahwa setelah ada kegagalan, seseorang perlu mencoba untuk bangkit dan mengeksplor diri.

 

Dalam kuingat
Suara terdengar
Jangan berubah
Jangan berubah
Dalam kuingat
Suara terdengar
Jangan berubah
Kau yang kukenal

 

Penggalan bait terakhir dalam lirik lagu “Rencang-Rencana” di atas menunjukkan repetisi pada kalimat dalam kuingat, suara terdengar, dan jangan berubah. Melalui pengulangan lirk tersebut, Kunto Aji ingin menekankan bahwa di manapun berada, seseorang hanya perlu menjadi diri. Pengulangan jangan berubah bermakna bahwa meskipun banyak perubahan yang akan dialami selama hidup, seseorang jangan sampai berubah dengan meninggalkan hal-hal baik yang sudah tertanam dalam diri sendiri. Secara keseluruhan, lagu ini memiliki makna, yaitu mengingatkan kepada orang-orang untuk percaya bahwa kita harus selalu baik, terutama pada diri sendiri.

2.      Proses gramatikalisasi yang memengaruhi makna

Proses gramatikalisasi dapat terbentuk dari adanya pengimbuhan dan pengulangan kata (reduplikasi). Dalam proses pengimbuhan, kata dasar yang akan diimbuhi masih memiliki makna leksikal, yaitu makna asli yang berasal dari kamus. Akan tetapi, ketika ia diberi imbuhan, seperti me-, ber-, pe-,-an, dan -kan, akan menimbulkan adanya makna baru sesuai dengan konteks yang sedang dibahas.

Pada lagu Kunto aji yang berjudul “Pilu Membiru”, terdapat proses pengimbuhan pada kata “sampaikan”. “Sampaikan” sendiri berasal dari kata dasar “sampai” yang berarti mencapai sesuatu.

 

 

Masih banyak yang belum sempat
Aku sampaikan padamu

 

 Dengan imbuhan –kan, “sampaikan” pada lagu tersebut memiliki arti memberikan atau mengirimkan sesuatu. Apabila dilihat dari lirik sebelumnya, “sampaikan” di sini berarti ada sesuatu yang belum tersampaikan kepada seseoarng entah itu barang, ucapan, atau hal lainnya.

Ditemukan kembali adanya imbuhan yang menyebabkan perubahan makna. Pada lagu “Jakarta-jakarta”, terdapat kata “berpacu”. “berpacu” sendiri berasal dari kata “pacu” yang memiliki arti benda tajam atau roda bergerigi pada tumit sepatu.

Jakarta, Jakarta dan kenangannya
Berpacu memburu impianku

Dengan imbuhan ber-, “berpacu” pada lagu tersebut menjadi sebuah kata kerja yang berarti berlari dengan kencang atau kencang-kencang. Penggunaan imbuhan ini mengakibatkan makna menjadi lebih koheren dengan lirik sebelumnya.

C.  Interpretasi Psikologis

Interpretasi psikologis akan melihat sisi subjektif dari sesuatu yang dianalisis. Dengan mengedepankan perasaan dan pemikiran penulis, peneliti akan menjabarkan bagaimana isu kesehatan mental menjadi topik yang menjadi latar belakang dalam perumusan lagu-lagu pada album Mantra Mantra. Lirik dalam tiap lagu ini seolah-olah memiliki nyawa dan saling berkaitan untuk memberi makna satu sama lainnya.

Telah dijelaskan di deskripsi umum mengenai lagu-lagu pada album Mantra Mantra, bahwasannya pada saat itu isu kesehatan mental masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan. Banyak orang tidak berani mengungkapkan perasaan dan pikiran yang sifatnya mengganggu. Primandaningrum (2022) berpendapat bahwa pemahaman masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental masih rendah. Stigma buruk masyarakat tentang orang dengan gangguan mental adalah sebuah aib, pengucilan seorang yang gila/kurang iman membuat mereka yang sedang mengalami gangguan mental lebih memilih bungkam dan tidak berkonsultasi dengan ahli. Orang-orang dengan gangguan tersebut merasa takut akan respon lingkungan terhadap mereka karena pada saat itu tindakan medis dan alasan religiusitas masih dipandang sebagai solusi yang utama.  

Perlu ada dorongan bagi para generasi muda untuk selalu menjaga kesehatan mental. Pentingnya edukasi mengenai hal ini begitu dibutuhkan, terlebih lagi masa peralihan dari remaja menuju dewasa memerlukan persiapan yang kuat tidak hanya dari fisik, tetapi juga batin. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah dengan menyadari bahwa seseorang tidak akan pernah sendirian. Penting bagi seseorang untuk memiliki sosok terdekat dalam hidupnya, seperti rekan untuk bercerita dan berkeluh kesah. Tidak semua orang bisa dijadikan tempat yang aman untuk bercerita. Akan tetapi, ketika perasaan gelisah dan resah itu semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi kepada psikolog dan psikiater adalah solusi yang tepat.

Pada saat-saat itu, Kunto Aji dengan apik menyiapkan lagu-lagunya dengan album Mantra Mantra. Ia menyadari bahwasannya kepedulian dan kepekaan masyarakat Indonesia tentang kesehatan mental begitu kurang. Maka dari itu, ia memiliki pemikiran bahwa dengan karya-karyanya ini, ia dapat membantu orang-orang untuk lebih menikmati dan mensyukuri fase-fase terberat dalam hidup. Kunto Aji juga memiliki pemikiran bahwa generasi milenial adalah generasi yang harus peduli dengan kesehatan mental. Perspektif tentang pergi ke psikolog atau psikiater adalah hal gila—harus dihilangkan.

Kepedulian itu tercermin dari salah satu lagunya yang berjudul “Pilu Membiru”. Melalui lagu tersebut, Kunto Aji ingin menghapus stigma masyarakat bahwa menangis dan menunjukkan keresahan, serta kesedihan adalah bukti kelemahan diri. Dalam lirik tersebut, Kunto Aji justru mewakili perasaan orang-orang tentang permasalahan hidup untuk tidak dipendam sendirian sehingga mengakibatkan pikiran yang berlebihan. Ia menunjukkan kepeduliannya dengan berusaha menemani pendengar melalui lirik dan instrumen yang digarapnya. Pada perumusan lagu ini, Kunto Aji secara rutin mengunjungi psikolog untuk melakukan riset mengenai masalah kesehatan mental.

Pada lagu “Topik Semalam”, murni berasal dari pikiran-pikiran penulis lagu pada saat perumusannya. Pada saat itu, Kunto Aji mengalami overthinking yang membuatnya sulit untuk mengambil keputusan dalam hidup. Oleh sebabnya, “Topik Semalam” ditulis Kunto Aji untuk mereka-mereka yang berada di situasi terdesak dan pilihan yang sulit sehingga mengakibatkan pikiran dan ketakutan yang berlebihan. Harapannya, lagu tersebut dapat memberikan dampak ketenangan dan memunculkan pikiran yang positif.

Dalam interpretasi psikologis, Kunto Aji berusaha untuk melihat dan mengembangkan isu kesehatan mental yang terjadi pada saat itu. Lirik-lirik yang diciptakannya memiliki alasan dan berkaitan dengan realitas. Semua lagu yang ditulisnya beranjak dari apa yang dilihatnya dan pengalaman dari orang-orang sekitar yang ia temui. Album Mantra Mantra sendiri ingin dikenal dengan maksud bisa diterima dan memberikan efek stimulus bagi para pendengar. Setelah perilisan seluruh lagu dalam albumnya, diharapkan setiap pendengar dapat merasa lebih baik entah itu dengan menangis, bersyukur, dan belajar menerima.

PENUTUP

Kesimpulan

Hermeneutika schleiermacher mampu mengubah konsep yang khusus menjadi universal. Segala jenis teks, termasuk lagu turut menjadi objek dalam kajian hermeneutika. Salah satu penyanyi terkenal Indonesia dengan karyanya yang luar biasa ialah Kunto Aji. Pada 2018 silam, ia merilis album terbarunya yang berjudul Mantra Mantra. Melalui album ini, Kunto Aji berhasil memasukkan isu-isu kesehatan mental dalam lirik-lirik yang digarapnya sehingga mengandung makna dan pesan yang mendalam untuk para pendengarnya.

Dengan analisis model interpretasi gramatis dan psikologis, peneliti berhasil menemukan isu-isu kesehatan mental yang terdapat dalam lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra Mantra. Interpretasi gramatis yang ditemukan meliputi repetisi dan proses gramatikalisasi yang memengaruhi makna. Pada interpretasi psikologis, peneliti mengurai mengenai pikiran, perasaan, dan musyabab Kunto Aji dalam merumuskan lirik-lirik lagu tersebut. Ditemukan bahwa selama penggarapannya, ia mengamati fenomena-fenomena kesehatan mental yang berada di lingkungan sekitar dan memerlukan konsultasi beberapa kali kepada psikolog ternama.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron dan Farida N. (2017). Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi. Surakarta: CV.Djiwa Amarta Press.

Aulanni’am, & Saputra, A. T. (2021).  Hermeneutika  Psikologis  Schleiermacher  dan  Kemungkinan  Penggunaannya  dalam Penafsiran al-Qur’an. Al-Wajid: Jurnal Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 2 (1), 250–265. https://jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/alwajid/article/view/1660.

Fitria, Rini. (2016). Memahami Hermeneutika dalam Mengkaji Teks. Jurnal Ilmiah Syi’ar, Vol 16 Nomor 2. https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/syiar/article/view/696.

Ismiyatin, Laela, & Miftakhul Huda. (2021). Analisis Hermeneutika Lagu Rossa yang Mewakili Suara Hati Perempuan. Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan, 21 (01). http://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/parafrase/article/view/4616. 

Primandaningrum, H. (2022, Oktober 19). “Indonesia Darurat Kesehatan Mental”. https://kumparan.com/handayani-primandaningrum/indonesia-darurat-kesehatan-mental-1z57th0aPur/2.

Ranabumi,  R.  (2018).  Metafora  Pada  Lagu  Nyidham  Sari  dan  Yen  Ing  Tawang  ono Lintang. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 7 (2), 247–262. https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/article/view/659/638.

Rozali, Yuli Asmi, Novendawati Wahyu Sitasari, dan Amanda Lenggogeni. (2021). Meningkatkan Kesehatan Mental di Masa Pandemic. Jurnal Pengabdian Masyrakat, 7 (02). https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/ABD/article/view/3958.

Wigati, Santi Anisa. (2013). Interpretasi Konsep Gramatikal dan Psikologis Puisi An Die Freude Karya Johann Christoph Friedrich Von Schiller (Analisis Hermeneutik Schleiermacher). Anjasmara. http://anjasmara.uny.ac.id/Record/eprints-21468.


Komentar