Robohnya Surau Kami: Antara Dehumanisasi dan Kebutuhan Sosial

sumber gambar: goodreads

 Tentang Robohnya Surau Kami

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen karya A.A Navis. Orang-orang mengatakan bahwa tema dari cerpen ini adalah sosio-religi, yaitu sebuah cerpen yang berlatar sosial dan ada kaitannya dengan keagamaan. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956. Judul dari cerpen tersebut menjadi salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen milik A.A. Navis yang terkenal. Pada awalnya, cerpen ini muncul dalam majalah Kisah, Jakarta, tahun 1955. Cerpen ini kemudian terbit dalam buku kumpulan cerpen Navis pada tahun 1956 oleh Penerbit NV Nusantara, Bukittinggi. Cepen tersebut mengalami cetakan ulang hingga akhirnya pada tahun 1986 kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan terus mengalami cetak ulang.

Robohnya Surau Kami menceritakan tentang seorang Kakek yang meradang akibat mendengar cerita dari seorang pembual mengenai seorang Haji Saleh yang masuk ke neraka karena hidupnya hanya beribadah dan taat kepada Tuhan tanpa memedulikan keberadaan orang lain. Seorang Kakek yang berprofesi sebagai pengasah pisau dan penjaga surau adalah sosok yang sangat taat beribadah. Ia juga tidak memikirkan keluarga yang ia miliki, hidup dan matinya ia serahkan kepada Allah SWT, hanya beribadah. Ibadah. Ibadah. Dan ibadah.

Hingga pada suau waktu, ada seorang laki-laki bernama Ajo Sidi, seorang pembual yang hendak mengasahkan pisau ke Kakek sekaligus mengisahkan sebuah kisah tentang orang bernama Haji Saleh. Diceritakan oleh Ajo Sidi kepada Kakek, tentang Haji Saleh sosok yang taat berbadah, ia tidak peduli anak cucunya melarat, yang penting ia dan keluarga taat beribadah. Akan tetapi, Allah memasukannya ke dalam neraka. Hal ini disebabkan karena Haji Saleh hanya memikirkan dirinya sendiri, ia tidak memikirkan ibadah dunia, hubungan dengan manusia lain, dan membiarkan orang lain saling merugi sedang ia haya peduli pada dirinya sendiri. Hal itulah yang membuat Kakek meradang, ia merasa bahwa ibadahnya selama ini memiliki nasib yang sama dengan Haji Saleh. Akhirnya, Kakek memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menggorok dirinya sendiri menggunakan pisau cukur.

Begitulah akhir kisah dari cerpen Robohnya Surau Kami, dengan unsur keagamaan yang  disisipkan dalam cerpen tersebut, membuat saya terkesan bagaimana bisa A.A. Navis membuat pembacanya terketuk. Cerpen ini juga menyajikan plot twist yang tidak terbayangkan bagi pembaca. Untuk membaca bagian cerpen Robohnya Surau Kami bisa ditemukan pada halaman 140.

Antara Dehumanisasi dan Kebutuhan Sosial

Saat pertama kali cerpen milik A.A. Navis ini muncul, digadang-gadang bahwa judul sekaligus yang menjadi sampul dalam kumpulan cerpen ini—Robohnya Surau Kami, mampu menarik perhatian publik. Dari beberapa informasi yang saya peroleh, cerpen tersebut menerima apresiasi dari kritikus-kritikus sastra dan para pembaca.

Ada waktu di mana saya berpikir mengapa saya tertarik dengan cerpen tersebut. Saat membaca judul—Robohnya Surau Kami, saya dapat mengartikan bahwa cerpen tersebut memiliki kesan religius jika mengartikan ‘surau’ sebagai tempat ibadah umat islam. Saya sempat bertanya-tanya, apa yang dimaksud roboh dalam cerpen ini? Hingga menjalar menuju pertanyaan-pertanyaan lain, seperti apakah setiap surau yang disebut-sebut sebagai tempat kedamaian dan kesejukan itu dapat roboh? Maka dari itu saya tertarik untuk membacanya.

Sebelum membahas mengenai isi dari Robohnya Surau Kami, saya ingin membahas sisi lain terlebih dahulu mengenai cerpen tersebut dan relasinya dengan karya beliau yang lain. Sebenarnya, di samping apresiasi yang diterima A.A. Navis karena cerpen tersebut, Robohnya Surau Kami sempat menjadi bahan perbincangan yang kontroversial. Kubu kanan menganggap bahwa cerpen tersebut mengandung cemoohan terhadap agama islam; kubu kiri beranggapan bahwa cerpen tersebut hanyalah sebuah satir dari keresahan yang dirasakan A.A. Navis. Saya, sebagai pembaca, memang sedikit terkejut ketika membaca cerpen tersebut. Selain karena membawa agama mayoritas yang ada di negeri ini, cerpen tersebut juga menghadirkan dialog seorang hamba dan Tuhan yang dianggap ‘terlalu’ berlebihan dan menimbulkan presepsi-presepsi lain dari tiap-tiap pembaca. Akan tetapi, setelah saya mencari informasi tentang karya A.A. Navis yang lain, saya menyadari bahwa satir sudah menjadi hal yang lekat dalam sebagian besar karya yang ia hasilkan. Bahkan, beliau sendiri pernah dianggap komunis dan memilliki julukan “Pencemooh nomor wahid” dan “Satiris ulung”. Sebagai pelukis, budayawan, dan anggota DPRD Sumatera Barat pada waktu itu, saya melihat A.A. Navis sebagai sosok yang berani untuk menyuratkan segala yang berkaitan dengan agama, gaya hidup, dan kehidupan sosial.

Akan tetapi, kembali lagi. Sebagai pembaca dan penikmat karya, saya turut memahami bahwa A.A. Navis hanya ingin menyampaikan keresahan dan kegelisahannya terhadap kehidupan pada saat itu. Navis mengatakan bahwa Robohnya Surau Kami sebenarnya lebih terpokok pada kisah Haji Saleh sehingga Kakek penjaga surau hanya sebagai pengantar saja. Namun, bagi saya, sebenarnya banyak sekali maksud lain yang ingin disampaikan A.A. Navis, bukankah dia satiris ulung?

 

***

Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, A.A. Navis memperlihatkan hubungan antara sosial dengan religiusitas. Sepertinya, A.A. Navis tahu bahwa dalam sebuah kehidupan, seseorang tidak pernah jauh obrolannya dengan agama dan sikap religius. Hal yang menjadi permasalahan dalam cerpen ini adalah penggambaran A.A. Navis justru menuju kepada orang yang rajin beribadah. Terlihat menyimpang, bukan?

Diawali dengan sudut pandang ‘aku’ sebagai pengawal sebuah cerita yang beralur mundur, A.A. Navis seperti ingin menunjukkan kesan bahwa kisah ini benar-benar terjadi.

       

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya (Navis, 2010:141).

Dialog tersebut menjadi awal dari perjalanan kisah yang diceritakan dari tokoh ‘aku’. Setelah itu kisah terus mengalir hingga menggambarkan kepada sosok Kakek pengasah garin dan penjaga surau. Seorang Kakek yang diceritakan akan ketaatannya dalam beribadah, membantu warga sekitar dengan pamrih, selalu menerima pemberian seadanya dari pekerjaan yang ia miliki dengan ucapan terima kasih dan sedikit senyuman. Dari deskripsi mengenai tokoh Kakek ini, cukup memberikan gambaran bahwa Kakek adalah sosok yang menjaga ibadahnya baik kepada Tuhan dan kepada manusia lain. Apabila dihubungakan dengan pembuatan cerpen pada waktu itu dan realitanya pada masa sekarang, sebenarnya ibadah yang dilakukan Kakek ini adalah bentuk ibadah yang biasanya dilakukan umat islam pada umumnya. Akan tetapi, diceritakan pada cerpen tersebut bahwa sepeninggal kakek—surau tidak lagi terawat, saya menilai pada saat itu A.A. Navis ingin menunjukkan bahwa masih jarang ditemui orang yang beribadah dan mengurus tempat peribadatan mereka.

Sepeninggal Kakek, surau itu kehilangan penjaganya. Bahkan, surau tersebut digunakan sebagai wahana bermain bagi anak-anak, lalu papan dinding dan lantainya dicopoti perempuan yang kehabisan kayu bakar. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah fenomena dehumanisasi. Dikutip dari Laisa (2018) dalam Dictio,  dehumanisasi diartikan sebagai kemerosotan tata nilai. Tata nilai yang merosot ini bukan hanya perihal hubungan manusia yang tidak saling memanusiakan, tetapi kemerosotan ini terjadi pada sebuah budaya dan agama. Kemerosotan Tata nilai yang dimaksud adalah sebuah ketetapan, kebaikan, kebenaran, dan nilai-nilai luhur pada sebuah budaya dan agama yang mengalami penurunan.

Hakikatnya, surau adalah tempat untuk mengaji, salat, dan saling berbagi ilmu mengenai keagamaan. Akan tetapi, karena dipengaruhi oleh zaman yang kian berkembang, budaya-budaya yang ada tersebut dikatakan hilang berangsur-angsur dan menyisakan surau yang menunggu waktu untuk roboh. Jelas bahwa terdapat dehumanisasi budaya pada cerpen tersebut.   Nilai-nilai luhur yang termasuk dalam humanisasi justru bergeser menjadi dehumanisasi. Dehumanisasi ini  juga disebabkan oleh masyarakat sekitar yang digambarkan tidak peduli dengan keberadaan surau. Mereka digambarkan sebagai masyarakat yang  masih terfokus pada kehidupan mereka masing-masing dari segi sosial dan ekonomi. Berbeda dengan realita saat ini, justru tempat ibadah adalah bangunan yang sering dicari dan sudah menjadi hal pokok untuk dibangun terutama di lingkungan pedesaan.

Suatu hari, seperti biasa, tokoh ‘Aku’ mengunjungi Kakek untuk memberinya uang. Akan tetapi, tidak biasanya, Kakek terlihat murung dengan pandangan sayu dan bertopang dagu. Seketika tokoh ‘Aku’ melihat ada pisau cukur tua dan pengasah berserakan di lantai, tokoh ‘Aku’ bertanya dan ternyata pisau itu milik Ajo Sidi. Ajo Sidi diceritakan sebagai tokoh yang pembual. Ajo Sidi bisa dikatakan sebagai penyebab konflik dalam cerita pendek ini karena ia adalah penyebab awal mengapa Kakek murung.

Kakek mulai menceritakan kekesalannya terhadap Ajo Sidi. Ia menahan geram. Ia ingin marah, tetapi takut apabila ibadatnya, tawakalnya, dan amalan baiknya berkurang hanya karena marah. Sebelum bercerita, Kakek memberikan pertanyaan-pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena sudah terkandung dalam pertanyaan itu sendiri.

 

Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku? (Navis, 2010: 142).

           

Dari dialog yang dikatakan Kakek memberikan kesimpulan bahwa kehidupan yang ia jalani sudah berjalan sedari dulu. Berarti bahwa ia selalu menikmati hidupnya sebagai penjaga surau, pengasah garin, dan sosok yang taat beribadah.

           

Sedari muda aku di sini, bukan? Tak ku ingat punya isteri, punya anak, punya keluarga sendiri seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupanku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu Wataala (Navis, 2010: 142).

 

Dari dialog tersebut, menunjukkan adanya nilai religius dan nilai sosial. Berulang kali Navis ingin menunjukkan bahwa karakter Kakek yang taat beragama sangat kuat sehingga seringkali disinggung. Akan tetapi, saya juga menilai bahwa ada kemirisan dibalik nilai religius itu, yaitu perlunya kebutuhan sosial. Memiliki keluarga dan hidup yang layak adalah impian semua orang. Setiap orang tentunya memimpikan kehidupan yang imbang antara akhirat dan dunia, tetapi Kakek berbeda. Ia tidak mementingkan relasinya dengan orang-orang disekitarnya termasuk kebutuhan pribadinya. Hal tersebut tentu saja terdengar menyimpang jika kita bandingkan dengan realitanya, di mana setiap orang pasti tetap ingin memiliki kerabat terdekat untuk menemani hidupnya.

Kakek mulai mengisahkan bualan Ajo Sidi. Pada suatu waktu, Tuhan dan malaikat sedang memeriksa para hambanya yang berpulang, salah satunya adalah Haji Saleh. Haji Saleh diceritakan sebagai sosok yang taat beribadah selama di dunia. Jadi, ia tidak takut apabila diperiksa karena ia sudah yakin akan dimasukkan dalam surga. Wajahnya semakin angkuh, badannya tegap, senyumnya menyungging ketika melihat orang-orang disekitarnya masuk ke neraka, sedangkan tangannya melambai kepada mereka yang dimasukkan dalam surga. Dari sini, Navis ingin menunjukkan keegoisan dan kesombongan seseorang yang biasanya telah merasa tinggi dari orang lain.

Setibanya Haji Saleh diperiksa, ia menjawab pertanyaan Tuhan dengan lugas dan mantap. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Haji Saleh, mengagung-agungkan Tuhan dengan amalan yang ia lakukan selama hidup. Akan tetapi, Tuhan terus memberikan pertanyaan tentang apa saja yang ia lakukan selama di dunia, jawabanya tetap sama; beribadah, mengagung-agungkan Tuhan, membaca kitab, dan berdo’a.

Haji Saleh dimasukkan dalam neraka. Ia merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia bersama orang-orang lainnya bermaksud untuk mengadakan demonstrasi terhadap Tuhan. Sedikit lucu ketika saya membaca bagian ini. Istilah demonstrasi biasanya digunakan dalam politik atau untuk menyuarakan sesuatu di dunia nyata, tetapi Navis memberikan gambaran demonstrasi antara hamba dengan Tuhannya.

Tuhan kembali memberikan pertanyaan, tetapi mereka tetap menjawab bahwa apa yang selalu mereka pikirkan adalah beribadah dan terus beribadah. Hingga pada akhirnya, Tuhan memberikan penjelasan dan penegasan.

 

Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. dan engkau lebih suka berkelahi antar dirimu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semua beramal kalau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak (Navis, 2010:148).

 

Kutipan dialog tersebut menunjukkan adanya dehumanisasi terhadap agama sekaligus penegasan kebutuhan sosial yang seharusnya. Dalam cerpen tersebut, Tuhan tidak hanya menginginkan hambanya beribadah untuk akhirat, tetapi juga dunia. Memang, terutama dalam agama islam, beribadah hukumnya wajib, tetapi memuliakan orang lain juga penting. Presepsi ibadah dalam cerpen tersebut terlihat menyimpang. Ibadah yang baik adalah yang dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang sekitar sehingga tidak menimbulkan kesengsaraan dan kemelaratan. Mengingat bahwa Tuhan selalu memberikan kenikmatan di dunia yang juga harus dimanfaatkan dengan sesama. Karakter Haji saleh juga menunjukkan sikap egois karena meninggalkan anak dan istrinya sengsara di dunia.

Di samping itu, saya menjadi teringat mengapa cerpen tersebut sempat mengundang kontroversi. Apabila di baca dengan kacamata orang awam pada saat itu, dialog yang dikatakan Tuhan tersebut termasuk mencemooh karena dapat memengaruhi umat manusia. bagaimana tidak? Pada cerpen tersebut, digambarkan jelas bagaimana sifat yang dimiliki Tuhan, lalu bagaimana Navis dengan mudahnya dapat memberikan pendapatnya tentang surga dan neraka. Orang-orang, terutama yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan akan memberikan kesan yang kurang enak terhadap karya ini.

Kemudian, waktu dalam cerita sudah menunjukkan keesokan harinya. Pada saat tokoh “Aku” turun dari rumah pagi-pagi, sang istri menanyakan apakah ia tidak pergi menjenguk. Tokoh “Aku” terkejut karena mengetahui kabar Kakek yang meninggal di suraunya dengan cara bunuh diri, yaitu menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Tentu saja akhir cerita tersebut berhasil membuat tercengang para pembaca. Plot twist yang diberikan Navis bisa dikatakan mengangkat isu yang sangat sensitif karena berkaitan dengan nilai religiusitas. Bagaimana bisa Kakek yang terkenal taat dan istiqomah seketika memilih mengakhiri hidup karena bualan seseorang? bukankah ending cerita ini dibuat begitu miris?

Akan tetapi, Navis mampu memberikan makna tersirat bahwa bagaimanapun maksud perkataan yang disampaikan, harus bisa disesuaikan dengan siapa dia berbicara. Alangkah lebih baik apabila topik yang ingin dibicarakan tidak membuat lawan bicaranya tersinggung, lewah pikir, dan memicu presepsi yang berbeda-beda.

Belum sampai disitu, nilai sosial masih dapat ditemukan dipenghujung cerita.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ajo Sidi sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis” (Avis, 2010:149).

Kutipan dari cerpen tersebut menunjukkan adanya penyimpangan nilai sosial. Tokoh Ajo Sidi diceritakan tidak memiliki rasa bersalah, dibuktikan dengan Ia yang tetap berangkat bekerja dan hanya meninggalkan pesan. Entah apa yang membuat Navis tidak membebankan pikiran dan perasaan pada tokoh Ajo Sidi. Akan tetapi, saya menilai bahwa hal tersebut dilakukan agar cerita ini tidak hanya terfokus pada sebuah penyesalan atau kesedihan, karena apabila melihat dari alasan Navis menulis Robohnya Surau Kami, fokus dari cerita tersebut justru pada cerita Haji Saleh. Saya menyimpulkan apabila Ajo Sidi digambarkan sebagai sosok yang menyesal dan sedih, maka bualannya tentang Haji Saleh tidak akan memiliki makna sedalam itu. Secara tidak langsung, Navis seperti ingin menunjukkan bahwa masih banyak sekali orang-orang seperti Haji Saleh, yaitu mementingkan kemuliaan dirinya sendiri. Dengan harapan bahwa kisah yang ditulisnya dapat menyadarkan banyak orang yang masih memiliki presepsi tidak tepat mengenai agama.

Navis juga adil dalam menghidupkan karakter dalam cerita. tokoh “Aku” dibuat sebagai penyambung dari setiap kejadian dalam cerita dan memiliki energi positif. Lalu, tokoh Kakek yang saya kira memiliki karakter paling kuat, justru dibuat mati mengenaskan. Seolah memberikan gambaran bahwa orang yang sebaik apapun tetapi tidak disertai dengan aktualisasi diri yang baik, serta  kebutuhan sosial yang sesuai, akan menjadi boomerang bagi diri ia sendiri. Haji Saleh yang merupakan bualan dari Ajo Sidi adalah contoh dari sebagian orang yang menempuh jalur tidak tepat dalam beribadah. Terakhir, Ajo Sidi digambarkan sebagai sosok pembual yang selalu merasa benar. Ia selalu menganggap bahwa semua orang dapat menerima bualannya dengan lapang dada, tetapi ia lupa bahwa tidak semua topik bualannya dapat diterima. 

A.A. Navis berhasil menyuguhkan karya yang tidak hanya menarik dari penggunaan bahasa atau unsur intrinsik didalamnya. Akan tetapi, ia berhasil mengangkat isu-isu sensitif disertai satir-satir yang tidak semua orang bisa menerimanya. Penyimpangan atas nilai-nilai moral yang ada dalam cerpen tersebut dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi para pembaca. Oleh karena itu, pantas saja apabila cerpen ini meraih beberapa pernghargaan hingga mengalami belasan kali cetakan ulang.

Komentar